Pages

[Review] Anger Management: Kelola Amarah untuk Menuai Manfaat


Berkali-kali saya bilang ke teman-teman lama yang bertahun tak jumpa, bahwa saya yang sekarang beda dengan yang dulu. Saya bukan anak perempuan atau remaja putri yang lemah lembut dan pendiam lagi. Tapi, kini saya sering berubah menjadi "singa" di rumah. Hahaha.

Dulu sebelum menikah, bukannya saya enggak pernah marah. Kadang, ada saja hal-hal yang membuat saya bisa saja menjadi marah. Tapi dulu emosi itu seringkali saya pendam saja. Saya tahan amarah di depan orang lain. Beda dengan sekarang, saat saya sudah menikah dan kini telah mempunyai empat orang anak. Mungkin salah satu penyebab saya sering marah adalah kerempongan aktivitas sehari-hari. Hehe. Emosi saya seringkali meledak-ledak. Amarah saya seringkali lepas begitu saja, enggak mau saya tutup-tutupi. Ya, kadang saya seperti singa 😄.



Saya merasa beruntung bisa mendapatkan buku berjudul "Anger Management, The Life Skill" seperti dalam foto di atas. Buku yang ditulis oleh pasangan suami-istri Dandi Birdy dan Diah Mahmudah ini ternyata memberikan banyak ilmu baru buat saya, khususnya terkait emosi amarah.

FYI, pasangan suami-istri Dandi dan Diah ini keduanya merupakan psikolog yang mendirikan biro psikologi PT. Dandiah Selekta Persona yang selanjutnya disebut DANDIAH. Mereka berdua sudah belasan tahun berkecimpung dalam pengembangan sumber daya manusia di perusahaan, berpengalaman menangani permasalahan parenting, pernikahan, dan lain-lain yang terkait psikologi. 

Buku Anger Management ini merupakan semacam rangkuman ilmu mengelola emosi amarah yang telah dilakukan di banyak workshop di kota-kota di Indonesia, juga telah diaplikasikan di ragam setting peran dan kalangan.

Mengetahui latar belakang lahirnya buku ini, saya jadi berharap banyak sejak awal menerima buku ini. Berharap, emosi amarah saya yang sering meledak-ledak akhir-akhir ini bisa lebih terkontrol. Syukur-syukur dapat menuai manfaat 🤗.


Baca juga: Laskar Pelangi, Buku Penyuntik Semangat Hidupku.


Blurb buku Anger Management, The Life Skill.


Bolehkah Marah?

Anak pertama dan kedua saya yang masih SD dan TK sering menghafal sebuah hadits:
"La tahdhob walakal jannah"
(Artinya: Jangan marah, maka bagimu syurga).

Kalimat itu sering mereka ucapkan selain karena tugas menghafal dari sekolah, juga untuk menegur orang-orang rumah yang sedang marah termasuk saya. Hihihi. Iya, jangan marah, kata mereka. Eh, itu sabda Rasulullah Muhammad SAW, lho.

Nah, jadi sebenarnya, boleh enggak, sih, marah itu? Marah, kan, manusiawi banget?

Dalam buku ini, ada sebuah kutipan dari buku The Purification of The Heart karya Hamza Yusuf di halaman 156, bahwa kalimat "jangan marah" maksudnya adalah tidak membiarkan kemarahan menguasai seseorang dan membuatnya kehilangan tata krama. Kendalikan amarah dan jangan pernah kehilangan kendali. Kemarahan adalah sesuatu yang perlu dilatih, bukan dihapuskan, sebab jika manusia benar-benar menekan rasa amarahnya, banyak ketidakadilan di dunia ini tidak akan dilawan dan tirani akan dibiarkan berkuasa tanpa koreksi. (hlm. 71-72).

Intinya, boleh marah karena amarah merupakan emosi yang Allah ciptakan kepada jiwa-jiwa manusia. Amarah merupakan salah satu fitrah manusia. Amarah yang tidak diperbolehkan adalah yang berlebihan, yang tidak ada manfaat dan membuat kerusakan.

Lho, memangnya marah bisa bermanfaat? 
Eh, ternyata marah ada manfaatnya, lho! Diantaranya seperti kutipan di atas, bisa melawan ketidakadilan atau melawan tirani. Manfaat lainnya:
"Amarah yang dikelola baik ternyata memiliki efek positif, yaitu meningkatkan kemampuan bertindak tegas, kemampuan bernegosiasi dan kemampuan memotivasi diri menuju perubahan yang lebih baik." (hlm. 110)

Wah, kalau begitu, kita harus bisa mengelola emosi marah agar bermanfaat, ya. Iya, mari kita belajar dari buku Anger Management, The Life Skill ini 😊.


