Pages

Anak-anak, Tetaplah Jadi Anak-anak



"Kamu lihat apa, sih? Ayo, balik lagi ke yang tadi. Lihat yang anak-anak aja, lho..!"

Saya menegur si sulung yang tengah melihat sebuah video di channel YouTube. Bukan cuma sekali itu dia menonton konten video yang diisi oleh youtuber muda. Video tentang Minecraft, tentang game online, atau video-video milik youtuber Atta Halilintar sering ditontonnya saat ini. Hemm... saya kurang suka dengan pilihan-pilihannya itu.

Si sulung saat ini sedang memasuki bangku kelas 3 SD. Prestasi akademiknya di sekolah memang lumayan baik. Tapi sayang, dia termasuk anak yang suka main gadget. Seperti sebagian besar anak zaman now, lah (yang pernah saya lihat). Salah saya juga yang kurang ketat dalam hal aturan penggunaan gadget pada anak sejak dini. Sehingga keterusan hingga sekarang. Apalagi saat liburan seperti sekarang, dia lebih sering menggunakan handphone atau komputer (PC) daripada hari-hari biasanya. Biasanya dia melihat video-video di YouTube atau main game yang sudah diunduh sebelumnya.


Internet dan Pengaruhnya pada Anak-anak Zaman Now

Dulu dia masih suka melihat video anak-anak seperti Syamil dan Dodo, video-video Acin dan Acan, Doraemon, dan video-video anak-anak yang lain. Tapi semenjak pertengahan kelas 1 SD, kesukaannya mulai bergeser ke konten-konten anak muda seperti yang saya sebutkan di awal tulisan ini. Dan menurut saya, konten-konten itu enggak cocok untuk anak seusianya. 

Si sulung (laki-laki) dan adiknya.

Apa sebab? Sebabnya adalah, para youtuber muda itu sering menggunakan kata-kata khas anak muda zaman now. Dari bahasa gaul hingga kadang bahasa agak kasar yang enggak cocok sama sekali untuk telinga anak-anak. Dampaknya tentu saja penonton terutama anak-anak jadi menirukan kata-kata mereka. Anak-anak yang merupakan peniru ulung gampang sekali dilekati dengan kata-kata yang enggak baik itu. Belum lagi pemikirannya ikut-ikutan terpengaruh pada apa yang dilihatnya. Pengin ikut-ikutan ngeprank, misalnya. Hemm..

Baca juga: Mendidik Generasi Z dengan Good Attitude.


Ini kondisinya masih dalam pantauan penuh oleh saya dan suami di rumah. Ya, anak-anak kami bisa dikatakan enggak pernah main dengan anak-anak tetangga. Karena memang rumah kami terletak di pinggir jalan raya dan jauh dari para tetangga. Sehingga jika menggunakan gadget, anak-anak masih bisa saya pantau meski kadang juga lepas kontrol karena anak yang dijaga bukan cuma satu tapi empat anak. Hehe. Sementara kalau di sekolah, tentu saja anak kelas 3 SD belum diizinkan bawa gadget ke sekolah. Jadi aman, tak ada kesempatan main gadget kalau di sekolah.

Tapi mungkin sebentar lagi kondisinya akan berbeda. Mungkin sebentar lagi si sulung sudah berani main ke rumah teman-teman sekolahnya dengan naik sepeda sendiri. Mungkin saat kelas 6 nanti anak-anak boleh bawa gadget ke sekolah dengan alasan untuk menunjang materi pelajaran di sekolah. Entahlah, saya juga belum tahu. Tapi saya pernah lihat anak-anak kelas 6 belajar di sekolah dengan menggunakan handphone

Lalu saya membayangkan, jika anak-anak itu berkumpul dan bermain gadget (dengan akses internet tentu saja) tanpa pengawasan orangtua atau guru, apa saja yang akan mereka tonton? Dunia maya itu sangat luas. Dan sekali online, berbagai konten tersaji dari yang positif hingga negatif. Dengan sekali klik kita bisa melihat apa saja yang diinginkan atau bahkan muncul sendiri tanpa kita sadari/kehendaki. Iklan-iklan yang tak senonoh misalnya. Saya jadi takut.

Baca juga: Pentingnya Korelasi Pendidikan dan Moral untuk Mencetak Generasi yang Beradab.

Anak-anak, Tetaplah Menjadi Anak-anak


Peran orangtua dalam memberikan pondasi baik yang kuat pada anak-anaknya memang mutlak harus dilakukan, jika memang ingin anak-anaknya menjadi anak-anak yang baik (shalih dan shalihah). Tapi bukan semata-mata peran orangtua juga, sih. Peran pendidik di sekolah dan lingkungan juga diperlukan. Seperti misalnya akses internet gratis di tempat umum/fasilitas umum. Bagaimana agar akses internet gratis itu enggak disalahgunakan oleh anak-anak. Bagaimana agar anak-anak aman berselancar di dunia maya dengan hanya bisa melihat konten-konten yang baik di tempat-tempat umum itu?


Saya sebagai orangtua tentu ingin agar anak-anak tetap menjadi anak-anak. Tetap dengan dunianya yang penuh dengan aktivitas bermain dan bermain. Tetap dengan pemikiran anak-anak dan tidak terkontaminasi oleh bahasa-bahasa dan perilaku enggak pantas yang ditularkan dari internet. Tetap tumbuh dan berkembang pemikirannya sesuai usianya. Jangan terlalu cepat menjadi dewasa. Karena masa kecil itu kelak akan menjadi kenangan di masa dewasa. 

Di Hari Anak Nasional tahun ini, saya sebagai orang tua berharap semoga para pihak yang punya wewenang dan kuasa di negeri ini punya program-program untuk menyelamatkan anak-anak dari bahaya pengaruh internet. Mari bersama-sama warnai masa kecil mereka dengan keriangan dan keindahan. Bukan membiarkan mereka terhanyut oleh konten-konten dunia maya yang seringkali jahat!



Diah Kusumastuti

Saya seorang ibu rumah tangga dengan 4 orang anak, Faiq, Fahima, Fauzia, dan Fahri. Asli Solo tapi sekarang berdomisili di Sidoarjo. Suka menulis tentang apa saja selama itu positif dan sebisa mungkin memberi manfaat bagi yang membaca. Menulis bagi saya adalah sarana refreshing dan agar otak terus bekerja :) Email: d3kusumastuti@gmail.com

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.