Monday, 16 September 2019

Cara Bijak Menyikapi Pujian dan Hinaan


Suatu ketika, saat masih kuliah, saya pernah curhat ke guru ngaji saya soal pujian. Saya sedih sekali karena adik-adik kelas banyak yang memuji saya. Kata mereka, saya bisa begini dan begitu, baik hati dan banyak kelebihan. Padahal, mereka tidak tahu "dalamnya" saya, yang tak sebaik yang mereka sangka. Saya mesti bagaimana?

Seingat saya, ustadzah bilang agar saya banyak istighfar. Memohon ampun pada Allah subhanahu wa ta'ala atas kejelekan-kejelekan yang ada di diri. Dan agar saya tidak menjadi sombong atas pujian-pujian itu.

Baca juga: Kalimat Indah dari Imam Syafi'i yang Menenangkan Hati.

Sumber gambar: pixabay.com

Cara Menyikapi Pujian

Pujian, memang sesungguhnya adalah ujian. Karena dari pujian orang lain, bisa saja malah menjerumuskan kita pada dosa, jika kita tak pandai menyikapinya. Pujian bisa membuat kita sombong, takabur, merendahkan orang lain, dan sebagainya. Na'udzubillahi min dzalik.
“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan) dan (3) ujub (takjub pada diri sendiri). HR. Abdur Razaaq 11: 304.
Sehingga jika pujian menyapa kita, hendaknya kita menyikapinya dengan introspeksi diri. Jangan terbuai dengan puja-puji orang lain. Lihatlah diri kembali, bahwa sesungguhnya lebih banyak kejelekan yang kita punya. Hanya saja, Allah subhanahu wa ta'ala masih menutupi aib-aib kita. Maka hendaklah kita memperbanyak istighfar (memohon ampunan kepada Allah subhanahu wa ta'ala). Dalam sebuah hadits, ada doa ketika kita menerima pujian:
“Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan.” HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 761.
Lalu bagaimana sikap kita kepada orang yang memberikan pujian? Ucapkan terima kasih, lalu bersikaplah biasa. Jika ada yang berlebihan memuji, katakan bahwa itu tak baik bahkan justru dilarang agama karena bisa menimbulkan fitnah (timbul ujub, menyombongkan diri) pada orang yang dipuji.

Kemudian, jangan berlagak sok pandai sok cantik sok bijak dan sebagainya. Karena ingat, prestasi yang kita raih atau kelebihan yang kita punya, tak akan ada pada kita jika tanpa seizin Allah azza wa jalla. Kita hanya memerankan sebuah lakon dalam episode kehidupan 😊.


Cara Menyikapi Hinaan

Selain pujian, sebaliknya ada hinaan atau caci maki yang terlempar pada kita. Mulai dari hinaan secara terang-terangan hingga berupa sindiran yang menyakitkan.


Sumber gambar: pixabay.com

Saya sendiri, alhamdulillah rasanya seumur hidup belum pernah dihina secara terang-terangan baik saat sendiri atau di depan umum. Kalau merasa tersindir, sepertinya pernah. Hehe. Saya memang lebih sering cuek alias tak peka pada omongan orang lain. Mungkin orang-orang pernah menyindir saya, tapi saya tak merasa. Hanya pernah sedikit merasa tersindir 😌.

Baca juga: Sebelum Berprasangka, Pikirkan Dulu Hal-hal Berikut Ini.

Menurut saya, cara untuk menyikapi hinaan adalah sebagai berikut:

👉 Dengarkan saja apa kata mereka. Biarkan mereka berkata apa saja. Jika sekiranya orang tersebut bisa diajak bicara (mau dijelaskan), jelaskan apa yang sebenarnya terjadi atau bagaimana kondisi kita sebenarnya. Namun sekiranya sebaliknya, cukup simak saja. Karena penjelasan kita hanya akan membuang energi. Kalau kata Imam Syafi'i:
Berkatalah sesukamu untuk menghina kehormatanku, karena diamku dari orang hina merupakan sebuah jawaban. Bukan berarti aku tidak mempunyai jawaban, akan tetapi tidak pantas bagi singa untuk meladeni anjing.

Sedangkan kata Ali bin Abu Thalib,

Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak percaya itu.

Hehehe.
Jadi tinggal kita lihat bagaimana karakter orang-orang yang menghina kita.

👉 Introspeksi diri. Barangkali, hinaan yang mereka arahkan pada kita ada benarnya. Barangkali kita memang sedang buruk tingkah laku atau ucapan kita. Barangkali kita memang sedang khilaf. Maka kita harus bertekad memperbaiki diri.

👉 Buktikan kalau kita bisa lebih baik dari apa yang mereka hinakan pada kita. Buktikan bahwa kita tak sehina itu. Buktikan dengan prestasi yang lebih baik atau apapun yang bisa mematahkan hinaan tersebut.

Demikianlah cara bijak menyikapi pujian dan hinaan menurut saya. Pada dasarnya, pujian dan hinaan sama-sama membutuhkan introspeksi diri. Keduanya bisa menjadikan diri kita lebih hati-hati dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi 😊.


Referensi:
https://muslim.or.id/35123-pujian-adalah-ujian.html




2 comments:

  1. Keren. Tulisannya ngena bgt.

    Kalau berkenan mohon krisannya dong kak untuk tulisanku di  Cerita Alister N. Makasih 🙏🙏

    ReplyDelete
  2. Kalo kata guru saya pujian itu menjerumuskan dan hinaan itu membangkitkan semangat

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.

Kumpulan Emak Blogger

WARUNG BLOGGER


Blogger Perempuan



Ibu-ibu Doyan Nulis


Mom Blogger Community


Followers

© 2016 dekamuslim | Powered by Blogger | Template by Enny Law