Thursday, 30 March 2017

Kalau Jadi Kakek-Nenek, Kami Tak Ingin Melakukan Hal-hal Ini Pada Anak-Cucu Kami


http://www.dekamuslim.com/2017/03/kalau-jadi-kakek-nenek-kami-tak-ingin.html



Kalau Jadi Kakek-Nenek, Kami Tak Ingin Melakukan Hal-hal Ini Pada Anak-Cucu Kami
Jika Allah SWT mengizinkan saya dan suami berumur panjang, dan merasakan menjadi seorang kakek-nenek, kami tak ingin melakukan hal-hal berikut ini pada anak-cucu kami. Kenapa? Karena kami merasakan enggak enaknya diperlakukan seperti itu. 

Yang saya tuliskan kali ini adalah sedikit sisi negatif yang saya rasakan saja, yang tentunya ada lebih lebih dan lebih…. banyak sekali kebaikan-kebaikan dari seorang nenek/kakek (bapak ibu saya) yang dilakukan kepada anak-anaknya maupun cucu-cucunya selama ini. 

Hanya saja seringkali saya berdoa, juga berdiskusi dengan suami. Semoga, jika kelak kami telah menjadi kakek-nenek, kami tidak akan sering membuat anak-anak dan cucu-cucu merasa sebal atau sakit hati atas tingkah laku kami. Konon, saat kita berusia lanjut, sikap kita akan kembali seperti kanak-kanak. Ingin diperhatikan, ingin didengar, ingin diistimewakan. Tapi, kami berdoa dan berjanji, tidak akan membebani atau melukai perasaan anak-cucu kami. 

Kadang saya bertanya pada suami, 
"Apakah kita nanti kalau sudah jadi kakek-nenek, kita juga akan seperti mereka, ya?"
"Semoga kita tak akan membebani anak-anak kita di masa tua nanti, ya."

Saya dan suami tinggal serumah dengan orangtua, yang sering mengalami perbedaan pendapat dalam berbagai hal. Baik dalam kebiasaan-kebiasaan, pendapat-pendapat akan suatu masalah, hingga cara mendidik anak. Tinggal serumah dengan orangtua memang ada enak dan enggak enaknya. Dan yang saya tuliskan ini hanya sebagian sisi enggak enaknya, yang tentu saja ada pula sisi enaknya :).

Oke, berikut ini hal-hal yang kini biasa dilakukan oleh kakek-neneknya anak-anak, dan tak ingin kami (saya dan suami) lakukan ketika kami mejadi kakek-nenek: 




Selalu ingin tahu masalah rumah tangga anak-anaknya. 
Anak lagi ngobol sama suami/istri di kamar, eh, saat keluar ditanya, “Ngomongin masalah apa tadi?”
Anak pulang dari bepergian, ditanya, “Tadi dari mana saja, acaranya ngapain aja, makan di mana, bawa oleh-oleh apa ke si A, …. “. 
Duh, enggak enak banget. Masa iya semua urusan rumah tangga harus diceritakan sama orang tua? Enggak enak banget "diinterogasi" seperti itu, kan? Apalagi untuk kakek-nenek yang tinggal serumah dengan anak-cucunya. Kadang mereka pengen tahu…. saja… urusan rumah tangga anaknya. Kelak, saya tak ingin melakukan itu. Karena saya merasakan enggak enaknya diperlakukan seperti itu. 

Menanyakan gaji atau penghasilan apapun dari anak-anaknya. 
Ditanya besarnya nominal gaji/penghasilan itu enggak enak, terutama buat yang penghasilannya pas-pasan seperti saya dan suami. Karena kadang dibanding-bandingkan dengan penghasilan saudara lain. Kadang dihitung-hitung, penghasilan sebesar itu, kok, bisa habis dalam waktu sekian hari. Kadang dikomentari, punya penghasilan segitu, kok, enggak bisa beli ini-itu. 

Makanya, kami tak ingin melakukan itu pada anak-anak kami nanti. Biarlah, tak perlu mengetahui seberapa besar penghasilan mereka. Kalau mereka terlihat cukup hidupnya, kami anggap mereka tak ada masalah dalam hal keuangan. Terserah mereka mau menghabiskan penghasilan itu dengan cara seperti apa, untuk apa saja, itu urusan mereka. Yang perlu kami ingatkan adalah: menyisihkan sebagian peghasilan untuk zakat, infaq, dan shadaqah. Cukup mengingatkan saja, tak perlu bertanya detail disumbangkan ke mana saja, berapa besarnya, dan lain-lain. 

