Pages

Awal Puasaku, Momen Terbaik Ramadhan Ini


Menjelang bulan Ramadhan kemarin, semua tampak biasa-biasa saja. Banyak ucapan selamat menyambut Ramadhan saya baca, disertai untaian-untaian doa. Sebagai muslim tentu saja saya termasuk yang berbahagia dengan datangnya bulan suci itu. Tapi bahagia yang biasa saja. Hingga momen itu menyapa.


Sumber: pexels.com

Di awal bulan, saya sudah berniat akan puasa Ramadhan sebulan penuh (kecuali jika berhalangan, misal menstruasi). Meski saya masih menyusui si nomer empat, tapi saat ini dia sudah berusia satu tahun. Sudah bisa makan beberapa menu makanan dalam jumlah banyak, enggak terlalu bergantung pada ASI dari saya. Jadi "jatah" meng-ASI-hi sudah enggak begitu padat 😊.

Saya santai. Dalam hati berkata, insya Allah saya siap! Tapi, tak ada perasaan istimewa dalam menyambut Ramadhan nan mulia itu. Pada malam pertama Ramadhan, saya pun sudah menyiapkan menu sahur. Menjelang tidur, saya shalat 'Isya' dan hendak melanjutkan dengan shalat tarawih (tentu saja saya mengerjakannya sendiri di rumah, karena enggak bisa ke masjid dengan bawa anak-anak kecil).

Ketika selesai shalat 'Isya' dan berdzikir serta berdoa, entah kenapa tiba-tiba ada perasaan yang aneh. Mungkin semacam perasaan haru, yang tiba-tiba muncul. Saya seperti disadarkan bahwa saya termasuk manusia yang beruntung, masih bisa bertemu dengan bulan Ramadhan di tahun ini. Saya pun seperti diingatkan untuk semestinya bisa mengisi bulan penuh berkah ini dengan amalan-amalan puasa yang bernilai pahala berlipat ganda...

Saya terharu. Saya seperti dielus-elus kepala saya, diingatkan dan dinasehati. Merasa disayang oleh Allah Sang Maha Segala. Saya menangis. Menyadari betapa beruntungnya saya. Sungguh, itu adalah momen yang istimewa. Awal puasa yang merupakan momen terbaik Ramadhan ini.

Momen itu hanya sebentar. Namun perasaan unik itu masih saya ingat hingga besoknya, besoknya lagi, hingga sekarang. Perasaan itu yang membuat saya beribadah lebih baik di hari-hari puasa Ramadhan ini. Meski, sayangnya, saya belum bisa istiqamah.


Sumber: pixabay.com

Mungkin dosa saya sudah terlalu banyak. Hingga sudah diingatkan dengan begitu indahnya, tapi kadang masih juga absen beribadah. Saya masih jarang mengerjakan amalan-amalan puasa dengan istiqamah. Masih bolong-bolong. Astaghfirullah.

Tapi, awal puasa yang istimewa itu berimbas juga pada perjalanan puasa saya di tahun ini. Alhamdulillah, ibadah puasa saya
 di bulan Ramadhan ini terbilang lumayan baik dan enggak berat. Seperti perkiraan dan harapan saya di awal bulan, enggak ada drama soal menyusui terkait puasa. Memang, sih, di awal puasa sempat lemas sebentar, tapi itu hanya penyesuaian tubuh saja terhadap aktivitas puasa. Selanjutnya enggak ada masalah.

Alhamdulillah, awal puasa yang baik berlanjut pada ibadah puasa Ramadhan yang cenderung ikut baik. Terima kasih, ya Allah, atas momen terbaik Ramadhan ini ❤️.



Diah Kusumastuti

Saya seorang ibu rumah tangga dengan 4 orang anak, Faiq, Fahima, Fauzia, dan Fahri. Asli Solo tapi sekarang berdomisili di Sidoarjo. Suka menulis tentang apa saja selama itu positif dan sebisa mungkin memberi manfaat bagi yang membaca. Menulis bagi saya adalah sarana refreshing dan agar otak terus bekerja :) Email: d3kusumastuti@gmail.com

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.