Wednesday, 17 January 2018

Mendidik Generasi Z dengan Good Attitude



Benar dikatakan jika anak adalah amanah. Mereka adalah amanah dari Allah subhanahu wa ta'ala kepada orangtuanya. Sebagai amanah, mereka harus dijaga sebaik mungkin agar yang mengamanahi enggak kecewa. Bahkan kita juga harus mengemban amanah itu agar sang pemberi amanah bisa "berterima kasih" atas kesediaan kita menjaga mereka. Demikianlah kurang lebih ibaratnya. Dan kita pasti berharap bisa melakukannya, agar kelak bisa mendapatkan surga-Nya. Aamiin.

Tetapi, menjadi orangtua pengemban amanah tersebut bukanlah pekerjaan yang mudah. Kita mempunyai banyak sekali pekerjaan rumah untuk menjadikan anak-anak tersebut mampu menghadapi tantangan zaman dengan baik. Setiap generasi mempunyai zaman yang berbeda. Dan anak-anak zaman sekarang, adalah anak-anak generasi Z. Yaitu anak-anak yang terlahir pada tahun 1994 hingga sekarang. Anak-anak ini mempunyai kemampuan dan kebiasaan yang berbeda dengan anak-anak pada zaman Y atau zaman X dan zaman-zaman sebelumnya.

Generasi Z akrab dengan teknologi. Internet sudah tak asing bagi mereka. Media sosial menjadi teman akrab sehari-hari. Terbukanya informasi tanpa batas yang tersaji di internet, menjadikan mereka mempunyai wawasan luas dan perkembangan intelektual dan mental yang lebih cepat daripada generasi sebelumnya. Enggak heran jika anak-anak Sekolah Dasar zaman sekarang sudah mahir pegang gawai, sudah banyak yang bisa ngeblog, sudah banyak yang punya puluhan ribu subscribers di channel YouTube-nya, dan sebagainya.


Credit from pexels.com.


Di satu sisi kita bisa geleng-geleng kepala. Wow! Hebat banget, ya, mereka. Mereka dengan mudah menguasai teknologi bahkan dengan belajar secara otodidak, dengan hanya melihat di layar komputer atau handphone lalu menirukannya. Dan voila! Mereka bisa melahirkan karya yang enggak kita sangka sebelumnya! Bahkan seringkali orangtuanya enggak tahu kapan mereka belajar itu semua. 

Tapi bagai sebuah pisau, semua ada sisi positif dan negatifnya. Telah banyak disebutkan di berbagai sumber akibat negatif dan positif dari teknologi internet yang menguasai generasi Z ini. Generasi Z, banyak yang menjadi sosok luar biasa tapi sebaliknya banyak pula yang kehilangan arah atau jati diri. Banyak anak muda dengan prestasi gemilang saat ini. Diantara mereka ada yang punya karakter baik, tapi ada pula yang sebaliknya. Berprestasi tapi tak punya attitude baik? Bukan hal yang langka. Yang enggak berprestasi plus rusak moralnya? Enggak sedikit pula jumlahnya.

Yap, masalah moral, masalah etika kids zaman now, ini sepertinya menjadi pe-er juga untuk orangtua zaman now selain pe-er pe-er lain yang seabrek. Jika melihat fenomena di sekitar, saya sering menjumpai anak-anak zaman sekarang berbeda jauh dengan anak-anak tempo dulu dalam hal beretika. Dulu, misalnya, kita sangat hormat pada guru hingga sangat menjaga hubungan dengan para pendidik itu. Kita sangat menghormati mereka dengan bersikap santun, berbicara teratur, dan sebagainya. Tapi coba lihat sekarang, anak-anak banyak yang terlampau dekat bahkan bisa dibilang kebablasan, terlalu akrab dengan guru hingga rasa hormat pada mereka menjadi sangat tipis.

Hubungan dengan orangtua atau orang yang lebih tua, bagaimana? Tampaknya sekarang ini anak berkata keras kepada orangtuanya bukanlah hal yang langka. Orangtua seperti teman mereka sendiri. Ada lagi, kadang kids zaman now ini enggan keluar kamar sekadar untuk berjabat tangan jika ada saudaranya yang sedang bertamu. Atau, mereka cuek saja jika bertemu dengan orangtua temannya padahal mereka sudah saling kenal. Dan lain-lain, dan sebagianya.


Credit from pexels.com.


Lalu sebagai orangtua zaman now, bagaimanakah kita harus menyikapi fenomena ini? Bagaimana agar anak-anak kita bisa berkarakter baik, beretika, punya good attitude, berakhlak mulia? Kita tentu sepakat bahwa semua kebiasaan atau karakter baik seorang anak bersumber dari keluarganya. Maka keluarga adalah kuncinya. Selain tentu saja ada peran guru di sekolah yang menguatkan pendidikan karakter anak-anak kita. Tetapi pembiasaan karakter baik sejak dini dari dalam lingkungan keluarga tak bisa disangkal akan mempunyai dampak kuat bagi kepribadian anak selanjutnya.

