Pages

Bagaimana Menyikapi Godaan-godaan di Masa New Normal


Sejak pemerintah menyatakan kebijakan untuk new normal di Indonesia awal bulan Juni kemarin, kelonggaran beraktivitas di luar rumah memang terasa dan terlihat nyata. Semakin banyak orang yang keluar rumah, dan (ternyata) semakin banyak aktivitas yang tak mematuhi protokol kesehatan.

menyikapi godaan di era new normal

New Normal di Sekitarku

Sebenarnya sebelum new normal diumumkan, aktivitas masyarakat di sekitar rumah kami enggak begitu ketat juga dalam menjalani protokol kesehatan. Masih ada sebagian orang yang keluar rumah enggak memakai masker, belanja enggak jaga jarak, dan lain-lain. Namun sebelum new normal, jalan-jalan di sekitar tempat tinggal kami memang terlihat lebih sepi dari sebelum Covid-19 melanda.

Nah, setelah masa new normal dimulai, jalan-jalan kembali terlihat lebih ramai. Tampaknya orang-orang merasa lebih bebas keluar rumah. Semakin banyak orang bersepeda santai, semakin padat jalan-jalan utama, dan lain-lain. Padahal yang saya tahu, meskipun lebih longgar batasan keluar rumah, tapi kalau enggak ada keperluan yang penting banget sebaiknya tetap di rumah saja, bukan? Karena melaksanakan protokol kesehatan di luar rumah itu enggak mudah juga bagi sebagian orang. Jadi lebih baik tetap di rumah dulu untuk saling menjaga.
Begitu, sih, yang saya tahu.

Silakan baca: Panduan Menjalani New Normal Saat Pandemi Corona.

Bersiap untuk new normal, yang dilontarkan bapak presiden.

Sejak new normal dijalankan, banyak orang kembali menjalani work from office (WFO), mal-mal banyak yang dibuka kembali, dan sebagainya, yang pada intinya masyarakat boleh beraktivitas di luar rumah dengan lebih leluasa. Dengan syarat, tetap mempertahankan protokol kesehatan.

Tapi dalam kenyataannya, tampaknya masyarakat terburu-buru dalam menyikapi new normal ini. Atau bahkan ada yang menganggap new normal, ya, kembali ke kehidupan normal sebelum ada Covid-19. Mereka cuek dengan banyaknya korban Corona yang semakin hari semakin meningkat di Indonesia.

Padahal seperti dalam gambar yang saya ambil dari tempo.co di atas, sebenarnya penerapan new normal itu bertahap. Dan enggak bisa normal seperti yang dulu lagi. New normal, ya, kenormalan yang baru. Kehidupan dengan  kebiasaan-kebiasaan baru, seperti hidup bersih dan sehat sesuai protokol kesehatan yang selama masa pandemi Covid-19 ini diterapkan.

Baca juga: Deteksi Dini Covid-19 dengan Cek Kesehatan Mandiri.

Godaan-godaan di Masa New Normal

Seperti yang sudah saya singgung di atas, new normal di sekitar tempat tinggal kami tidak sepenuhnya berjalan seperti yang diharapkan. Jalan-jalan kembali terlihat lebih ramai dan padat. Semakin banyak orang yang keluar rumah. Semakin banyak orang yang refreshing, kulineran, dan sebagainya. Bagi kami sekeluarga, hal-hal semacam itu adalah godaan. Kalau boleh dirinci, berikut godaan-godaan di masa new normal di sekitar kami:

😷 Godaan Bersepeda Santai

Sepertinya bersepeda santai menjadi tren baru akhir-akhir ini, khususnya di masa new normal ini. Semakin banyak masyarakat yang gemar bersepeda. Di pagi, siang, ataupun sore hari, sering sekali saya melihat rombongan bersepeda melintas di depan rumah kami. Sebagian ada yang memakai masker, tapi sayangnya sebagian lagi tak memakainya. Ada yang jaga jarak, namun enggak jarang yang ngobrol santai dengan mendekatkan jarak sepeda mereka.

Suami dan anak-anak sebenarnya juga pengen banget bersepeda santai seperti mereka, tapi kami takut lebih banyak mudharatnya, sih..

