Tuesday, 4 September 2018

Terjajah Medsos



Siapa, nih, yang suka update status di media sosial (medsos)? Bikin status di Facebook (FB), ngetwit di Twitter, unggah foto di Instagram (IG), dan lain-lain (eh maap, saya ngertinya cuma itu, karena enggak punya akun medsos selain itu. Hahaha). Nah, teman-teman suka update status gitu buat apa aja, sih?


Credit: pixabay.com.

Jawabannya pasti beragam, ya. Ada yang buat hiburan saja; mencurahkan isi hati, menceritakan kejadian sehari-hari, atau untuk berpendapat, menanggapi hotnews, berbagi ilmu nulis, ilmu bisnis, sekadar share berita atau status lain, dannnn masih banyak lagi.

Saya membuat akun FB sejak tahun 2009. Saat itu, sepertinya belum begitu banyak orang Indonesia yang punya akun medsos yang satu ini. Hal ini saya lihat dari jumlah teman FB saya yang pelan sekali bertambahnya (atau saya yang kurang gaul, ya, haha..). Tapi beneran, lho, beda sekali dengan saat ini, di mana setiap hari adaaa saja yang add pertemanan.

Dari Facebook, kemudian ke Twitter. Saya pun membuat akun Twitter pada tahun 2009. Sama, saat itu saya masih sepi kawan. Jadilah saya follow akun-akun artis dan para public figure lainnya. Tapi enggak ada yang follow back saya. Hahaha. Enggak ada teman yang diajak saling bersahutan tweet 😃. Beda banget dengan sekarang, hampir tiap hari ada yang follow, meski cuma satu orang. Haha.

Berbeda dengan Facebook dan Twitter, untuk akun Instagram dan YouTube saya baru membuatnya belakangan ini. Akun IG saya tercatat ada sejak tahun 2015 sedangkan YT sejak tahun 2012 tapi hampir tak pernah upload video di sana. Hahaha.

Salah satu hal yang saya rasakan sangat berbeda antara dulu dan sekarang adalah soal interaksi di medsos. Di sini saya ambil contoh di Facebook. Makin ke sini, interaksi antar Facebookers makin intens. Seperti yang sudah saya sebut di atas, tampaknya pengguna Facebook terus bertambah setiap harinya. Maka interaksi yang terjadi di medsos yang satu ini juga semakin ramai.

Credit: pixabay.com.

Coba kita lihat masyarakat di desa. Dulu jarang ada orang desa yang punya akun Facebook. Tapi sekarang, dari orang tua hingga anak usia SD sudah ramai Facebook-an. Saya sempat terkejut ketika keponakan saya yang di desa meng-add akun saya. Yah, gadis kecil kelas 6 SD itu ternyata sudah ngeksis di Facebook. Ada juga teman lama saya (ibu-ibu), yang dulu katanya males Facebook-an karena merasa gaptek, sekarang sudah terbiasa scroll scroll timeline medsos berlatar warna biru itu 😃.


Lalu, kalau dulu satu status saya hanya mendapatkan kurang lebih 5-10 likes, sekarang bisa dua kali lipatnya atau lebih. Komentar yang muncul juga semakin banyak. Status-status yang dibuat oleh orang-orang berpengaruh sudah pasti semakin banyak pula likes and comments-nya. Grup-grup Facebook semakin banyak bermunculan, masing-masing semakin banyak membernya, dan semakin aktif pula interaksi yang terjadi antar anggotanya.

Setiap individu semakin mendapatkan tempat yang seluas-luasnya untuk berkomentar, mengeluarkan isi pikiran, berargumen, bahkan beradu pendapat atau debat tanpa batas. Satu status Facebook bisa dikomentari oleh siapa saja dari mana saja. Apalagi jika status itu banyak yang meng-share (membagikan) dan menjadi viral, ratusan hingga mungkin ribuan komentar akan bermunculan, saling bersahutan. Mereka bisa saling beradu pendapat meski enggak saling kenal dan enggak bertatap muka. Saya membayangkan jika hal itu terjadi secara offline, pasti enggak cukup satu ruangan dijadikan tempat berkumpul untuk saling debat. Hahaha.

Dan bukan rahasia lagi, saat ini selalu saja ada topik yang bisa menimbulkan debat atau war di medsos. Bahkan status yang terlihat adem bisa saja dinyiyirin, dicari celahnya. Yap, kenyinyiran merajalela. Dari status nyinyir hingga komentar nyinyir. A bikin status nyinyir pada B, B balik nyinyir pada A, C nyinyirin A dan B, D nyinyirin C, gitu aja terus, muter-muter. Hahaha.

Dan, yap! Tanpa kita sadari kita sepertinya telah terjajah medsos! Waktu kita habis terbuang untuk bikin status, adu pendapat, saling nyinyir, dan seterusnya. Medsos menguasai kehidupan kita sehari-hari dengan kesenangan yang melenakan. Ya, sepertinya kita terjajah medsos, jika kita...

❤ Menghabiskan sebagian besar waktu kita (juga kuota internet 😄 ) untuk bermain medsos tanpa manfaat yang berarti. Menggunakan medsos hanya untuk saling nyinyir, enggak manfaat banget ya menurut saya.

Mudah terpancing emosi disebabkan membaca status atau komentar yang provokatif. Kemudian debat panjanggggg menghabiskan banyak waktu.

Menurut saya, kita bisa dikatakan merdeka dari medsos jika kita bisa menggunakannya dengan bijak, mengambil manfaat darinya, atau berbagi manfaat untuk orang lain.