Saya sendiri, masih punya pe-er yang besar untuk masalah ini. Anak sulung saya yang saat ini menuntut ilmu di kelas 1 SD rupanya juga belum mempunyai etika yang baik dalam bersosialisasi maupun dalam keseharian di rumah. Banyak hal yang mungkin menjadi penyebabnya. Dari pola didik saya dan suami sendiri yang mungkin kurang optimal, dari kakek-neneknya yang serumah dengan kami, perbedaan pola asuh antara saya dan suami dengan kakek-neneknya, dari lingkungan sekitar, juga dari lingkungan sekolah.

Maka sebagai ibunya yang notabene setiap hari dekat dengannya, saya selalu berusaha mendidiknya agar punya good attitude. Enggak mudah memang. Pergaulan sehari-hari dengan lingkungan-lingkungan yang dia jumpai bisa mempengaruhi apa yang sedang kami bangun untuknya. Diantara usaha mendidik anak-anak kami agar punya good attitude adalah sebagai berikut:
  • Selalu menegurnya jika mengetahui dia tidak bersopan-santun. Misalnya saat dia berteriak-teriak pada saya hanya untuk minta tolong mengambilkan makanan. Biasanya saya langsung menegurnya untuk meminta maaf dan mengulangi permintaan tolongnya secara santun.
  • Mendidik anak untuk selalu hormat kepada guru. Misalnya jika bertemu dengan gurunya di jalan, saya selalu ingatkan agar menyapanya dengan tersenyum. Ini masih sulit dilakukan oleh anak saya 😔 karena dia sifatnya pemalu. Atau, saya selalu berpesan padanya agar jika minta tolong pada guru, minta tolonglah dengan baik, dengan mengucapkan kata "tolong" dan dengan sikap yang baik.
  • Mendidik anak agar bersikap baik dan hormat jika bertemu orang yang lebih tua. Saya sangat terkesan ketika menjumpai teman anak saya yang tersenyum manis ketika bertemu saya di jalan. Wah, pasti orangtuanya mendidiknya dengan baik soal etika. Saya pun kemudian menceritakannya pada anak saya, bahwa seperti itulah sebaiknya yang dilakukan jika bertemu orangtua teman-temannya atau orang lain yang lebih tua yang ia kenal. Sapalah dan tersenyumlah.
  • Mendidik anak agar bersosialisasi secara baik dengan teman-temannya. Saya selalu berpesan pada anak saya, agar selalu bersikap baik pada siapapun temannya. Menolong jika temannya butuh bantuan, berbagi makanan atau mainan jika dia punya, tidak saling mengejek atau bahkan bertengkar, dan sebagainya. Ya, meski pada praktiknya masih sulit untuknya melakukan itu semua saat ini.
  • Sering menasehatinya bahwa sebagai seorang muslim harus berakhlak mulia. Bukan muslim yang baik namanya jika suka berteriak, suka mengejek teman, tidak menghormati orangtua, dan perbuatan-perbuatan buruk lainnya. Maka mendidiknya dengan dasar agama (sesuai Al-Qur'an dan Hadits bagi seorang muslim) adalah mutlak diperlukan.
  • Berdoa agar Allah subhanahu wa ta'ala memudahkan dan menguatkan saya dan suami dalam mendidik anak-anak kami agar menjadi orang-orang yang shalih dan shalihah.

Generasi Z memang luar biasa, punya banyak keistimewaan sekaligus tantangan, termasuk tantangan menjadi manusia yang punya good attitude. Karena sekadar cerdas dan berprestasi saja enggak cukup tanpa punya karakter atau kepribadian yang baik. Peran keluarga sangat dominan dalam membentuk karakter itu. Orangtua wajib menjaga amanah dari Sang  Pemberi Amanah sebaik mungkin. Dan dilandasi dengan pendidikan agama, insya Allah kita bisa mendidik anak-anak kita dengan baik. Semoga. Aamiin.


21 comments:

  1. Wah, sepakat banget Mbk, penting banget kita mempersiapkan generasi Z dengan akhlak yang baik. Aku juga punya PR nih buat anakku agar menjaid anak tangguh.

    ReplyDelete
  2. setuju, attirude itu sangat perlu dididik sejak dini, agar jadi kebiasaan yang baik

    ReplyDelete
  3. Attitude memang berkontribusi besar terhadap masa depan anak. sayanganya hal tersebut justru kurang mendapatkan perhatian dalam kurikulum sekolah. Jadi mau tak mau ya orang tua harus konsen mengajarkannya.

    ReplyDelete
  4. setuju banget mbak, attitude itu emang nomer satu, termasuk dari keluarga terlebih dahulu.

    ReplyDelete
  5. Sama mba, anak saya jg kelas 1 sd, dan pe er jg dlm sosial emosinya, tmsk etika...

    ReplyDelete
  6. duh miris banget ya, kalau ada saudara datang ke rumah, anak enggan ke luar dari kamar, walo untuk berjabat tangan. Menurut saya, memang perang orang tualah ya yang memberikan contoh perilaku yang baik, di era yang digital ini. Karena enggak mungkin juga nolak kemajuan teknologi kan, asal ada pendampingan orang tua. Setuju Mbak Deka dengan tulisannya.