😷 Godaan Bebas Bersilaturahim

Saya sering melihat para tetangga bebas bersilaturahim, bahkan banyak yang enggak memakai masker dan tak peduli jaga jarak. Kalau melihat story WhatsApp teman-teman, enggak jarang pula yang sudah bebas bersilaturahim tanpa memperhatikan protokol kesehatan. Sungguh saya juga ingin bersilaturahim terutama ke rumah saudara-saudara. Lama banget kami enggak bertemu. Kangen... Tapi, ya, mau bagaimana lagi. Menurut kami, itu semua harus kami tahan sementara ini 😥

😷 Godaan Menjenguk Bayi

Bayi baru lahir, yang saya tahu sangat rentan tertular Covid-19. Kasihan jika bayi-bayi itu dijenguk oleh orang-orang yang siapa tahu adalah carrier atau OTG (Orang Tanpa Gejala), meskipun mereka tampak sehat. Tapi di masa new normal ini, saya lihat ada saja orang-orang yang dengan santainya menjenguk bayi yang baru lahir. Mendekati bayi bahkan menggendongnya. Hemm... Saya sebenarnya juga sangat ingin, lho, menjenguk saudara-saudara yang baru melahirkan. Tapi, yaa... 😥

😷 Godaan Ngemal dan Kulineran

Sudah lama banget, ya, kita enggak ngemal? Belanja ini-itu sambil cuci mata, refreshing, kulineran, itu semua memang mengasyikkan. Dan ternyata banyak orang yang cuek ngemal di masa new normal ini dengan tanpa mengindahkan protokol kesehatan. Terutama jaga jarak, nih, agak susah diterapkan. Kalau sudah milih-milih barang, kadang enggak peduli soal jaga jarak. Sebenarnya saya juga pengen banget ngemal bebas, tapi yaa... 🤤

Belanja di minimarket di masa new normal.


😷 Godaan Sekolah Luring

Di sekolah anak-anak kami, selama new normal ini selain menerapkan sekolah secara daring (online) juga ada sekolah luring (offline, atau tatap muka langsung). Diterapkan secara selang-seling atau bergantian. Sekolah luring dihadiri 5 orang anak di setiap kelasnya. Namun sementara ini saya belum mengikutkan anak kami untuk sekolah luring.
Saya masih berpegangan pada aturan awal protokol kesehatan selama pandemi Covid-19, sih. Bahwa kalau enggak penting banget enggak perlu keluar rumah. Toh, anak-anak masih bisa belajar secara daring dengan saya dampingi.

Baca juga: Wisuda Drive Thru Anak TK di Masa Pandemi Covid-19.

Cara Kami Menyikapi Godaan-godaan di Masa New Normal

Ya, itulah beberapa godaan di masa new normal yang saya rasakan sekarang ini. Sungguh kami juga ingin melakukan hal-hal seperti itu, bebas keluar rumah melakukan apa saja seperti dulu, tanpa harus ribet memperhatikan protokol kesehatan. Tapi kami sadar, kesehatan dan keselamatan keluarga lebih penting bagi kami. Maka, begini cara kami menyikapi godaan-godaan di masa new normal:

👌 Ingat Allah

Kami bersyukur, bahwa sampai detik ini kami sekeluarga masih utuh, masih sehat. Itu semua merupakan nikmat Allah subhanahu wa ta'ala yang begitu besar. Maka kami harus mewujudkan rasa syukur itu dengan cara menjaga diri kami sebaik-baiknya. Diantaranya dengan menjaga kesehatan, dan menghindarkan diri dari keburukan virus Corona.

👌 Ingat keluarga

Saya punya suami dan anak-anak, juga bapak dan ibu yang tinggal serumah dengan saya. Sehingga kami sekeluarga berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kesehatan. Menjaga pola hidup sehat, dan memperhatikan protokol kesehatan. Jika akan keluar rumah misalnya, kami berpikir dulu apakah memang benar-benar penting untuk dilakukan?

👌 Ingat perjuangan para nakes

Sungguh miris melihat perjuangan para nakes (tenaga kesehatan) dalam merawat dan menyembuhkan para pasien Covid-19. Mereka berkorban jiwa raga untuk melawan Corona. Saya juga mendengar sendiri cerita kakak sepupu saya yang juga seorang nakes, betapa besar pengorbanan mereka demi menolong para pasien Corona. Lalu apakah kita yang masih sehat ini akan bertingkah semaunya?


Oke, temans, tampaknya sudah cukup panjang saya menulis. Semoga kita semua pandai-pandai bersikap dalam kondisi yang kurang menyenangkan ini. Termasuk bagaimana menyikapi godaan-godaan di masa new normal.
Stay positive, stay safe, stay healthy! 😍


Diah Kusumastuti

Saya seorang ibu rumah tangga dengan 4 orang anak, Faiq, Fahima, Fauzia, dan Fahri. Asli Solo tapi sekarang berdomisili di Sidoarjo. Suka menulis tentang apa saja selama itu positif dan sebisa mungkin memberi manfaat bagi yang membaca. Menulis bagi saya adalah sarana refreshing dan agar otak terus bekerja :) Email: d3kusumastuti@gmail.com

1 comment:

  1. Bener banget ini mbak, dan kadang karena lihat banyak keluarga yang santai di postingan dsb aku jadi mikir nya apa akunya yang terlalu lebay ya 😂

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.