Amarah dan Ransel Emosi

Setiap orang pasti pernah mengalami ragam emosi, baik positif maupun negatif. Salah satu emosi negatif adalah amarah. Setiap orang pun berbeda-beda dalam memperlakukan amarahnya. Ada yang dipendam saja (seperti saat saya belum menikah dulu), ada pula yang ditumpahkan apa adanya. Bahkan ada yang merusak seperti membanting barang, melukai orang lain, dan sebagainya.
Amarah adalah matinya akal. Jika tentara akal lemah, maka tentara setan akan melancarkan serangan. (hlm. 70)

Banyak orang yang memendam amarahnya. Rasa kecewa, sakit hati, dan emosi-emosi lain dari masa lalu hingga saat ini dipendam hingga mereka seperti membawa "ransel emosi" ke mana-mana. Sesungguhnya, ransel emosi itu siap meledak kapan saja di mana saja, bahkan karena terpantik oleh hal-hal yang sepele. Dan ternyata, amarah yang dipendam tidak baik untuk kesehatan mental dan fisik.
Sejatinya, apa-apa yang seharusnya dibuang namun kita tahan, maka akan menjadi sampah negatif yang berefek membahayakan tubuh dan jiwa. (hlm. 35)
Emosi yang terpendam dan tidak dialirkan dengan baik bahkan dapat menyebabkan psikosomatis seperti maag, vertigo, migrain, asma, alergi bahkan kanker. (hlm. 78)
Psikosomatis sama halnya dengan buah dari kegagalan mengatasi emosi. Dimana kondisi seseorang mengalami sakit fisik padahal penyebab utamanya adalah tidak tuntasnya emosi amarah yang terus dipendamnya. (hlm. 78)

Dalam buku ini berkali-kali ditegaskan, bahwa amarah itu jangan dialihkan, melainkan harus dialirkan. Selama ini saya sering salah, bahwa seringkali berusaha melupakan amarah akibat rasa kecewa, marah dengan seseorang, dan lain-lain. Ternyata yang benar, amarah itu harus dialirkan. Namun harus dialirkan secara benar.


Bagaimana Cara Mengelola Amarah dengan Benar?

Dalam buku ini ada poin-poin penting tentang bagaimana seharusnya menghadapi atau mengelola amarah. Seperti bagaimana harus belajar menjadi pribadi yang asertif, dan harus mengalirkan amarah secara benar, yaitu benar kadar dan benar konteksnya.
Orang disebut cerdas mengelola dan mengolah amarah jika orang itu mampu mengalirkan amarah dengan ekspresi yang benar. Benar kadar dan benar konteks (baik waktu juga tempat). (hlm. 90).

Kemudian cara mengalirkan amarah dengan benar adalah melalui beberapa tahap, yaitu:
  • Konsep 4A: Tahapan aliran rasa dan emosi
  • Kosongkan ransel emosi
  • Anger management tips
  • Refleksi: keajaiban luruhnya kemarahan

Konsep 4A adalah Aware, Accept, Allow, dan Away. Sedangkan mengosongkan ransel emosi dengan pendekatan yang berbasis pada 5 pilar yaitu emosional, kognisi, fisik, spiritual, dan sosial. Tahapan ini dilakukan dengan terapi SEHAT (Self Healing Therapy). Selanjutnya anger management tips diantaranya dilakukan dengan "Butterfly Hug".

Tahapan-tahapan tersebut dijelaskan secara detail dan lengkap, sehingga pembaca dapat mempraktikkan sendiri di rumah. Namun jika ada hambatan atau ingin berkonsultasi lebih lanjut, bisa menghubungi profesional (psikolog atau psikoterapis).

Jadi kesimpulannya, apa sih anger management itu? Oke, saya kutipkan beberapa penjelasan dari buku ini, ya.
Anger management adalah belajar mengekspresikan marah dengan benar dan belajar mengolah energi besar itu agar bermanfaat, bukan merusak. (hlm. 90)
Anger management adalah salah satu upaya membersihkan hati dari berbagai nafsu amarah berkepanjangan, sehingga hati tidak menyimpan lagi berbagai penyakit hati, dan anger management ini pun sebagai upaya nyata untuk menutup pintu masuk setan ke hati kita. (hlm. 99)

Baca juga: [Review] Semangat Membatu: Official Story Timnas U-19.



Plus Minus Buku Anger Management, The Life Skill

Saya senang bisa membaca buku "Anger Management, The Life Skill" ini. Banyak ilmu baru yang saya dapatkan, termasuk pola pikir yang benar mengenai emosi amarah. Tapi, izinkan saya untuk membuat sedikit catatan tentang plus dan minus buku ini. Jadi, menurut saya berikut ini plus dan minusnya:

Plus
👍 Isi buku gampang dicerna. Orang yang awam masalah psikologi (seperti saya) pun gampang mengikuti alur tulisan di buku ini. Bahasanya simpel dan interaktif, jadi pembaca seperti diajak ngobrol sama penulisnya.

👍 Terdapat halaman-halaman "Ruang Rasa" untuk menuangkan perasaan pembaca. Ini memberikan ruang buat pembaca untuk menuangkan uneg-uneg atau curhat terkait emosi amarah. Dengan adanya ruang ini, bisa digunakan sebagai langkah awal memahami amarah pembaca sendiri sebelum melakukan anger management.