Demikianlah sekelumit uneg-uneg saya yang mungkin enggak ada intinya ini. Hehehe. Cuma sedikit mengingatkan teman-teman dan diri sendiri, apakah kita sudah merdeka menggunakan medsos? Ataukah sebaliknya, terjajah medsos?




16 comments:

  1. serius mbak
    aku suka judulnya itu lho
    "terjajah medsos"

    kalau terjajah sesuai dengan artian yang mbak paparkan di atas sepertinya hampir semua masyakat Indonesia pengakses internet + pemegang ponsel yang bisa internetan sedang dijajah

    ReplyDelete
  2. Suka keki kalo ngobrol tapi lawan bicaranya asik dengan gawainya karena sibuk bermedsos

    ReplyDelete
  3. kalau aku sekarang udah jarang bermedsos mbak, jadi udah terbebas dikit lah dari era penjahahan medsos, beda waktu dulu, punya fb dan twitetr tahun 2007 gitu, semangat banget bermedsos.

    ReplyDelete
  4. Hihihi..terjajah medsos, bangun tidur langsung buka medsos, ga buka medsos seharian galau

    ReplyDelete
  5. Medsos itu ibarat dua mata pisau. Bisa bermanfaat, tapi di lain sisi bisa mendatangkan mudharat.
    Saya sendiri lebih memilih medsos yang nyaman, jauh dari ornag-orang yang nyinyir. Lebih fokus untuk cari penghasilan aja hihihi

    ReplyDelete
  6. Bener banget manusia sekarang sudah terjajah medsos. Saya mengalaminya sendiri. Mau melakukan apa-apa pasti ke pending dulu cuma untuk buka medsos. Padahal, di medsos pun juga gak ada hal yang terlalu penting.

    Kalo bisa kita harus bisa menguranginy karena kebanyakan main medsos gak baik. Gak main medsos juga gak baik. Secukupnya aja. Ya, kan?:D

    Untuk medsos yang sedang trend saya, menurutku, sih Instagram. Dan Twitter yang sedang naik lagi.

    ReplyDelete
  7. Bangun tidur langsung ngecek medsos nyariin apa yang heboih hari ini. rencanya kadang mau nyantai tapi ngeliat status yang muncul malah bikin emosi. hidup malah ngga nyantai dan jadi heboh hahahaha

    ReplyDelete
  8. Sepakat Mbak. Kadang aq buka FB cuma buat nyetatus share blog sama jualan. Trs tutup deh FBnya. Buka lagi kalo ada notif di statusku. Jadi enggak buka status orang lain.wkkka. paling ya FB grup blogger atau FB grup job blogger yg sering dibuka:)

    ReplyDelete
  9. Aku buat akun fb sejak tahun 2010. Emang sekarang udah jauh banget perbedaannya. Dulu buat senang2 skrg ya begitulah. Aku sendiri dari pada bikin status aneh2, mending status drakor atau film sih, hahaha

    ReplyDelete
  10. memang, medsos itu banyak juga sisi negatifnya, meski banyak juga sih sisi positifnya. mungkin, sudah tidak terhitung banyaknya, aku berdebat, bahkan sampai pernah kepikiran ngajak berantem di sosial media. ya, aku sudah terjajah ini sama medsos. apalagi, di kala senggang gini, pasti hari-hariku diisi dengan melihat medsos saja.

    ReplyDelete
  11. Kalau kata dosenku dulu.. kortek.. korban teknologi.. harusnya teknologi itu dimanfaatkan u Hal positif.. tapi malah sebaliknya.. medsos skrg jadi kanca perang

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah enggak merasa terjajah krn gak pernah bener2 serius mantengin timeline hehe. Kecuali kalau lagi ada yg viral kdng kepoh2 dikit wkwkwkwk.Selebihnya, medsos kumanfaatkan buat kempen2 aja atau sesekali kontak teman yang lama tak jumpa atu cari hiburan :D

    ReplyDelete
  13. Bahkan saking jengahnya terjajah medsos, bahkan sampai ada detox medsos hehe biar bisa menikmati waktu dan menghargai kebersamaan ketika bersosialisasi dengan orang lain ;)

    Jangan sampe kita termasuk orang-orang yang terjerumus dalam pubhing (terlalu sering buka sosmed dan mengabaikan oran sekitar)

    ReplyDelete
  14. Dibilang terjajah medsos gak juga sih..emang suka liat status teman atau status profokatif..tapi gak maulah ikut komentar negatif berlama2 rugi... Medsos gak gratis hahaha

    ReplyDelete
  15. Hmmmgitu ya
    Kayaknya aku juga terjajah medsos. Tapi bukan soal nyinyir. Melainkan berlama-lama berinternet. Kurang berfaedah


    Ah nampol nih tulisan

    ReplyDelete
  16. Iya. Secara tidak kita sadari, selama iNi sebenarnya kita sedang teruskanlah berbagai media sosial.

    Simpelnya gini, setiap mendapat sesuatu atau sedang melakukan sesuatu itu hal yang pertama dilakukan adalah update status. Selain itu media sosial juga seperti pisau bermata dua, di sisi lain memiliki manfaat untuk menjauhkan yang dekat, namun medsos juga bisa menjauhkan yang dekat..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.

Kumpulan Emak Blogger

WARUNG BLOGGER


Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Ibu-ibu Doyan Nulis


Mom Blogger Community


Followers

© 2016 DeKa | Powered by Blogger | Template by Enny Law