Membangun Karakter Positif pada Anak, Ketahui Masalah dan Cara Mengatasinya


"Umi sebenarnya enggak pengen marah sama kamu, Nak. Tapi kamu ngeselin banget, dibilangin dari tadi enggak nurut..."

Itu kalimat yang keluar dari mulut saya setelah sebelumnya marah-marah pada si sulung. Sudah surut marahnya saja masih seperti itu kalimat yang keluar. Masih ada pelabelan pada anak. Hufftt.. enggak mudah memang mendidik anak.

membangun karakter positif pada anak


Marah-marah belum bisa lepas dari keseharian saya saat ini dalam membersamai tumbuh kembang keempat anak saya. Sudah sering saya membaca tulisan-tulisan parenting tentang dampak buruk marah bagi tumbuh kembang anak. Tapi.. untuk menghindari emosi negatif itu tampaknya masih susah bagi saya. Ada saja faktor-faktor pencetusnya.

Misalnya, ketika sudah berniat enggak marah pada si sulung, tak disangka si nomor dua memancing emosi kakaknya, lalu si kakak membentak-bentak si adik, dan saya pun justru tersulut amarah juga. Atau, ketika saya sudah berusaha menahan amarah, tiba-tiba suami yang tersulut emosi melihat tingkah si kakak yang menggoda kedua adiknya. Hemm.. seperti lingkaran api.

Menghadapi situasi seperti ini dari hari ke hari, sembari membaca artikel-artikel parenting seperti yang ada di The Asianparent Indonesia, juga sesekali mengikuti webminar maupun online meeting soal parenting, saya terus berusaha memperbaiki diri dan keluarga. Bagaimanapun saya resah dengan situasi dan kondisi seperti itu. Saya enggak ingin hal itu berlangsung terus-menerus. Saya harus mengubahnya. 

Baca juga: Tantangan Mendidik Anak Zaman Now.


Masalah-masalah yang Muncul dalam Proses Membangun Karakter Positif Anak

Menurut pengalaman saya pribadi, membangun karakter positif anak tidak semudah menyusun balok-balok mainan menjadi bentuk yang diinginkan. Ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi sukses tidaknya usaha itu. Masalah-masalah sering sekali muncul, yang dapat merusak bangunan yang baru dalam proses berjalan. Melukai hati anak, membuat orang tua sedih, dan sebagainya.


Emosi Negatif dari Masa Lalu

Masing-masing kami, suami-istri, punya masa lalu yang pastinya berbeda satu sama lain. Masing-masing membawa ransel emosi negatif dari masa lalu, sejak usia kanak-kanak hingga dewasa. Entah itu marah, dendam, kecewa, merasa diabaikan, tidak diakui, dan lain sebagainya. Pola asuh dari masing-masing orang tua kami, juga (kadang tanpa sadar) turut mewarnai bagaimana tingkah laku kami di masa kini.

Emosi-emosi negatif yang selama ini mungkin terpendam dapat meledak sewaktu-waktu. Seperti misalnya, dulu waktu kecil saya sering dilarang melakukan ini dan itu, lalu saya memendam amarah dan semacam dendam. Emosi itu kemudian kadang terlampiaskan pada anak-anak ketika mereka membuat hati saya jengkel. Dampaknya, hati anak terluka.

Lalu bagaimana bisa membangun karakter positif dengan mudah jika hati anak sudah terluka?

Baca juga: [Review] Anger Management: Kelola Amarah untuk Menuai Manfaat.


mendampingi anak belajar
Mendampingi anak belajar, dengan kasih sayang.


Anak Kecil Mengasuh Anak Kecil

Dengan membawa emosi dari masa kecil, seperti kata ibu Elly Risman (psikolog anak), tanpa sadar kami - orang tua - seperti anak kecil yang mengasuh anak kecil di masa kini. Ya, kami sama-sama anak kecil. Yang masih sering marah, saling mengolok, memberikan pelabelan pada anak, dan sebagainya.

Hal ini menjadi masalah yang mengganggu proses membangun karakter positif pada anak. Dimana kami sebagai orang tua kadang tak bisa berempati pada masalah yang dihadapi anak. Kadang kami tak peka pada perasaan anak.


