Monday, 18 September 2017

Pengalaman Pertama Si Kakak Cabut Gigi



*SPONSORED POST

Si Kakak usianya sudah tujuh tahun, tapi ini pengalaman pertamanya cabut gigi. Sekaligus, cerita pertamanya periksa gigi. What??! Iya, ironis sekali memang. Saya dan suami sebagai orang tuanya memang kurang niat yang kuat untuk urusan ini. Sekadar periksa gigi saja kami lalai hingga hitungan tahun. Maafkan kami, ya, Nak :(

Gigi si kakak tumbuh dengan posisi tak beraturan. Berantakan sekali pokoknya. Sudah 4 kali tanggal, lalu tumbuh gigi baru di tempat yang salah. Dan, selama ini kami selalu bilang nanti, nanti, dan nanti saja ke dokter giginya. Hingga beberapa hari yang lalu si kakak bilang kalau ada pemeriksaan gigi, mata, dan telinga di sekolahnya. Si kakak dapat “surat cinta” dari sekolah, yang isinya rujukan untuk pemeriksaan mata dan gigi ke Puskesmas. Yap! Kami lumayan kaget juga. Untuk gigi, memang sudah maklum. Tapi untuk mata? Ada apa dengan mata si kakak? Saya pikir selama ini baik-baik saja. 

Maka berbekal surat rujukan dari sekolah, jadilah Sabtu pagi kemarin (16 September 2017) saya ke Puskesmas mengantar si kakak untuk periksa gigi dan mata. Tak lupa, si adik nomor dua enggak mau ditinggal di rumah. Dia ingin melihat kakaknya diperiksa pak dokter. Hihihi. Maka, dengan seragam sekolah lengkap, pukul 06.40 si kakak kami antar ke Puskesmas. Sekitar lima menit kemudian kami sudah sampai di sana. Meski Puskesmas belum buka secara resmi (bukanya pukul 07.00), tapi nomor antri telah tersedia. Kami mendapat nomor 004. Kami pun kemudian duduk di kursi tunggu. Kami harap, dengan berangkat lebih pagi, kami tak akan menunggu terlalu lama.



Pukul 06.50. Masih sepi.


Menunggu Itu Membosankan 
Sudah pukul 07.00, tapi ternyata pemanggilan nomor urut belum juga dimulai. Menunggu hingga pukul 07.00 saja sudah terasa lama, tapi ternyata kami masih harus bersabar menanti para petugas kesehatan itu mulai bekerja. Lima menit, sepuluh menit, hingga lima belas menit lebih. Si kakak mulai kasak-kusuk enggak sabar. Kami jadi menyesal mengapa dia tadi enggak masuk kelas dulu. Toh, sekolahnya dekat banget dengan Puskesmas. Jadi nanti kalau gilirannya mau diperiksa, tinggal saya jemput. Ah, tapi sudah terlanjur!

Tasnya yang lumayan besar itu enggak pernah dilepas dari gendongannya. Dia memang sukanya begitu, mungkin sayang banget sama tasnya. Hehe. Hemm, harusnya tasnya itu ditaruh saja di kelas, jadi dia enggak perlu berberat-berat ria menggendongnya. Bawaan anak kelas satu SD zaman sekarang, tuh, beda dengan zaman saya dulu. Sekarang kelas satu bukunya sudah banyak dan besar/tebal-tebal. Alhasil tas jadi berat.

Bicara soal tasnya si kakak, dulu sebenarnya saya ingin beli online karena (seperti biasa) saya rempong kalau belanja secara offline (banyak anak, haha..). Tapi karena saat itu saya dan si kakak enggak menemukan model tas yang cocok di toko-toko online yang saya kunjungi, jadilah saya minta suami membelikan di toko dekat rumah (eh, agak jauh, sih, hehehe..). Enggak cocoknya di model dan harga. Pas modelnya cocok, harganya tinggi. Hihihi, dompet emak enggak bisa nutup :D.

Lha, kemarin pas buka-buka di salah satu e-commerce yaitu Tokopedia, ternyata banyak pilihan tas anak yang sesuai dengan selera saya. Maksudnya, ya, itu tadi, cocok dengan model dan harganya :). Iya, banyak pilihan dengan harga-harga yang terjangkau. Kesukaan emak-emak banget, kan, kalau seperti ini :D. Jadi, mungkin next time kalau mau beli tas anak, ya, di Tokopedia aja, deh.

Beberapa pilihan tas anak di Tokopedia.


Let's Go, Periksa Gigimu, Nak!
Setelah pukul 07.20, pemanggilan nomor urut baru dimulai. Ternyata ada nomor reguler dan nomor khusus untuk lansia (ya, maklum saya jarang ke Puskesmas, jadi baru tahu yang seperti ini). Nomor 001 hingga 003 rasanya lama sekali. Hingga akhirnya,
"Nomor 004 lansia!" 

