Pages

QRIS, Solusi Jitu Masalah Pembayaran Digital Bagi Milenials


Sudah jamak kita ketahui, manusia yang hidup di era digital sekarang ini hampir pasti punya benda yang bernama smartphone. Telepon pintar ini bukan hanya canggih dalam urusan berkomunikasi, tapi juga mempermudah urusan-urusan lain dalam aktivitas sehari-hari para milenials. Termasuk di dalamnya soal bertransaksi secara digital. Dengan menggunakan smartphone, kita bisa melakukan transaksi jual beli, tanpa harus mengeluarkan uang tunai. Mudah dan praktis.

Ya, saat ini kita sudah mulai memasuki era “cashless society”, yaitu masyarakat tanpa tunai. Di mana keberadaan uang kartal (uang kertas dan logam) mulai sedikit demi sedikit digeser penggunaannya. Masyarakat mulai melakukan pembayaran non tunai dengan dompet digital dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari.


Kemudahan Bertransaksi dengan Dompet Digital

Saat ini, dompet fisik sudah bukan merupakan barang penting. Sebaliknya, yang lebih penting dari dompet adalah smartphone atau yang biasa disebut hape (handphone). Ketika bepergian, enggak membawa dompet bukan masalah. Tapi yang penting bawa hape! Karena
dengan hape dalam genggaman, aktivitas kita di luar rumah tetap lancar meski harus melakukan berbagai transaksi jual-beli. Ya, karena kita punya dompet digital yang tersimpan dalam smartphone.

Mau makan, beli pulsa, membeli kebutuhan sehari-hari, bayar tagihan listrik, dan lain-lain bisa kita lakukan dengan menggunakan aplikasi pembayaran yang ada di hape. Kita tinggal klik-klik mengikuti langkah-langkah yang ada di hape, maka kebutuhan kita sudah terpenuhi. Atau jika memerlukan merchant (penjual barang dan jasa) secara fisik yang dibutuhkan untuk membeli barang/jasa yang kita inginkan, tinggal cari merchant yang sudah melayani pembayaran dengan uang elektronik.

Saat ini, setidaknya ada 10 layanan pembayaran digital (uang elektronik atau e-money) yang ada di Indonesia. Sebut saja OVO, Gopay, DANA, LinkAja, Mandiri Online, i.Saku, Sakuku, Doku, PayTren, dan True Money. Dengan dompet-dompet digital seperti ini, transaksi dapat berlangsung cepat dan real time, cukup dengan smartphone.


Contoh dompet digital (dokpri).

Nah, untuk dapat menggunakan dompet digital, syaratnya pun mudah. Pertama tentu saja harus punya smartphone sebagai media penggunaan aplikasi pembayaran non tunai. Kemudian yang kedua, harus ada akses internet. Tanpa jaringan internet yang tersambung ke hape, maka layanan pembayaran non tunai tak dapat dilakukan. Dan yang terakhir, harus ada saldo pada dompet digital kita (tentu saja). Hehe.

Baca juga: Koperasi Digital di Indonesia, Sudah Sampai Mana?


Kendala Pembayaran dengan Dompet Digital Saat Ini

Begitulah kemudahan yang bisa kita dapatkan jika menggunakan dompet digital dalam transaksi jual beli sehari-hari. Jika pembelian dilakukan secara online, bahkan kita tak perlu beranjak dari tempat duduk maka kebutuhan sudah terpenuhi. Saldo dompet digital akan langsung berkurang saat kita melakukan check out belanja. Kemudian jika kita butuh barang/jasa yang harus dibeli secara offline, kita akan membayar dengan kode QR yang dipindaik ke mesin pembayaran yang ada di merchant. Maka barang/jasa yang kita butuhkan pun langsung terpenuhi. Tanpa perlu mengeluarkan uang tunai lagi.

Tapi sayangnya… Saya pernah mengalami percakapan seperti ini:
+ “Di sini bisa bayar pakai Gopay, Mbak?”
~ “Oh, enggak bisa, Mbak. Kalau Gopay di toko sebelah. Hehe.”
+ “Kalau LinkAja, bisa enggak?”
~ “Bisa.”
+ “Oke…”


Lalu ketika saya mereview sebuah tempat makan di Google Map... Ada yang bertanya:
+ “Di situ bisa bayar pakai Dana, gak?”
~ “Wah, saya enggak tahu, Pak. Coba hubungi langsung ke restonya.” (soalnya kemarin saya bayarnya pakai voucher, hihihi…).

Di sinilah salah satu (mungkin ada yang lain, saya belum tahu) kendala dari transaksi menggunakan dompet digital. Bahwa enggak semua merchant (penjual) bisa menerima pembayaran dengan menggunakan QR Code dari dompet digital yang dimiliki pembeli. Padahal, enggak semua calon pembeli memiliki semua macam dompet digital yang ada saat ini. Ada yang hanya memiliki OVO dan Gopay, ada yang punyanya hanya Gopay, ada yang LinkAja saja yang dimiliki, dan lain-lain.


Transaksi di merchant menggunakan dompet digital (dokpri).

Sehingga calon pembeli harus cari tahu atau tanya dulu ke penjual, bisa menerima pembayaran dengan dompet digital yang mana saja? Karena untuk saat ini, pembayaran di merchant hanya bisa menggunakan QR Code masing-masing dompet digital. Belum ada satu QR Code yang bisa digunakan oleh semua platform dompet digital.


