![]() |
| Sumber: pexels.com |
Banyak orang tua sudah familiar dengan read aloud, yaitu kegiatan membacakan buku dengan suara nyaring kepada anak. Metode ini dikenal luas karena manfaatnya untuk perkembangan bahasa, kosakata, dan minat baca anak sejak usia dini. Tetapi ada satu manfaat yang kadang luput dari perhatian, khususnya kalau buku yang dibacakan bertema Islami: read aloud ternyata bisa jadi salah satu jembatan kedekatan anak dengan Allah.
Bukan Sekadar Soal Kosakata
Penelitian soal read aloud selama ini banyak berfokus pada manfaat kognitif dan bahasa. Membacakan buku secara rutin terbukti membantu anak memperkaya kosakata, melatih kemampuan mendengarkan, dan menstimulasi perkembangan otak sejak dini. Semua manfaat ini valid dan penting.
Tetapi ada satu hal yang sering terlewat dari pembahasan soal read aloud, yaitu momen ini sebenarnya adalah salah satu ruang paling alami untuk membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Bukan cuma soal isi buku yang dibacakan, tapi soal kehadiran penuh orang tua di momen itu. Suara orang tua yang didengar dari dekat, sentuhan fisik saat anak duduk di pangkuan, dan perhatian yang tidak terbagi selama sepuluh sampai lima belas menit, itu semua jadi bahan bakar kedekatan yang sebenarnya jarang didapat anak di momen-momen lain sepanjang hari.
Baca juga: Manfaat Read Aloud, dan Buku sebagai Bekal Anak Bertumbuh.
Kenapa Pilihan Bukunya Ikut Berperan
Kalau read aloud rutin dilakukan dengan buku cerita anak pada umumnya, manfaatnya sudah bagus untuk bahasa dan bonding. Tetapi ketika buku yang dipilih adalah buku bertema Islami, misalnya kisah nabi, kisah sahabat, atau cerita tentang akhlak dan adab sehari-hari, ada lapisan manfaat tambahan yang ikut terbangun.
Anak tidak cuma belajar kosakata baru, tapi juga mulai mengenal konsep Allah, konsep baik dan buruk dalam bingkai ajaran Islam, dan sosok-sosok teladan sejak usia yang sangat dini, jauh sebelum mereka bisa memahami penjelasan konseptual yang lebih rumit. Anak-anak menyerap banyak hal lewat cerita, jauh lebih mudah dibanding lewat nasihat atau ceramah langsung.
Momen membacakan buku ini pun jadi kesempatan alami untuk menyisipkan obrolan ringan seputar nilai-nilai Islam, tanpa terasa seperti sedang "mengajari" secara formal. Misalnya setelah membaca kisah kejujuran seorang nabi, orang tua bisa bertanya santai, "Kalau kamu ada di posisi itu, kira-kira kamu akan berbuat apa?". Obrolan sederhana seperti ini jauh lebih membekas dibanding sekadar menyuruh anak untuk jujur tanpa konteks cerita yang menyertainya.
Momen Kecil yang Efeknya Bisa Panjang
Ada alasan kenapa kedekatan emosional antara orang tua dan anak sering disebut sebagai salah satu fondasi penting dalam pengasuhan, termasuk dalam konteks menumbuhkan kedekatan anak dengan agamanya sendiri. Anak yang merasa dekat dan nyaman dengan orang tuanya cenderung lebih terbuka menerima nilai-nilai yang ditanamkan orang tua, termasuk nilai-nilai keagamaan.
Ini masuk akal kalau dipikir lebih dalam. Anak kecil belum bisa membedakan mana nasihat yang datang dari rasa peduli, dan mana yang datang dari sekadar aturan yang harus dipatuhi. Yang mereka rasakan lebih dulu adalah kehangatan hubungan itu sendiri. Kalau kehangatan itu ada, apa pun yang disampaikan orang tua, termasuk soal ajaran agama, jadi terasa lebih mudah diterima, bukan sesuatu yang dipaksakan.
Ada pembahasan menarik soal ini di blog Siraah, soal kenapa anak yang dekat dengan orang tuanya cenderung lebih mudah dekat dengan Allah, yang menjelaskan bagaimana kedekatan emosional ini bukan cuma soal parenting yang baik secara umum, tapi juga berkaitan erat dengan bagaimana anak nantinya memandang hubungan mereka dengan Allah kelak.
Memulai dari yang Sederhana
Read aloud buku Islami tidak perlu rumit atau butuh persiapan berat. Sepuluh sampai lima belas menit sebelum tidur sudah cukup untuk memulai kebiasaan ini secara konsisten. Pilih buku dengan cerita yang sesuai usia anak, gunakan intonasi yang hidup supaya anak tetap tertarik mendengarkan, dan beri ruang untuk anak bertanya atau berkomentar di sela-sela cerita.
Yang lebih penting dari sekadar rutin, adalah kehadiran penuh orang tua selama momen itu berlangsung. Menyingkirkan gawai sejenak, fokus pada suara dan ekspresi anak saat mendengarkan cerita, itu yang membuat momen singkat ini terasa berharga, baik untuk perkembangan bahasa anak, maupun untuk kedekatan yang mereka rasakan dengan orang tuanya sendiri.
Momen sesederhana membacakan buku sebelum tidur, ternyata bisa jadi salah satu investasi jangka panjang yang dampaknya jauh melampaui sekadar kemampuan membaca anak.






No comments
Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.