Ikut campur dalam mendidik cucu-cucunya.
Kakek-nenek, mungkin karena sayang dengan cucunya juga, seringkali ikut campur dalam mendidik anak-anak kita. Tapi, seringkali pula kita sebagai orangtua dari anak-anak merasa tidak cocok dengan model mendidik mereka. Apalagi kami tinggal serumah, gesekan-gesekan itu seringkali muncul.

Misal anak bermain pasir dilarang, dengan alasan mengotori rumah. Atau si kakak dan si adik bertengkar lalu si adik cepat-cepat dibawa pergi, dengan alasan agar tidak rame. Padahal saya ingin mereka belajar memecahkan masalah melalui pertengkaran itu (tentu saja dengan saya dampingi). Atau, mereka ingin cucunya bersekolah di sekolah A, padahal kami orangtuanya sudah memilihkan sekolah B.

Anak-anakku, kelak, jika kami telah menjadi kakek-nenek, kami tak ingin mencampuri cara kalian dalam mendidik anak-anak kalian. Kami hanya ingin mensupport, memberi saran. Jika saran kami tak diterima, kami juga tak akan memaksakan kehendak.

Membentak atau mencubit/memukul cucu-cucunya. 
Anak-anak seringkali melakukan hal-hal yang tidak kita (orang dewasa) inginkan. Bermain sepanjang hari, ramai, berisik, teriak-teriak, membuat rumah kotor atau berantakan, dan lain-lain. Kadang kakek-nenek terbatas kesabarannya. Maklum, karena di masa tua mungkin mereka butuh ketenangan. Alhasil bentakan atau bahkan cubitan/pukulan mendarat pada anak-anak itu. 

Ya, anak-anak saya sering dibentak dan beberapa kali dicubit/dipukul oleh neneknya. Meski cubitan/pukulan itu mungkin tak terlalu sakit, tapi rasanya hati saya sakit sekali. Itu anak saya! Orang lain tak berhak melukainya. Apalagi jika dibentak, dicubit, dipukul dengan penuh kemarahan. Sakit sekali menyaksikannya. 

Sebagai orangtuanya, tak terhitung saya telah menasehati anak-anak, tapi mereka memang masih dalam proses belajar (anak sulung kami berusia 7 tahun), dan proses itu sepertinya memang tidak bisa dalam waktu singkat. Tingkah laku mereka yang membuat marah selalu terulang dan terulang lagi. Saya dan suami pun sering memarahi mereka, membentak, tapi setelah itu saya elus, saya nasehati baik-baik. Iya, saya sering marah pada anak-anak, tapi marah dengan kasih sayang. Bukan marah seperti marah pada musuh. 

Anak-anakku, kami, orangtuamu, tak akan melakukan hal itu pada anak-anak kalian kelak. Insya Allah. 

Berbicara tidak baik pada cucu-cucunya. 
Semarah atau sekesal apapun terhadap tingkah laku bocah-bocah kecil itu, saya tak ingin berkata tidak baik (kasar, atau umpatan) pada mereka. Saya tidak ingin kata-kata buruk itu melekat dalam ingatan mereka lalu membentuk karakternya. Misal mengatakan “anak nakal”, “kurang ajar”, atau kata-kata buruk lainnya. Karena yang saya tahu, melabeli anak-anak dengan label buruk seperti itu hanya akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang kurang baik pula. 

Tapi anak-anakku, semoga kalian akan tumbuh menjadi pribadi yang baik, shalih dan shalihah, dengan bekal doa dan didikan kami, orangtuamu. Kami pun tak ingin melabeli anak-anak kalian kelak dengan label yang buruk. 




Pendidikan parenting mungkin selalu berubah mengikuti perkembangan jaman. Dulu, di masa kecil saya, orangtua saya mendidik dengan cara keras dan disiplin tinggi (hingga sekarang). Tak boleh ada bantahan dari anak-anak. Tak ada diskusi atau musyawarah kalau perintah sudah terucap. Kritik dari anak-anak untuk orangtua itu tabu, artinya anak dianggap berani pada orangtua. Saya yakin tujuannya baik. Tapi saya tidak setuju dengan caranya.

