Tuesday, 5 April 2016

[Nutritalk] Kenali Alergi Sejak Dini, Agar Tumbuh Kembang Anak Tidak Terhambat



http://www.dekamuslim.com/2016/04/nutritalk-kenali-alergi-sejak-dini-agar.html


Saya dan suami bukanlah penderita alergi. Sedangkan anak sulung saya, pernah diduga oleh dokter mengalami alergi protein telur namun kami belum memeriksakannya lebih lanjut. Saat itu karena setelah berobat kemudian gatal-gatal yang ada di kakinya sembuh, maka kami pun tidak melakukan tindakan medis apapun untuk mengetahui apakah benar anak saya mengalami alergi. Toh, setelahnya anak saya tidak pernah mengalami gatal-gatal seperti itu lagi meskipun dia mengonsumsi telur hampir setiap hari. 

Namun dengan riwayat kesehatan terutama terkait alergi yang cenderung “aman” seperti itu, tidaklah menghalangi saya untuk datang di acara Nutritalk yang diadakan oleh Sarihusada-Nutrisi untuk Bangsa pada hari Kamis kemarin. Ya, pada hari itu, tanggal 31 Maret 2016 dan bertempat di Hotel JW Marriott Surabaya, Sarihusada mengadakan diskusi gizi dengan tema: “Early Life Nutrition: Dasar-dasar dan Pedoman Praktis Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak dengan Alergi Protein Susu Sapi”. Saya pikir, saya pasti akan mendapat ilmu baru tentang alergi yang akan saya bagi pada para pembaca blog ini. Dan siapa tahu, ilmu tentang alergi itu berguna juga untuk saya pribadi bersama keluarga. Apalagi, saat ini saya sedang hamil. Hemm… ilmu terkait tumbuh kembang anak harus terus ditambah demi anak-anak! :). 


Beberapa booth di acara Nutritalk.


Setelah tiba di lokasi acara dan melakukan registrasi, para undangan langsung disuguhi dengan informasi-informasi awal mengenai alergi, khususnya #AlergiProteinSusuSapi yang menjadi bahasan utama Nutritalk kali ini. Ada pula beberapa booth untuk informasi lebih lanjut dan games tentang alergi. Ada booth 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan), Mengenal Gejala Alergi Susu Sapi (di sini kita bisa print foto kita yang diperagakan saat sebelum dan sesudah terkena alergi), Playground, Allergy Care, dan booth Alergi Anak. Undangan diberi kartu passport untuk ikut games di booth 1000 HPK, Allergy Care, dan Alergi Anak. Nantinya kartu passport itu akan dikasih stempel untuk kemudian ditukarkan dengan gimmick dari Sarihusada. Yey! 


Risiko Alergi pada Anak 
Di booth Allergy Care kami mendapat gambaran tentang risiko alergi pada anak. Gambarannya adalah seperti berikut ini: 




Apabila kedua orangtua memiliki riwayat alergi, maka risiko anak terkena alergi akan semakin tinggi. Tetapi, jika kedua orangtua tidak memiliki riwayat alergi pun, anak tetap punya risiko alergi. Ternyata anak juga bisa memiliki risiko alergi 5-15%, lho, meskipun kedua orangtuanya tidak memiliki riwayat alergi. Kemudian jika saudaranya memiliki riwayat alergi, anak memiliki risiko alergi sebanyak 25-30%. Nah… ini merupakan rambu-rambu bagi saya, bahwa saya harus tetap menjaga si kecil yang masih ada dalam kandungan agar dia tidak mengalami alergi nantinya. Kebutuhan nutrisinya harus betul-betul saya perhatikan selama 1000 HPK-nya, yaitu sejak awal kehamilan hingga dia berusia 2 tahun (semoga sehat selalu, ya, Nak :) ). Ini baru informasi awal tentang risiko alergi, yang ternyata bermanfaat banget untuk ibu dengan putra-putri kecil sekaligus bumil seperti saya. 

