Memilih Pondok Pesantren, Antara Masa Lalu Orang Tua dan Masa Depan Anak

 

Hari ini, kami sekeluarga mengunjungi sebuah pondok pesantren di dekat tempat tinggal kami. Ya, sekitar 1-2 jam perjalanan dari rumah, lah. Tujuan kami ke sana, kami ingin survei pondok pesantren untuk si sulung.



Yap, sebentar lagi si sulung insyaa Allah akan lulus SD. Dan seperti diketahui, akhir tahun hingga awal tahun seperti sekarang adalah jadwal penerimaan siswa baru baik di jenjang taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga atas. Kami pun mencarikan sekolah lanjutan untuk si sulung yang saat ini duduk di kelas 6 SD.

Kami memang termasuk terlambat dalam hal survei sekolah. Mestinya sudah sejak beberapa bulan lalu kami survei. Karena beberapa pondok pesantren atau sekolah sudah membuka pendaftaran siswa baru sejak bulan September, Oktober, November, atau Desember tahun lalu. Baik membuka pendaftaran indent atau gelombang pertama.

Tapi tak apalah, kami memang baru sempat sekarang ini melakukan survei. Saya dan suami pertama kali tahu tentang pondok itu dari saudara sepupu saya. Pondoknya masih terhitung baru, baru menerima santri sejak tahun 2017 lalu. Saudara saya bilang, meski masih baru tapi pondok ini cukup bagus kualitasnya, karena pembinanya seorang kyai yang sudah memegang jabatan di berbagai organisasi dan yayasan Islam. 

Meski sudah diberi info seperti itu oleh saudara saya, tapi saya dan suami tetap mau survei dulu, dong, bagaimana calon pondok pesantren yang akan menjadi tempat belajar anak kami nantinya. Dan tadi, kami tanya-tanya beberapa hal kepada pengurus pondok. Tentang kurikulumnya, jadwal harian, ekstrakurikuler, dan lain-lain termasuk tentu saja biaya mondok di sana. Hehe. 

Yang terakhir itu sangat penting, sih, karena agar kami bisa tahu, kami mampu enggak menitipkan anak ke sana 😊

Survei pondok pesantren bareng adik-adiknya 😊 


Mengapa Ingin Memasukkan Anak ke Pondok Pesantren?

By the way, kenapa saya ingin memasukkan anak ke pondok pesantren (ponpes)? Bukan ke sekolah umum baik negeri maupun swasta? 

Ada beberapa faktor, sih, ya. Pertama, karena sejak sebelum nikah dulu saya sudah bercita-cita, jika punya anak ingin menyekolahkan anak di ponpes. Saya tuh melihat teman-teman saya yang lulusan ponpes kok keren-keren. Ilmu agamanya bagus, ilmu dunianya juga enggak ketinggalan. Bahkan sebagian sudah punya keahlian khusus setelah lulus dari ponpes.

Kedua, karena saat ini anak-anak kami bersekolah di SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu), jadi saya kok merasa "eman" kalau enggak melanjutkannya ke sekolah Islam atau ponpes. Hafalan Al-Qur'an-nya sudah lumayan banyak, eman kalau enggak diteruskan. Ilmu agama yang didapat dari SD juga takut menguap kalau enggak dilanjutkan di SMP.

Kenapa enggak memilih sekolah Islam yang pulang-pergi setiap hari? Nah, ini juga ada beberapa alasan yang menjadi alasan kami. Seperti agar si sulung bisa berkurang interaksinya dengan handphone dan laptop, agar lebih fokus belajar karena kalau di rumah harus bantu-bantu pekerjaan rumah dan berisiknya adik-adik (hihi..), dan lain-lain.

Yah, itulah sebagian alasan kami. Namun, alasan pertama sepertinya yang paling mendominasi keinginan kami. Iya, suami juga sangat ingin anak-anak kami mondok.

Kalau suami, masih mending dulu dia bersekolah di MI, MTs, dan MAN, yang kesemuanya adalah sekolah Islam, meski enggak mondok. Lha, bagaimana dengan saya? Sejak TK sampai SMEA, saya selalu menuntut ilmu di sekolah umum negeri. Sehingga ilmu agama yang saya dapatkan sangat minim. 

Lalu pada saat kuliah (di universitas Muhammadiyah) saya seperti "dibangunkan". Hei, kenapa saya dulu enggak sekolah di sekolah Islam? Kenapa saya enggak mondok? Padahal orang-orang lulusan pondok bisa sekeren mereka-mereka? Ilmu agama mereka sangat memadai, sehingga bisa sebagai penunjuk jalan hidup. Berbagai masalah hidup akan lebih mudah dihadapi jika ilmu agama cukup.

Huhu. Saya enggak menyesal atas jalan hidup saya, tapi saya ingin memperbaikinya di masa kini. Apakah saya salah jika mengarahkan anak-anak saya ke arah yang lebih baik? Apakah saya salah jika ingin memasukkan mereka ke pondok pesantren untuk memperbaiki jalan hidup saya yang dulu sempat "kurang baik"?

Saya enggak bermaksud memaksakan keinginan. Sudah lama sebelum kelas 6 SD, saya sudah sering berdiskusi dengan si sulung tentang keinginan kami tersebut. Saya ingin si sulung mengerti tujuan baik saya dan ayahnya, dan tidak terpaksa masuk pondok. 

Memang, akhir-akhir ini si sulung masih sering berubah-ubah pikiran tentang akan sekolah ke mana setelah SD, karena kebanyakan temannya ingin melanjutkan sekolah ke SMP negeri. Dan saya pun terus memberikan gambaran positif tentang ponpes.

Tadi, tampaknya dia cukup enjoy saat diajak berbincang-bincang dan keliling pondok oleh pengurus ponpes. Dan saat pulang dan di rumah, dia sempat bilang ke adik-adiknya dengan kata-kata: "di pondokku". Hihi. Tampaknya sudah mulai ada rasa "memiliki" 😉 

Begitulah, cerita dan surhat saya kali ini. Mohon doanya, ya, temans, semoga si sulung mantap untuk mendaftarkan diri di ponpes dan nantinya bisa enjoy menuntut ilmu di ponpes. Entah di ponpes yang tadi kami sambangi, atau di ponpes lain. Doakan yang terbaik, yaa 😊🙏


No comments

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.