Pendidikan semacam itu saya pikir juga tidak relevan lagi jika diterapkan untuk saat ini, khususnya untuk anak-anak saya. Karena semakin dikerasi, anak-anak saya semakin menjadi-jadi, bahkan cenderung menjadi destruktif. Saya pun membuka diri jika anak membantah, mendengar “pembelaannya” lalu bila perlu memberikan nasehat. Bahkan meminta maaf pada anak jika memang saya salah. 

Mungkin, saat saya dan suami saya menjadi kakek-nenek nanti, pendidikan parenting juga akan mengalami pergeseran lagi. Entah seperti apa. Saya berjanji, saya akan menyesuaikan diri dengan perubahan itu. Mungkin akan sulit, atau bagaimana. Tapi jika tak mampu memberikan pendidikan yang baik pada cucu-cucu saya, lebih baik saya diam. 

Semoga, jika kelak saya dan suami telah menjadi kakek-nenek, tulisan ini masih ada. Dan akan menjadi pengingat untuk diri saya sendiri dan suami saya. Sekali lagi, ini hanya sedikit catatan sebagai bahan introspeksi diri. Saya tahu, begitu banyakkkk kebaikan dan jasa dari orangtua saya yang tak bisa saya sebut satu per satu. Dan seorang anak tak akan mampu membalas kebaikan-kebaikan itu. Semoga, hari ini hingga kelak saya bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak dan cucu-cucu saya. Aamiin.



27 comments:

  1. Jadi reminder ya mba. Aku tuh biasanya kepo. HIhihii. Niatnya baik tapi kuatir bisa disalah artikan ya :)
    Makasih sudah berbagi mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, jadi reminder buat saya pribadi khususnya :)

      Delete
  2. memang kalo udah berkeluarga dan tinggal masih serumah sama orang tua banyak gesekannya ya mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Cara berpikir kita pasti tidak sama. Apalagi generasinya juga beda jauh. Banyak perbedaan pokoknya :)

      Delete
    2. semoga kelak kita bisa menjadi nenek yang lebih bijak :)

      Delete
  3. Sebenarnya saat belum nikah, saya selalu ingin jadi istri itu nanti harus begini dan jadi orangtua nggak boleh begitu. Tapi kenyataannya setelah menikah, kok saya jadi mirip yang tidak saya inginkan itu ya. Hehehe
    Nah, saya jadi kepikiran kelak kalau udah nenek-nenek jangan2 saya sama aja kayak nenek2 pada umumnya(?).
    Terutama bagian dua dari bawah. Jangan sampai saya jadi orangtua yang suka ngomel2, bentak2 cucu, masih suka gosipin tetangga. Semoga jangan deh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya,Mbak. Memang kadang tanpa sadar justru kita sudah terbiasa meniru karakter ortu kita. Makanya saya bikin ini sebagai reminder. Semoga kelak bisa lebih baik berperan sebagai nenek :)

      Delete
  4. Aku juga pengen bikin catetan begini buat reminder tapi takutnya kayak buka aib, anaknya kalau kadung curhat suka ceplas ceplos soalnya, wkwk.

    Kayaknya yang paling sering terjadi di semua kasus itu, kakek nenek ikut campur masalah pola asuh anak ya? Tapi kita aja yang muda kadang suka gatel juga gak sih ngomenin ibu lain yang pola asuhnya gak sama dg yang kita anut? Hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ceplas ceplos tapi bijak kok. Aku yakin, deh :)

      Btw, kita suka gatel ngomenin ibu lain?
      Mbak Mer aja kali.. hahaha..
      Kalo aku, sekarang berusaha sekiuat mungkin utk positive thinking aja dlm segala hal, termasuk pola asuh ibu lain.