    ReplyDelete
  7. Mendidik generasi Z emang tantangannya semakin luar biasa... jauh beda dg generasi X dan generasi Y

    ReplyDelete
  8. Memang miris kalau lihat anak2 zaman now, ga usah jauh2 di lingkungan saya sendiri banyak yang mengabaikan pentingnya attitude.

    Tapi bisa buat pelajaran bagi saya dan suami, agar lebih hati2 dalam mendidik anak. Apalagi punya anak perempuan, PR nya tentu lebih banyak, atau anak cewek cowok sama saja ya? :)

    ReplyDelete
  9. Wah penting banget ini buat aku sebagai calon orang tua. Suka gemes kalau ngeliat perkembangan generasi Z yang luar biasa. Mereka seperti susah dibendung dan selalu dinamis

    ReplyDelete
  10. Peer banget nih buat saya untuk mendidik attitude anak karena kadang saya masih lengah, suka masih asyik sendiri dan belum bisa mengatur waktu kapan mesti mengajari mereka kapan mesti kerja

    ReplyDelete
  11. Good attitude memang penting banget. Terutama di zaman gadget sekarang. Semoga kita bisa lebih sabar dalam mendidik anak2 zaman now.

    ReplyDelete
  12. Subhanallah... Aku juga ngerasain beberapa hal negatif sih dari kids zaman now

    Aku juga harap2 cemas terhadap diriku sendiri. Bagaimana ya nanti aku dan suami mendidik anak2 kami berdua? Belum nikah aja udah kepikiran, hmm... Semoga generasi penerus kita jauh lebih baik ya mbak

    ReplyDelete
  13. Pendidikan adab dan sopan santun mulai melemah dinkalangan anak muda z sekarang. Tantangannya memang berat ya. Saat informasi yang Kita berikan bergesekan dengan informasi yang diterima, saat itulah generasi z cukup membuat energi Kita banyak terkuras.. namun sebagai orang tua itu adalah amanah..:

    ReplyDelete
  14. Semoga makin banyak orang tua atau calon orang tua yang baca tulisan mbak, sehingga mereka sadar kalo situasi sekarang ga bisa didiemin aja.
    Orang tua harus tegas, namun tetap lembut dan pandai.

    ReplyDelete
  15. Sepakat banget nih mba soal hormat dan santun. Buat saya akhlak itu yg utama. Tidak peduli seberapa pun pintarnya, cantiknya, tanpa akhlak gak berarti apa2. Semoga tulisan ini banyak di baca para ortu

    ReplyDelete
  16. bener banget
    generasi sekarang mmg kurang etikanya
    jadi pendidikan di rumah dan sekolah yg tepat jg penting
    anak sy duduk di TK B kadang masih suka berteriak atau menjerit klu minta sesuatu.
    harus sabar dan memberikan contoh yg baik.
    PR banget memang dalam mendidik anak sekarang.
    semoga dengan sekolah di tempat yg menanamkan nilai agama, perilakunya bisa lebih baik dan berakhlak mulia.aamiin

    ReplyDelete
  17. Pe we banget ini...., Anakku usia tiga tahun..emang ekstra sabar memberi pemahaman kepadanya.., kalo minta sesuatu jangan teriak2...

    ReplyDelete
  18. Sebelum anak belajar sendiri, memang perlu dampingan keluarga sebagai yang terdekat dulu ya. Orang tua juga seharusnya sebagai teladan, dan perlu diperhatikan juga agar anak tak merasa terbebani dengan dibandingkan dengan anak lain. Semoga terdidik dengan good attitude ya mbak 😀😀

    ReplyDelete
  19. Menurut penjelasan ini, aku pun mungkin masih berada pada borderline generasi Z (kok bisa ya ada generasi X, Y, Z, habis itu generasi apa lagi nih? generasi AA atau AB?)

    Hmmm. Aku sendiri agak beruntung, namun juga menyesal karena approach yang dilakukan oleh orangtuaku masih terasa kurang, sehingga mungkin aku belum menjadi manusia yang baik secara kaffah. Tsaaah.

    Tapi, memang benar sih, sekarang zaman sudah berubah, sehingga approach terhadap anak pun juga harus berubah. Agak kurang setuju juga dengan pernyataan perlakukan anakmu sebagaimana kamu diperlakukan oleh orangtuamu senidri. Hmm

    ReplyDelete
  20. Tayangan televisi nih jadi PR banget buat Ortu. Sinetron ngga mendidik ama acara lawakan di TV yang ampun ampunan. Merusak tatanan budaya dan adat ketimuran lah pokoknya. Mesti ekstra keras perjuangan ngejelasin ke anak anak

    ReplyDelete
  21. Banyak yang resah dengan attitude generasi Z. PR banget untuk para orang tua

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.

Kumpulan Emak Blogger

Ibu-ibu Doyan Nulis


Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

WARUNG BLOGGER


Mom Blogger Community


Followers

© 2016 DeKa | Powered by Blogger | Template by Enny Law