Wednesday, 25 April 2018

Memilih Sekolah: Antara Kebutuhan, Idealitas, dan Realitas



Memilih sekolah bagi kebanyakan orang bukan hal yang mudah. Karena mereka menyadari bahwa sekolah merupakan tempat belajar bagi anak-anaknya dan kelak akan sangat mempengaruhi masa depan mereka. Sehingga perlu melihat kualitas sekolah secara keseluruhan sebelum fix mendaftarkan anak ke sekolah. Dan, melihat kualitas sekolah secara menyeluruh bukanlah pekerjaan yang mudah, bukan?


Maka kita akan butuh survei sebelum mendaftarkan anak ke sekolah. Karena kita pasti butuh informasi mengenai sekolah tersebut. Baik mengenai kurikulumnya, biaya, para pengajar (guru), fasilitas, kondisi lingkungan, kegiatan ekstrakurikuler, dan sebagainya. Seringkali survei bukan hanya dengan mendatangi sekolah secara langsung, tapi kita juga butuh "testimoni" dari para alumninya, orang-orang di lingkungan sekolah, atau yang lain. Karena kita butuh semua informasi itu agar tidak salah memilih sekolah, atau istilahnya tidak "membeli kucing dalam karung". Karena kita butuh menyekolahkan anak di sekolah terbaik versi kita.
Credit from: pexels.com.


Seperti itu pula yang dulu ingin saya lakukan saat akan memilihkan sekolah untuk si sulung. Meski masih tahap pra sekolah, yaitu memilih Play Group dan Taman Kanak-kanak, tapi saya juga ingin melakukan survei secara menyeluruh pada PG/TK calon tempat belajar si sulung. Saya katakan "ingin" karena pada kenyataannya keinginan itu tidak sepenuhnya terlaksana.

Saya memang melakukan survei, tapi hanya pada satu lembaga. Alasannya, karena waktunya yang terbatas, dan karena sudah merasa cocok. Cocok di sini sebenarnya bukan cocok dalam arti saya sudah benar-benar "sreg" terhadap semua yang disodorkan sekolah pada calon siswa. Bukan berarti saya suka pada bangunan sekolahnya, fasilitas-fasilitasnya, metode mengajar gurunya, dan sebagainya. Tetapi lebih karena saya menyesuaikan dengan situasi dan kondisi kami sekeluarga. Lebih tepatnya menyesuaikan dengan kemampuan finansial, khususnya.


Antara Kebutuhan, Idealitas, dan Realitas
Ya, siapa sih yang enggak pengin anaknya menuntut ilmu di sekolah terbaik? Sekolah yang punya banyak prestasi, dengan guru-guru yang berkualitas secara akademik plus mampu bersosialisasi dengan anak didik secara baik, sekolah yang gedungnya bagus dan punya fasilitas komplit, dan segala hal yang terbaik dari sebuah sekolah? Saya tentu saja ingin seperti itu.


Tapi apa daya, saya dan suami harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi. Menyesuaikan dengan dana yang kami punya, dengan jarak sekolah, dan yang terpenting dengan pendidikan agama Islam yang paling "sesuai" dengan yang kami pahami. Kami memilih sekolah yang jaraknya lumayan dekat dengan rumah kami, karena untuk memudahkan antar-jemput dan agar anak enggak kecapekan di jalan. Kami memilih sekolah yang sekarang menjadi tempat belajar si sulung, karena biayanya lebih terjangkau dibanding sekolah Islam lain di dekat rumah kami dengan kualitas yang enggak jauh beda. Sebaliknya, kami tidak memilih sekolah Islam yang lebih dekat dengan rumah kami karena ada perbedaan-perbedaan paham yang kentara. Demikianlah. Meskipun sekolah pilihan kami itu sebenarnya bukan sekolah terbaik versi kami di daerah kami.

Waktu memilih PG/TK, saya sebenarnya kurang setuju jika anak masuk PG/TK harus dites dulu. Tapi lembaga pendidikan yang kami pilih itu ternyata menyelenggarakan tes masuk PG/TK. Tapi akhirnya kami masih maklum karena toh tesnya yang utama berupa tes psikologi untuk mengetahui kesiapan mental anak kelak dalam belajar di PG/TK. Saya juga kurang "sreg" saat mengetahui bahwa para guru PG/TK itu tak pernah melakukan kunjungan ke rumah siswa untuk bersilaturahim. Dan... ada lagi beberapa hal yang sebenarnya kurang cocok di benak saya. Tapi kami tetap memilih lembaga pendidikan itu, ya, karena dengan pertimbangan-pertimbangan seperti di atas. Semata-mata menyesuaikan dengan situasi dan kondisi kami.