Campur Tangan Kakek-Nenek

Kami tinggal serumah dengan kakek-neneknya anak-anak (orang tua saya). Dan seperti lazimnya orang tua zaman dulu, pola pengasuhannya banyak yang tidak sesuai dengan keinginan saya dan suami. Misalnya si kecil menangis karena digoda kakaknya, maka nenek dan kakeknya akan buru-buru menjauhkan si kakak dari adiknya, kemudian melabeli si kakak dengan label yang buruk.

Atau, jika ada masalah pada anak, kakek nenek kadang menghakimi anak di depan kakak/adiknya, juga menasehati saya dan suami di depan anak-anak. Tentu saja sebenarnya kami tak setuju dengan cara seperti ini. Karena cara semacam itu setahu saya dapat merusak rasa percaya diri anak.


Faktor Lingkungan

Ketika anak di luar rumah, entah itu saat belajar di sekolah atau bermain dengan tetangga, tentu saja kami tak bisa mengawasi mereka. Dari bergaul dengan teman-temannya dan interaksi dengan orang dewasa lain, anak-anak dapat melihat, mendengar, dan merasakan hal-hal baik ataupun buruk. Seringkali karakter anak juga terbentuk dari interaksi di lingkungan luar rumah tersebut.

Kadang, tingkah laku teman-temannya tidak sesuai dengan norma-norma yang kami ajarkan di rumah. Seperti misalnya, kami wanti-wanti mereka agar saling sayang dengan teman-temannya. Tapi ternyata, di sekolah ada beberapa temannya yang suka mengolok-olok teman lain. Mau tidak mau anak juga tertular sedikit demi sedikit, dan imbasnya ke saudara-saudaranya di rumah.

 

Karakter-karakter Positif yang Ingin Kami Bangun

Seperti yang digalakkan oleh sekolah kedua anak saya, kami (setidaknya) ingin membentuk karakter SMART pada anak-anak kami, yaitu Sholih, Muslih, Amanah, Ramah, dan Terampil. Karakter Sholih yang kami maksud adalah seperti dapat melaksanakan sholat 5 waktu dengan baik, bisa gerakan wudhu dengan urutan yang benar, dll. Karakter Muslih yaitu tentang kepemimpinan, cakap membereskan mainan, membersihkan kotoran, dll.

Lalu karakter Amanah yaitu terbentuknya sikap jujur, disiplin, percaya diri, dan tanggung jawab. Karakter Ramah adalah seperti berakhlak yang baik (berbuat dan berkata baik), atau cinta lingkungan. Sedangkan karakter Terampil adalah tentang keterampilan belajar dan keterampilan bahasa.

Karakter-karakter itu senada juga seperti pada artikel yang saya baca di The Asianparent Indonesia tentang tips mendidik anak yaitu membentuk karakter anak sejak dini. Karakter anak yang jujur, berpikir positif, dan tangguh ingin saya sematkan pada diri anak-anak kami.Seperti membiasakan anak berpikir positif pada apa saja yang terjadi pada kehidupan kami, apa saja yang kami punyai dan belum kami punya. Bersyukur atas apapun pemberian-Nya.

Baca juga: Pengembangan Karakter SMART Bagi Anak.


saudara kandung
Keempat buah hati kami.


Cara Membangun Karakter Positif Anak

Dengan berbagai masalah yang merintangi, saya dan suami tetap berusaha untuk membangun karakter positif anak. Ada beberapa hal yang kami lakukan saat ini. Yaitu sebagai berikut:

 

Komunikasikan dengan Pasangan

Komunikasi memang kunci utama dalam segala permasalahan keluarga, termasuk soal anak. Emosi yang ada di ransel kami masing-masing, yang kami bawa sejak kecil itu, harus saling kami utarakan satu sama lain, lalu berdiskusi bagaimana sebaiknya yang harus dilakukan untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi beban emosi negatif yang ada. Kami sering mendiskusikan masalah ini saat sesi pillow talk di malam hari, atau bahkan saat memasak bersama di dapur.

Kemudian, jika ada anak kami yang sedang "bermasalah" saya akan mengkomunikasikannya pada suami. Misalnya, kenapa si sulung susah sekali kalau disuruh shalat dan mandi? Kenapa sering sekali menunda-nunda? Apa sebabnya? Apakah kami orang tuanya tanpa sadar telah memberi contoh yang buruk mengenai hal itu? Lalu bagaimana cara mengubah kebiasaan buruknya itu? 