Apa Itu QR Code?

Seperti disinggung di atas, jika kita membeli barang/jasa di merchant secara offline,
maka kita perlu pindai (scan) QR Code dari smartphone kita ke layar komputer (mesin pembayaran) milik merchant. By the way, apa, sih, sebenarnya QR Code itu? Buat yang belum tahu, sekilas saja saya jelaskan, ya.

Bahwasannya kode QR atau QR Code kependekan dari Quick Response Code, yaitu sebuah kode matriks (atau dua dimensi barcode) yang dibuat oleh perusahaan Jepang Denso-Wave pada tahun 1994. Kode QR yang ada saat ini sudah banyak berevolusi. Bentuknya jajaran persegi berwarna hitam membentuk barcode, dengan tampilan yang lebih ringkas.

QR Code yang mulanya popular di negeri asalnya, Jepang, ini dulunya digunakan untuk pelacakan kendaraan di bagian manufaktur. Kode QR ini kemudian juga digunakan dalam berbagai produk, untuk menunjukkan informasi tambahan dari produk tersebut. Informasi tersebut dapat berupa alamat URL, teks, hingga nomer telepon. Untuk menggunakan kode QR ini dibutuhkan smartphone berkamera dan sebuah aplikasi untuk membaca kode QR tersebut.

Seiring perkembangan zaman, kode QR kini digunakan untuk kepentingan yang lebih luas lagi. Bukan hanya untuk kepentingan bisnis, bahkan dunia pendidikan pun mulai menggunakan kode QR ini. Karena dengan kode QR bisa berguna untuk validasi ijazah, transkrip nilai hingga mempermudah absensi. Wow banget, ya..

Intinya, dengan QR Code, semua transaksi ataupun validasi dapat terlaksana dengan mudah dan cepat.

Baca juga: SPOTS, Mesin EDC Gopay yang Makin Pintar.


QRIS Jadi Solusi

Canggihnya temuan teknologi tersebut juga dimanfaatkan oleh Bank Indonesia. Terkait perkembangan teknologi yang pastinya juga merambah bidang ekonomi dan keuangan, maka Bank Indonesia juga ingin membuat terobosan untuk membantu percepatan pengembangan ekonomi dan keuangan digital. Memahami salah satu kendala bertransaksi dengan pembayaran digital (seperti yang telah ditulis di atas), maka di tahun ini Bank Indonesia membuat suatu standarisasi untuk kode QR khusus di bagian sistem pembayaran yang disebut Quick Response Code Indonesian Standard alias QRIS.

Grand launching QRIS dilakukan bertepatan dengan HUT RI ke-74 yaitu pada tanggal 17 Agustus 2019 lalu. Dengan tagline UNGGUL (UNiversal, GampanG, Untung dan Langsung), QRIS menjadi UNGGUL karena merupakan satu-satunya QR yang berlaku di Indonesia.

Bank Indonesia secara resmi merilis QRIS sebagai satu-satunya standar pembayaran berbasis QR yang menyatukan produk QR dari semua penyedia layanan mulai 1 Januari 2020. Dengan adanya standar ini, maka penyedia barang dan jasa (merchant) enggak perlu lagi punya banyak jenis kode QR dari berbagai aplikasi sistem pembayaran. Cukup satu QR Code, maka semua jenis pembayaran dari berbagai dompet digital dapat diterima.

Standarisasi ini juga dilakukan untuk mencegah penipuan yang marak terjadi di luar negeri, serta mendorong publik bertransaksi secara non tunai. Karena tidak hanya faktor kemudahan transaksi bagi konsumen, QRIS juga mempertimbangkan faktor keamanan.

QRIS terwujud berkat kerjasama Bank Indonesia dengan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI). QRIS dihadirkan untuk memperkuat interkoneksi sistem pembayaran yang lebih luas antar penyelenggara, antar instrumen, bahkan antar negara. Karenanya, QRIS diharapkan dapat memberikan efisiensi dalam bertransaksi, mempercepat inklusi keuangan, serta memajukan UMKM yang pada akhirnya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Demikianlah, QRIS diharapkan menjadi solusi jitu atas masalah pembayaran digital bagi kaum milenials. Karena para milenials suka akan kepraktisan, kemudahan, dan efisiensi.
Semoga, tujuan yang diinginkan Bank Indonesia agar sistem pembayaran digital dapat berjalan aman, lancar, dan efisien juga dapat terwujud.

*****


Sumber bacaan:

  • https://id.wikipedia.org/wiki/Kode_QR
  • https://www.facebook.com/BankIndonesiaOfficial/
  • https://www.instagram.com/bank_indonesia/
  • https://carisinyal.com/jenis-pembayaran-digital-populer/


Diah Kusumastuti

Saya seorang ibu rumah tangga dengan 4 orang anak, Faiq, Fahima, Fauzia, dan Fahri. Asli Solo tapi sekarang berdomisili di Sidoarjo. Suka menulis tentang apa saja selama itu positif dan sebisa mungkin memberi manfaat bagi yang membaca. Menulis bagi saya adalah sarana refreshing dan agar otak terus bekerja :) Email: d3kusumastuti@gmail.com

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.