Yahh... kirain. Hihihi. Kami harus menunggu lagi.
Beberapa menit kemudian...
"Nomor 004!"
Yap, itu nomor kami! Tepat pukul 07.40 kami mendaftar. 

Karena saya hanya membawa kartu Puskesmas dan KTP, tapi enggak bawa Kartu Keluarga (KK), jadilah saya kena biaya Rp.20.000,00. Yah, besok-besok lagi harus ingat bawa KK, ya! Biar gratis pendaftarannya :). Oiya, ternyata kemarin (hari Sabtu) hanya Poli Gigi yang buka. Sedangkan Poli Mata bukanya hanya di hari Rabu. Sehingga kemarin kami hanya bisa periksa gigi. It's okay! Jadi hari Rabu besok insya Allah kami akan ke Puskesmas lagi.

Setelah mendaftar, kami disuruh menunggu di ruang Poli Gigi. Yah, menunggu lagi! (ya, iyalah, Bukkk... semua harus mau antri kalau mau tertib! Hihi.). Kami menunggu sekitar 10 menit. Setelah itu nama si kakak dipanggil masuk ke ruang Poli Gigi. Jeng jeng...!!

Dokter yang memeriksa masih muda, laki-laki, ganteng #eh. Setelah si kakak berbaring, diperiksalah giginya. Kak dokter geleng-geleng kepala, sedangkan saya enggak pede (agak takut kalau dimarahin :D). Beliau menjelaskan kalau ada dua gigi baru yang tumbuh tidak pada tempatnya. Harusnya tumbuh di samping gigi seri, eh, ini tumbuh di sebelah dalamnya. Satunya juga begitu, gigi baru tumbuh di sebelah dalam gigi lama. Jadi kedua gigi lama posisinya menonjol ke depan dan gupis gitu. Selain itu, banyak gigi kakak yang berlubang. Duh!

Kata beliau, dua gigi yang menonjol ke depan itu harus segera dicabut, tapi enggak sekaligus. Harus gantian. Saat saya bertanya apakah pencabutan gigi bagian atas enggak ada efek buruknya ke mata, kak dokter malah balik bertanya, 
"Ibu tahu informasi itu dari mana?!" (sepertinya dengan nada agak sebal)
OMG!
"Ya, katanya orang-orang, Dok." (saya jadi berasa bego banget)
"Orang-orang siapa?"
(please.... Dok... :( )
"Ibu, jadi informasi yang ibu dapatkan itu salah. Pencabutan gigi bagian atas enggak ada pengaruhnya ke mata. Kalau sakit gigi, iya, bisa pengaruh ke mata. Kadang mata jadi ikut sakit."

Tapi... Sudahlah, saya enggak berani tanya lagi. Cuma, "oh gitu... oh gitu..." -_-
Dalam hati bilang, nanti Googling ajah.... :D
Dan ternyata setelah saya Googling, memang tidak ada hubungan langsung antara syaraf gigi dengan syaraf mata. Jadi insya Allah aman-aman saja untuk mencabut gigi bagian atas (tidak berpengaruh ke mata). Kecuali kalau ada keadaan khusus lain, seperti gigi sedang sakit lalu dicabut, dan sebagainya. Tetapi pada dasarnya tidak ada pengaruh buruk ke mata. (info dari berbagai sumber di internet).

Akhirnya satu gigi kakak dicabut. Dengan iringan kalimat bismillah bersama-sama, alhamdulillah kakak enggak nangis. Bahkan dia bisa senyum sambil menggigit kapas di mulutnya. Hehe. Untuk gigi satunya, insya Allah dicabut minggu ini atau minggu depan.

Selesai cabut gigi, petugas administrasi atau asisten dokter, entahlah (di ruang yang sama) memberitahukan perihal biaya. Saya ditanya, apakah punya kartu BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan? Saya jawab tidak. Emm... sebenarnya saya punya, sih, tapi sudah beberapa bulan ini belum bayar tagihannya -_-. Saya ragu apakah kartu itu masih bisa digunakan atau enggak. Jadi biar enggak lama-lama, saya jawab saja tidak punya. 

"Kalau begitu Ibu bayar Rp.25.000,00, ya."

Saya pun mengangguk. Tapi dalam hati agak menyesal, kenapa juga mesti nunggak bayar BPJS? Kan, lumayan dapat keringanan kalau berobat seperti ini. Ya, meski selama ini (alhamdulillah) memang jarang berobat, sih. Penyebab utama sampai nunggak beberapa bulan adalah rasa malas membayar. Biasanya suami yang membayar ke loket BPJS. Saya cuek saja selama ini. Hiks.