Berkomunikasi dengan pasangan harus dicari waktu yang tepat, juga cara penyampaian yang baik. Kadang, meski kita sudah sama-sama komit di awal tentang bagaimana cara mengasuh anak, tapi jika salah satu sedang kurang baik emosinya, bukan solusi yang didapat, tapi malah keadaan yang semakin buruk. So, kami juga terus belajar bagaimana berkomunikasi yang baik demi membangun karakter positif anak.


Komunikasikan dengan Anak

Selain dengan pasangan, anak juga harus diajak berkomunikasi mengenai perkembangan emosi mereka, tingkah laku/perilaku mereka, lalu bagaimana solusinya jika perilaku anak menyimpang. Misalnya anak bertengkar dengan adiknya, lalu marah-marah dan berakhir dengan mengunci diri di kamar. Kami mencoba menanyakan baik-baik mengapa dia melakukan hal itu. Kami pancing supaya mau mengeluarkan uneg-unegnya.

Kemudian kami cari solusinya, dengan mengajak duduk bersama antara dua anak yang bertengkar, saling meminta maaf, dan berjanji tak akan mengulangi lagi.

Baca juga: Mewujudkan Sibling Goals.


Teladan yang Konsisten

Sudah dipahami bersama bahwa teladan dari orang tua sangat mudah ditiru anak. Maka sebagai orang tua kami pun harus berusaha memberikan teladan yang baik pada setiap kesempatan, dan sampai kapanpun. Sulit? Banget.

Apalagi jika hati sedang sempit, segala emosi negatif bercokol di dada. Kemudian outputnya kita jadi marah-marah, cuek, tidak perhatian pada anak, dan sebagainya. Tapi bagaimanapun semua harus diusahakan.


Latih dan Kontrol Secara Kontinyu

Pembentukan karakter positif pada anak harus dilakukan secara terus-menerus. Anak kita latih melakukan satu kebiasaan baik selama beberapa waktu, sehingga nantinya akan terbentuk karakter baik tersebut.

Misalnya karakter tanggung jawab dapat kita latih melalui membereskan mainan setelah bermain. Hal ini harus dilakukan anak terus-menerus selama satu minggu atau mungkin satu bulan, hingga anak benar-benar telah terbiasa. Tanpa disuruh pun dia sudah otomatis merapikan mainannya setelah selesai bermain. So, melatih anak melakukan kebiasaan baik dan mengontrolnya secara kontinyu sangat diperlukan jika kita ingin membangun karakter-karakter yang positif pada anak.


Berdoa

Benteng utama sekaligus pamungkas dalam usaha membangun karakter positif itu adalah dengan berdoa. Kami mohonkan pada Allah ta'ala agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang shalih/shalihah, yang di dalam dirinya terdapat karakter-karakter yang baik.


Itulah beberapa cara membangun karakter positif pada anak ala kami (saya dan suami). Tapi, yah, itu semua tak mudah bagi kami untuk melakukannya. Kami masih berjuang keras untuk menapaki proses-proses itu. Hanya usaha dan doa yang bisa terus kami lakukan. Seperti kata Ibu Elly Risman:

Parenting is all about wiring. Membentuk kebiasaan meninggalkan kenangan.


Ya, semoga, sebagai orang tua zaman now, kita tidak lagi mengulangi model pengasuhan yang bergaya memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, mencap/melabeli, mengancam, menasehati, membohongi, menghibur, mengeritik, menyindir, maupun menganalisa tingkah laku anak. Namun membangunnya dengan meninggalkan hal-hal buruk dari masa lalu, dan membangun kebiasaan-kebiasaan baik hingga terwujud karakter-karakter anak yang positif. 

Dan semoga, kami bisa menjadi pribadi yang merdeka dalam mengasuh anak, serta bisa mewujudkan anak-anak yang shalih/shalihah dan tangguh di masa depan. Aamiin.