👍 Tampilan fisik bagus. Buku ini dikemas dengan cukup eksklusif. Isi bukunya menggunakan kertas HVS 80 gsm (cukup tebal), cukup banyak gambar dan ilustrasi pelengkap yang manis, dengan menggunakan warna orange sebagai perpaduan dari warna hitam dan putih. Kemudian ada pembatas buku yang enggak kalah manis (ada kalender tahun 2020 juga, lho 😊). Menurut saya desainnya keren dan menarik.




Minus
👉 Banyak typo atau salah ketik. Sejak awal membaca buku ini (mulai Prolog) hingga akhir (Profil Penulis), tulisan yang salah ketik cukup sering saya jumpai. Yang paling sering adalah kesalahan penulisan awalan di- dan tak adanya spasi setelah tanda tanya. Istilah-istilah bahasa Inggris juga banyak yang dibiarkan saja, tidak dicetak miring (Italic). Mungkin bagi sebagian besar pembaca hal itu tak jadi masalah, namun alangkah baiknya jika pada cetakan selanjutnya diperbaiki agar buku menjadi lebih sempurna 😊.


Beberapa typo.

Demikianlah review saya tentang buku "Anger Management, The Life Skill" karya Dandi Birdy dan Diah Mahmudah ini. Buku yang menarik dan bermanfaat. Recommended bagi teman-teman yang sedang sering marah-marah (seperti saya 😁) akibat kecewa, luka masa lalu, dan sebagainya, atau ingin menjadi pribadi yang lebih berdaya dengan menjadi bijak dalam mengelola amarah.
Terakhir, saya kutipkan lagi beberapa kalimat-kalimat hebat di buku ini, ya 😊.
Orang yang jiwanya bahagia adalah yang memaafkan masa lalu, mensyukuri setiap nikmat di masa kini, serta optimis menatap penuh keyakinan ke masa depan. (hlm. 152)
Control your anger, before it controls you. (hlm. 99)
Control your temper, let go of anger and live a happier life. (hlm. 183)
Don't let the world change your smile, but let your smile change the world. (Faith Eshan Sinatria). (hlm. 154)

Tentang Buku:
Judul: ANGER MANAGEMENT, The Life Skill
Penulis: Dandi Birdy & Diah Mahmudah
Penerbit: Zenawa Media Giditama, Bogor.
Cetakan: Pertama, November 2019
Tebal: 212 halaman
ISBN: 978-623-7306-23-8
Harga: Rp.99.000,00.



Diah Kusumastuti

Saya seorang ibu rumah tangga dengan 4 orang anak, Faiq, Fahima, Fauzia, dan Fahri. Asli Solo tapi sekarang berdomisili di Sidoarjo. Suka menulis tentang apa saja selama itu positif dan sebisa mungkin memberi manfaat bagi yang membaca. Menulis bagi saya adalah sarana refreshing dan agar otak terus bekerja :) Email: d3kusumastuti@gmail.com

8 comments:

  1. Wahhh kereennn sekali mba... Terima kasih, artikel yang sangat saya suka.

    ReplyDelete
  2. kalau dari esensi bukunya sih aku suka nih, marah adalah sesuatu yang manusiawi namun susah dikendalikan. apalagi skala amarah setiap orang berbeda ya kak. yang memiliki amarah kudu bisa menahan diri yang tak sengaja terlampiaskan amarah juga harus punya kesabaran yang luaaassss banget

    ReplyDelete
  3. whuah buku self help dan kompilasi tulisan dari dua orang :3 kalau dilihat sekilas dari cover keliatan biasa saja ya, tapi ngeliat ada ruang rasa dan grafis di dalamnya kok keren-keren. jadi wishlist aku nih, thank ya kak :)

    ReplyDelete
  4. Wah bukunya menarik sih. Tapi ternyata banyak typo ya? Tapi topiknya menarik sih..bagaimana kita mengkontrol emosi kita whaahahaha

    ReplyDelete
  5. Naksir banget sama buku ini.. pengen banget deh belajar lagi bisa mengelola emosi dengan baik, biar hidup lebih tentram dan damai hihi

    ReplyDelete
  6. dSepakat, ada 3 manfaat jika bisa mengelola marah, sebagaimana disebutkan di buku yaitu kemampuan negosiasi, motivasi diri dan apa tadi, ya.... Malah lupa.
    Saya mau usul satu lagi manfaatnya, yaitu mempunyai tenaga ekstra untuk membersihkan dan atau menata ruangan di rumah. hihihi. Itu saya. Saat jengkel, bisa dorong lemari dan menyusun ulang isinya. Jika tidak marah, tidak kuat menggesernya.

    ReplyDelete
  7. Sepertinya saya butuh membaca buku anger management, kasus saya hampir sama dengan mba Deka, sebelum menikah jarang marah tapi sekarang mudah mengaum bagaikan singa terutama pada anak-anak, padahal pengen banget bisa mengelola rasa marah, tapi sulit banget, apalagi kondisi psikis kadang kurang baik karena banyaknya tekanan dan tuntutan pada peran sebagai ibu

    ReplyDelete
  8. Saya butuh banget nih bacaan, asupan gizi buat jiwa yang sering meluap amarah nya.
    Penting sekali buat kita untuk dapat mengelola emosi, agar bisa hidup lebih santai

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.