Padahal, sebenarnya ada cara mudah bayar BPJS Kesehatan. Kita bisa bayar BPJS Kesehtan Online di Tokopedia. Yah, saya memang baru tahu beberapa hari yang lalu, sih, setelah buka-buka e-commerce yang satu itu. Selama ini saya memang cuek banget, enggak tahu dan enggak mau tahu gimana cara mudah bayar BPJS Kesehatan. Kalau bisa online seperti ini, kita enggak perlu jauh-jauh dan antri bayarnya, jadi lebih praktis. Tinggal klik-klik di komputer (PC) atau bahkan di smartphone. So, insya Allah ke depannya bayar via Tokopedia saja kali, ya :).

"Sudah saya bayar di loket, Pak," kata saya setelah kembali pada petugas administrasi di ruang Poli Gigi. "Enggak perlu ada obat, ya?" lanjut saya.
"Enggak ada, Bu. (Uangnya buat) belikan es krim saja. Hehehe."

Wah, ini! Kedengeran sama anak-anak! Hehe. Anak-anak pun sumringah. Mereka langsung minta mampir beli es krim setelah keluar dari Puskesmas. Hemm, emak pun tak bisa menolak. Ya, hitung-hitung sebagai hadiah karena si kakak enggak nangis saat cabut gigi :).

Jam menunjukkan pukul 08.20 ketika kami sampai di sekolah si kakak. Teman-teman si kakak terlihat menyambut di pintu kelas. Saya dan si adik pun bergegas pulang. Selamat, ya, Kak. Pengalaman pertama cabut giginya sukses. Hehehe.



Si kakak dengan giginya yang tidak (belum) teratur :)


28 comments:

  1. Waah...Hazim juga baru sekali cabut gigi...sebelum SD tapinya ��

    ReplyDelete
  2. Baca ini jadi teringat dulu waktu SD aku juga pernah cabut gigi, bahkan sampe di bor giginya karena bolong..he

    Selamat ya, pengalaman pertama ini semoga bisa lebih rajin lagi merawat giginya, biar gak sakit :)

    ReplyDelete
  3. samaaaa...jadi inget masa kecil
    kalau udah masuk ke ruang dokter gigi, bawaannya pengen lari hahahaha

    ReplyDelete
  4. Whoaaa selamat yaaaa, dulu Manda kecil ke dokter gigi takut, hihihihi

    ReplyDelete
  5. huaa jadi deg-degan kalo anak sendiri cabut gigi

    ReplyDelete
  6. Emang urusan cabut gigi tuh full dramaaaa.... hahaha

    ReplyDelete
  7. Jadi ingat sulung sy yg ngeyel minta ke dokter gigi padahal giginya msh goyang dikit aka. Hehehe... Dan selalu minta es lrim dg alasan supaya darahnya cepat membeku.... Wkwkwk

    ReplyDelete
  8. Tuh kan komenku kmrn gak masuk :(
    Kmrn komen nanyain: ternyata dirimu di Krembung to? Rumah Pakdheku Tulangan hehe

    Aku blm pernah bawa anak cabut gigi, tapi usia setahunan pernah bawa Maxy nambal gigi. Hasilya histeris haha. Ini mau bawa anak2 ke dokgi lagi buat cek gigi. Dah lama gak ke dokter gigi. Harus disounding dulu biar gk takut ke dokter gigi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe.. iya i gak masuk tuh Mbak kemarin.
      Wah, Tulangan sebelah mana ya? Aku kalo sholat Ied mesti di Tulangan, Mbak :)

      Kalo pernah punya pengalaman kurang menyenangkan sama cabut gigi, iya sebaiknya disounding dulu sebelum berangkat :)

      Delete
    2. Tulangan mana ya haha, yg deket jalan gedhe yg suka dipakai jalan menuju Malang itu. Gk tau tepatnya :D

      Delete
  9. Wah! Si kakak hebat ya, udah berani ke dokter gigi. Aku aja ke dokter gigi pas umur 18 tahun :(

    ReplyDelete
  10. Saya mah cabut gigi juga di goyang2in sendiri hahahha... Dulu mah belum ada BPJS, kalo sekarang udah enak ditanggung BPJS...

    Kalo bersihin karang gigi ditanggung BPJS g yah mba?

    ReplyDelete
  11. Aku udah lama gak nyabut gigi, #yaiyalahudahgedheini

    Dulu waktu kecil nyabut gigi itu kalau udah ada gigi yg tumbuh. Semisal dia goyang tp blm ada gigi baru, ya goyang2 terus sampai copot. Pernah maksain dan berdarah banyak, hahaha

    ReplyDelete
  12. Ooh aku baru tau kalo toped menyediakan bpjs. Canggih bener ya. Hahaha

    Alhamdulillah, aku dan adek giginya aman2 aja, tumbuhny teratur dan tertib, hehehe. Cumaaa ya gitu, gigi kita besar2. Hahaha

    Wihihiiii selamat ya buat si kakak yg udah berani cabut gigi tanpa nangis. Selamat juga udah dapet eskriiiim, hihihi.. Hadiah sederhana yg membahagiakan 😍

    ReplyDelete
  13. Aku juga dlu cabut gigi pertama si puskesmas krna tkut kalo cabut drumah. Kadang aku males skrg ke puskes, suka pd jutek, tp mungkin gk semua sih hanya beberpa petugas saja. Pake bpjs gratis sih tapi ya begitu, aku kurang respek.