14 comments

  1. MasyaAllah Mbak, makasih udah berbagi melalui artikel ini, aku saved nih buat kapan2 aku baca lagi, sebagai bekal kan insyaAllah hehe. Semenjak teman2 banyak yg mulai menikah, aku juga jd sering membaca parenting ini yg memang tentunya susah, maka dr itu nggak salah ya kalau pernikahan betul menyempurnakan setengah ibadah :D

    ReplyDelete
  2. Anak kecil mengasuh anak kecil. Nah ungkapan yang cocok nih untuk ibu baru yang belajar menjadi ibu. Pasti masih ada trauma masa kecil.

    ReplyDelete
  3. model pengasuhan yang bergaya memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, mencap/melabeli, mengancam, menasehati, membohongi, menghibur, mengeritik, menyindir, maupun menganalisa tingkah laku anak.

    Ini semua udah kami lakukan, mba. Pantesan anakku jadinya acakadut. wkwkw.

    ReplyDelete
  4. Karakter anak memang tanggung jawab orangtua. Namun terkadang kebanyakan orangtua banyak yang abai terhadap ini. Padahal partisipasi anak adalah langkah awal untuk membangun karakter anak.

    ReplyDelete
  5. asik dapat ilmu lagi. Makasih sharingnya, Mbak. Aku masih enggak kebayang, akan jadi orangtua seperti apa aku nantinya, mengingat mental aku aja kadang masih blom stabil. Tapi pastinya aku selalu percaya, semua orangtua pasti menginginkan yang terbaik buat anaknya

    ReplyDelete
  6. alhamdulillah, saya berempat aja ama anak bini, jadi semuanya ada ditangan kami. Ya ada ngga enaknya juga sih, soal repot dan pengawasan dst. Tapi bismillah aja, baca2 tulisan seperti ini jadi menginspirasi dan memotivasi.

    ReplyDelete
  7. membangun karanter positif tentu jadi PR orang tua yang harus dilakukan secara bertahap dan terus menerus supaya lebih baik. Tentu harus konsisten ya kak... asik juga ini artikelnya

    ReplyDelete
  8. Nampol banget deh baca tulisan Mbak Diah sebab kami selama ini juga masih melakukan kesalahan yang sama: membentak, membandingkan dengan sodara atau anak lain hingga terpaksa mencubit.
    Itulah kenapa kami kayaknya nggak akan nambah anak lagi, dua ini aja kami kewalahan dan merasa gagal jadi ortu hiks.
    Semoga kami bisa memperbaiki pola asuh kami yang salah ini aamiin YRA.

    ReplyDelete
  9. Terima kasih banyak tipsnya Mbak Diah, ini sangat penting buat keluarga muda neh, jangan sampai ngejarnya duit dan mengabaikan anak-anak

    ReplyDelete
  10. masya Allah empat bersaudara , ini seperti nya mamahku meraskan hehe tapi dulu mungkin , sekarang alhamdulillah sudah beranjak tua, dewasa dan remaja ..terimakasih lho teh sharing nya , ini aku save buat nanti aku berkeluarga dan punya anak

    ReplyDelete
  11. Iya, anak-anak selalu bercermin ke orang tua, apa yang orang tua lakukan pasti ditiru,

    ReplyDelete
  12. Menjadi orangtua berarti menjadi pribadi pembelajar yang abadi.
    Senang sekali mendapat insight yang bagus dari blog kak Deka mengenai pengasuhan.
    Masih tertatih, tapi gak berputus asa pada doa dan harapan kepada Allah.

    Tabarakallahu...

    ReplyDelete
  13. Barokallah mba Deka, ulasananya lengkap banget bisa buat aku belajar yang belum ada anak ini untuk memersiapkan diri. Sementara ngurus mertua sepuh dulu, kesabaran dan praktinya bisa diterapkan ke anak ya Mba. Makasih tipsnya.

    ReplyDelete
  14. Setiap membahas tentang pendidikan karakter anak; mengelola emosi negatif ortu dan anak selalu mengingatkan saya pada Nanny 911. Acara parenting di tahun 2000an yang tayang di salah satu stasiun tv swasta. Pesan utama dari pendidikan parenting Nanny 911 adalah benahi dulu komunikasi pasangan agar seia sekata dalam mendidik anak. Ini bener banget menurut saya. Pola asuh ditentukan kematangan orangtua dalam berkomunikasi di antara mereka yang kemudian berpengaruh pada komunikasi ortu pada anak-anaknya.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.