Alasan Suka Film Laskar Pelangi, Sampai Nonton Berkali-kali

Sudah lama saya enggak nonton film ini. Dan ketika tadi saya menontonnya lagi, saya banyak nangisss.. Karena memang banyak scene-scene film Laskar Pelangi yang bikin penontonnya terharu hingga meneteskan air mata. Meski sudah nonton berulangkali, tetap saja saya nangis. Huhu.


film laskar pelangi


Pertama kali saya menonton film Laskar Pelangi, adalah ketika film tersebut masih diputar di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Ya, waktu itu tahun 2008, ketika saya sudah menyelesaikan skripsi.

Saat itu, kami sekelas plus adik-adik kelas nonton bareng film yang lagi booming ini di bioskop Royal XXI, Royal Plaza, Surabaya. Tahu enggak, sih, saya teringat terus momen tersebut selain karena filmnya bagus, juga karena itu adalah pertama kali saya nonton film di bioskop! Hihi.

Sejak awal film ini resmi tayang di bioskop, saya dan teman-teman sudah berniat nobar. Pokoknya harus nobar! Pasalnya, sebagian besar dari kami sudah membaca novel Laskar Pelangi dan sangat suka dengan novel karya Andrea Hirata tersebut. Jadi kami penasaran gimana filmnya, apakah juga sebagus novelnya?

Kata orang-orang, sih, filmnya bagus banget. Beberapa sekolah bahkan mengadakan acara nobar di bioskop, guru bareng murid-muridnya. Karena para guru menganggap film Laskar Pelangi ini sangat layak ditonton anak-anak. Dunia pendidikan saat itu sepakat menyatakan bahwa film ini mempunyai pesan-pesan yang sangat bagus untuk pendidikan dan perjuangan hidup.

Sebelum nonton saya menebak film ini pasti bagus, karena disutradarai dan diproduseri oleh Riri Riza dan Mira Lesmana. Tentunya sudah banyak yang tahu bagaimana kualitas duo ini di dunia perfilman. Keren pokoknya!


Alur Cerita Film Laskar Pelangi

Kami pun sudah duduk di kursi masing-masing di dalam bioskop. Film dimulai, dan kami disuguhkan scene demi scene yang menakjubkan, mengharukan, membanggakan, dan seterusnya.

Seperti pada novelnya, film ini diawali dengan acara pendaftaran sekolah dasar anak-anak di Belitong, Sumatra, pada tahun 1974. Sekolah itu adalah SD Muhammadiyah Gentong, sekolah yang bangunannya sudah hampir roboh yang terletak di tengah Pulau Belitong. 

Tapi tidak semudah pendaftaran sekolah pada umumnya, pak Harfan dan bu Muslimah, kepala sekolah dan guru di SD tersebut, harus berjuang mencari satu lagi pendaftar agar memenuhi minimal 10 anak yang mendaftar di sekolah tersebut. Karena kalau tidak ada siswa minimal 10 orang, maka sekolah itu akan dibubarkan, karena sudah tidak mempunyai murid.

Anak-anak yang mendaftar sudah sangat ingin sekolah. Mereka antara lain Ikal, Lintang, Harun, Trapani, dan lain-lain. Lintang yang merupakan anak dari seorang nelayan miskin, disekolahkan ayahnya dengan harapan ia mampu mengubah kehidupannya di masa depan. Pun demikian dengan Ikal dan anak-anak lainnya.

Saat pak Harfan mengumumkan akan membubarkan para pendaftar sekaligus sekolah tersebut, alhamdulillah ada calon murid baru, sehingga mereka semua bisa sekolah di SD Muhammadiyah Gentong.

Singkat cerita perjuangan demi perjuangan anak-anak dalam menuntut ilmu diceritakan dengan apik di film tersebut. Anak-anak miskin di Belitong tersebut tetap semangat menuntut ilmu meskipun sekolah enggak pakai seragam, enggak pakai sepatu, alat tulis seadanya, dan sebagainya. Ditambah sekolah yang bangunannya hampir roboh, hanya ada satu peta yang sebagiannya robek dan sangat kusam, poster adanya poster Rhoma Irama, dan keterbatasan-keterbatasan lainnya.

Pak Harfan dan bu Muslimah pun adalah sosok-sosok yang idealis, yang bersedia berjuang mendidik anak-anak tanpa pamrih. Meski bu Muslimah pernah ditawari untuk mengajar di sekolah elit di Belitong, namun beliau menolak karena ingin memperjuangkan pendidikan anak-anak di SD Muhammadiyah Belitong.

Singkat cerita Lintang yang merupakan anak paling cerdas di kelas dengan terpaksa tidak dapat melanjutkan sekolah hingga lulus, karena ayahnya meninggal. Sementara Ikal, dia sangat terinspirasi oleh kata-kata penuh makna dari pak Harfan dan bu Muslimah, dan punya mimpi menuntut ilmu setinggi-tingginya.

Menurut saya film Laskar Pelangi ini memang sangat bagus.


ngeblog asyik KEB


1 comment

  1. Saya dulu nonton film ini di bioskop, bagus sih. Sarat makna dan pesan banget. Salut sama penulisnya yang bisa membawa kisah masa kecil seorang anak dalam keterbatasan ke khalayak :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.