      Eh, bumil jangan baper ya kalo baca komen ini :D

      Delete
  5. Namanya beda kepala beda pemikiran ada aja bedanya ya Mba', sama aku juga kadang gitu. Tapi semoga ketidaksamaan itu tidak membuat kita menyakiti mereka ya, bagaimanapun karena mereka kita ada. Nice sharing Mba'.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener, Mbak. Beda kepala beda pemikiran. Dan kepalanya 4 kumpul dalam satu rumah. Hihihi. Meski kadang sakit hati, pasti akan ada "obatnya" setelah itu. Begitu terus.. :)

      Delete
  6. "Semoga kita tak akan membebani anak-anak kita di masa tua nanti, ya." Point itu juga yang sering saya diskusikan dengan suami sekiranya Allah memberi kami umur panjang. Sebenarnya pelajaran "jangan pernah jadi beban orang lain" itu senantiasa ditekankan almarhum Bapak pada kami anak-anaknya. Alhamdulillah, dapat suami yang berprinsip sama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Kasian jika anak-anak terbebani oleh tingkah laku atau kepentingan2 kita..

      Delete
  7. Btw anakku dah mo nikah nih. Hal pertama yg dirasakan itu, aku jadi suka kepo krn dulu anakku jadiin aku temen curhat dia eh sekarang gak pernah lagi. Curhatnya ama calonnya. Ini yg bikin kepo. Nahan diri utk tidak kepo itu susah loh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow, mbak Ade udah mau punya menantu ternyata... Hihi.. alhamdullilah..
      Saya kadang juga mikir gitu Mbak, dulu saat kecil masalah anak2 ortu tau semua, pas sudah menikah ada hal-hal yang gak bisa ortu tau. Mungkin itu ya bikin selalu kepo.

      Intinya kita sbg ortu harus memahami dong, Mbak, bahwa anak2 akan berubah menjadi dewasa, dan dunia mereka pun berubah. Enggak melulu dalam pelukan ibunya :D

      Delete
  8. jleb banget mbak, saya sampai saat ini tidak pernah tinggal serumah dengan orang tua atau mertua, itu pun kadang merasa ada hal hal yang tidak sepaham. saya sadar juga generasinya sudah beda, semoga kelak kita bisa jadi kakek nenek yang menyenangkan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Tinggal serumah dengan 4 kepala orang dewasa itu campur2 rasanya :D
      Ada enaknya, tapi ada juga gaj enaknya.
      Iya, semoga kita bisa jadi kakek nenek yg menyenangkan :)

      Delete
  9. Tinggal dengan orang tua sendiri bigitu ya bun perasaaannya. Apalagi klo yang tinggal ama mertua gimana ya ? Semoga kita bisa mengambil pelajarannya ya. Terima kasih sudah mengingatkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Tapi tiap orang pasti kondisinya beda-beda :)
      Btw saya belum pernah merasakan tinggal bersama mertua, karena sejak menikah kedua mertua telah tiada.
      Mungkin jika tinggal bersama mertua juga ada rasa nano-nanonya.
      Disyukuri aja :)

      Delete
  10. Penginnya sih cucu2 sama aku. Aku kan bisa nyetir antar jemput mereka sekolah. Biar saja bapak ibunya berkarier keliling dunia. Hahahaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh, Mbak Lusi.. aku ngebayangin ketawanya kok kayak nenek-nenek yang mau menguasai cucu-cucunya, ya :D :D :D
      Btw emang gak rempong Mbak kalo cucu-cucu sama mbak Lusi semua? Hemm... :D

      Delete
  11. Mirip banget sama pengalamanku apalagi mertua masi mending kalo orgtua sendiri aku masih bisa protes klo ma mertua paling makan ati. Aku rasa emang semua orangtua begitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya enggak semua orangtua begitu deh, Mbak. Ada beberapa sifat yg sama, tapi banyak juga yg beda. Dasarnya sifat manusia kan beda-beda, ya :)

      Delete
  12. Trauma ikut mertua persis apa yg bunda ceritain. Fix setelah saya baca artikel bunda, bunda cocok untuk jadi mertua anak perempuan saya. Ayo bun kita jodohkan anak kita nanti hehe... Just kidding

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahaha... Kok endingnya gitu sih, Mbak?
      Tapi konon serumah sama mertua emang lebih serem ya. Meski enggak semua gitu juga..

      Delete
  13. i feel u mba dan saya sepakat dengan yang mba sampein semoga aku dan suami tidak melakukan hal2 yang menurut kami ga enak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Semoga kita bisa jadi kakek-nenek yg lebih baik ya kelak :)

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.

Kumpulan Emak Blogger

HALO BALITA


Ibu-ibu Doyan Nulis


Priceza


Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Followers

Alexa Rank

© 2016 DeKa | Powered by Blogger | Template by Enny Law