Si nomer dua sedang menjalani tes masuk TK 


Begitulah yang terjadi pada kami dalam memilih sekolah. Sama dengan saat memilih PG/TK, saat akan mendaftarkan si sulung ke SD pun demikian adanya. Sebenarnya kami butuh sekolah yang bagus, sekolah terbaik, sesuai dengan kebutuhan dan idealitas kami, tapi lagi-lagi kami terbentur dengan situasi dan kondisi, terutama soal kemampuan finansial kami.

Mungkin di luar sana juga ada yang senasib dengan kami, hanya bisa bermimpi mendapatkan sekolah terbaik bagi anak-anak tapi tak mampu memasukinya. Mau bagaimana lagi, hukum ekonomi berlaku pula di sini. Ada harga ada rupa. Sekolah yang bagus biasanya juga harus dibayar dengan harga yang "bagus" pula. Karena saya paham, bahwa segala fasilitas sekolah, gaji guru, dan semua sarana prasarana pasti juga butuh dana yang sesuai.

Tapi sebagai orang tua setidaknya kami telah berusaha memilihkan sekolah terbaik sesuai kemampuan kami. Dengan biaya minim, kami berusaha mencarikan sekolah dengan kualitas yang lumayan bagus. Bagus bagi kami yang terpenting tentang muatan pendidikan agama Islam-nya. Demikianlah, memilih sekolah bagi kami merupakan masalah kebutuhan, idealitas, dan realitas. Kami harus bisa menyelaraskan semuanya dengan situasi dan kondisi kami sendiri. Nah, bagaimana dengan teman-teman?


*Tulisan ini merupakan tanggapan atas artikel berjudul "Pilah Pilih Sekolah untuk Anak? Ini Tipsnya!" yang ditulis oleh Mak Ika Puspita dalam #KEBloggingCollab .



5 comments:

  1. Iya nih problems semua ortu, pengennya nyekolahin anak di sekolah terbaik lah sesuai dengan kemampuan dan dekat dari rumah, itu aku, soalnya Bandung macet banget, bagus deh pemilihan sekolah berdasarkan rayon2 tempat tinggal.

    ReplyDelete
  2. Tulisannya sangat bermanfaat untuk bahan renungan saya 😁 saya juga sedang pilah pilih sekolah yg cocok buat anak. Kebetulan tahun depan anak sulung pertama masuk TK diusia 6 thn.. Tapi masih bimbang. Bener kata momy Antara Kebutuhan, Idealitas, dan Realitas...
    Tks for sharing 🙏😊

    ReplyDelete
  3. iya, mbak. kadang uang jadi salah satu penentu utama pilihan sekolah buat anak kita. padahal sih pengennya disekolahin di tempat terbaik menurut kita ya

    ReplyDelete
  4. Kalau kami kayaknya bisa dibilang nekat ya dalam memilih sekolah anak (untuk SD)
    Karena menurut kami, pembentukan karakter utama itu ada di sekolah dasar.
    Jadi dalam memilih sekolah, kami berusaha seoptimal mungkin memilih sekolah yang terbaik.

    Sekolah yang terbaik di sini pastinya bukan hanya kurikulum saja, tapi yang lingkungannya juga baik, secaraaaa.. Emaknya sekuat tenaga mendidiknya agar jadi generasi yang lebih baik dan sopan, rasanya tidak rela kalau lingkungan sekolah yang gak sehat merubahnya.

    Masalah ekonomi, kami benar-benar menomor satukan di atas kepentingan lainnya.
    Terdengar idealis banget sih, tapi insha Allah kami sepakat memberikan anak-anak warisan ilmu yang lebih baik, meskipun mungkin kami belum tentu bisa mewariskan harta untuk mereka 😊

    ReplyDelete
  5. Akupun ga mau asal milihin sekolah hanya krn alasan terbaik mba. Terbaik sekalipun tp jauh dr rumah, dan terlalu mahal, mndingan ga deh. Kalo nyekolahin anak di tempat yg terlalu high class, dengan temen2nya anak orang berada semua, aku takutnya anakku jd ketularan life style mereka yg tinggi. Ada soalnya bbrp anak temenku yg skolah di swasta asing, anaknya lgs malu kalo g bisa punya barang yg sama ama temennya. Malu dijemput ama mobil avanza doang, malu kalo hp bukan merk iphone. Sedih sih dengernya

    Makanya aku ga mau begitu. Yg sesuai ama kemampuan ajalah :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.

Kumpulan Emak Blogger

WARUNG BLOGGER


Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Ibu-ibu Doyan Nulis


Mom Blogger Community


Followers

© 2016 DeKa | Powered by Blogger | Template by Enny Law