    ReplyDelete
  14. Uwoh, kalau bawa KK sama BPJS bisa ngirit juga ya wkwkwkwkw. Ku juga pernah ke dokter gigi tapi cuma tambal gigi deh kayanya, eh tentang mitos cabut gigi ngaruh ke mata ternyata gak di sini aja viralnya nyahaha, malah ada yang bilang bisa buta. Duh ngaco ternyata ini mah

    ReplyDelete
  15. Praktis banget sekarang bisa bayar BPJS di Tokopedia. Jadinya ga perlu cape-cape ngantri lagi ya Mbak hihihi tapi jujur untuk saat ini aku belum mendaftar BPJS. Karena masih diliputi banyak pertimbangan hehe

    ReplyDelete
  16. Kalau berobat ke puskesmas, daftarnya harus pakai KK, ya? Saya baru tau, berarti harus siap-siap.
    Yang saya tau, kalau cabut gigi bagian atas, berpengaruh sama mata. Ternyata enggak ngaruh ya...
    Dokternya keliatannya kesel, mbak? Mungkin karena banyak pasien yang beranggapan seperti itu hihihi

    ReplyDelete
  17. hihi si kakak, akhirnya cabut juga.
    bunda apa masih mengenalkan kalau ada mitos gigi atas dibuang ke bawah dan sebaliknya ya?

    untung bisa tercover dengan BPJS, kali lain jangan nunggak mbak kan sudah ada di toko hijau

    ReplyDelete
  18. asikk,,,yang berani cabut gigi. kalau aku SD dulu ngeri dengan kata cabut gigi mbak. perasaan agak horor-horor gimana gitu heheee

    ReplyDelete
  19. Baru tahu lho, bayar BPJS bisa online. Selama ini langsung dicover oleh kantor jadi nggak begitu tahu, taunya BPJS lancar, hehe

    ReplyDelete
  20. Jadi kalau saya mau cabut gigi juga, sebelumnya kudu diajak shoping ke olshop dulu dong ya. Waah, gawat kalau gitu bisa2 minta segala macam, sepatu lah, tas lah de el el. Hahaha..

    ReplyDelete
  21. waah aku jg udah lama ga ke dokter gigi nih mba, siapa tau ketemu dokter ganteng juga hehe..

    Bener banget ya mba pakai BPJS bermanfaat banget kalau ada keperluan seperti ini, apalagi bisa bayar lewat Tokopedia jadi lebih simple

    ReplyDelete
  22. tokopedia mah lengkap, apa aja bisa

    aku jg salah satu pedagang di tokopedia kok mb.. sering belanja jg

    enak sih sambil nunggu panggilan giliran periksa, bisa cuci mata ye kan..

    btw anandanya berani ya, tante aja sakit gigi dr 6 bln lalu blm berani jg ke dokter gigi... ngiluuu ngilu

    ReplyDelete
  23. Memang penting mengedukasi anak2 kecil untuk berani ke dokter gigi. Saya aja semenjak kelas 4 SD emoh periksa gigi Krn takut. Dan sekarang saya menyesal.

    ReplyDelete
  24. MashaAllah...gantengnya kaka.
    Memang masalah gigi ini sering dianggap sepele yaa, mba..
    Aku pun selama anak gak ngeluh sakit gigi, ga akan bawa ke dokter gigi.

    Dan ternyata anak nya pun begitu...kalau gak sakit sampe gusinya bengkak beberapa hari, dia gak ngomong.

    Duuh...
    dokternya sampe heran...kok anak-anak bisa nahan sakit gigi kaya gittuu...

    ReplyDelete
  25. Duh jd tertampar baca tulisan ini
    Saya bawa anak ke dokter gigi juga saat giginya sakit
    Padahal harusnya 6 bulan sekali ya
    Ok deh...ntar dibawa deh periksa gigi susunya yg mulai bolong

    ReplyDelete
  26. Hemm wah anaknya pemberani ya biasanya kan anak anak takut untuk cabut gigi apa? Apalagi tidak pake bpjs langsung bayar aja mantav banget ini. Dan oia tokopedia memang banyak banget sih menyediakan barang barang bagus dan berkualitas

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.

Kumpulan Emak Blogger

HALO BALITA


Ibu-ibu Doyan Nulis


Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Followers

Alexa Rank

© 2016 DeKa | Powered by Blogger | Template by Enny Law