Selanjutnya, setelah puas mengunjungi booth-booth yang ada dan menikmati coffee break, saatnya siap menerima materi. Nutritalk yang dipandu dan dimoderatori oleh dokter cantik Dr. Lula Kamal ini membahas mengenai pentingnya menyadari faktor risiko alergi pada anak, mengenali gejala-gejala alergi, dan menyadari peran penting nutrisi yang tepat di awal kehidupan bagi optimalisasi tumbuh kembang anak dengan alergi protein susu sapi. Seperti hasil riset yang menyebutkan bahwa 1 dari 12 anak memiliki risiko alergi protein susu sapi, sedangkan 1 dari 25 anak telah mengalami alergi protein susu sapi. Maka hal ini perlu diantisipasi sejak dini dengan mengetahui seluk-beluk alergi, agar anak dengan alergi protein susu sapi dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.


DR. Dr. Anang Endaryanto, SpA(K).

Manajemen Terpadu dari Alergi Protein Susu Sapi 
Materi pertama disampaikan oleh bapak DR. Dr. Anang Endaryanto, SpA(K), yang merupakah Ahli Alergi Imunologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Airlangga RSU Dr. Soetomo. Tema materinya adalah “Manajemen Terpadu dari Alergi Protein Susu Sapi”. Dr. Anang memberikan penjelasan mulai dari definisi alergi, penyebab alergi, penanganan alergi, cara menduga penyebab alergi, gejala alergi susu sapi, hingga pencegahan alergi. 




Alergi adalah reaksi yang berbeda atau menyimpang atau abnormal terhadap rangsangan zat dari luar tubuh. Penyakit alergi timbul karena sistem imun anak memiliki sensitivitas yang berlebihan terhadap protein asing yang bagi individu lain tidak berbahaya. Penyebab alergi (alergen) bisa berasal dari makanan, debu rumah, dan bulu binatang. Meski sepertinya kurang mendapat perhatian dari para orangtua jika kondisi anak yang terkena alergi masih tergolong ringan, namun jika kondisi ini dibiarkan akan berakibat jangka panjang yang sangat mengkhawatirkan. Karena alergi dapat merugikan tumbuh kembang anak. 


Kartu Deteksi Dini Risiko Alergi (UKK Alergi-Imunologi), yang diterbitkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).


Dr. Anang menjelaskan lebih lanjut tentang perhitungan alergi seperti yang saya dengar di booth Allergy Care sebelumnya. Menurut beliau, “Sebesar apapun risiko alergi yang dimiliki anak, penanganan sedini mungkin perlu ditempuh, sehingga anak terhindar dari dampak jangka panjang alergi dan tumbuh kembang anak tidak terhambat. Penanganan tersebut adalah mengenal gejala alergi, alergen pemicu, dan memantau asupan nutrisi.” 

Melalui Kartu Deteksi Dini Risiko Alergi seperti dalam gambar di atas, kita dapat menghitung risiko alergi pada anak, sehingga penanganan alergi dapat dilakukan sedini mungkin, setepat mungkin, dan sekomprehensif mungkin. Semakin tinggi nilai yang didapat, maka tingkat risiko alergi pada anak juga semakin besar. Pada kasus saya, karena saya dan suami tidak memiliki riwayat alergi, dan anak pertama pernah diduga terkena alergi, maka nilainya adalah 1 (satu). Artinya anak saya yang kedua dan yang masih ada dalam kandungan (anak ketiga, insya Allah) mempunyai tingkat risiko alergi sedang (20-40%).

Mengapa alergi harus dikenali dan ditangani sejak dini? Karena anak terutama yang mengalami alergi makanan rentan terkena alergi dari luar (debu rumah dan bulu binatang), dan hal ini berisiko menyebabkan penyakit komplikasi seperti asma dan saluran pencernaan. 

Untuk menangani risiko bayi terkena alergi, hal-hal yang perlu dilakukan secara efektif adalah: 
  1. Deteksi dini alergi: bayi tersebut alergi atau tidak? 
  2. Deteksi jenis alergi: bayi tersebut alergi terhadap apa? 
  3. Kontrol penyebab alergi: bayi tersebut harus diapakan? 
Jika gejalanya batuk/pilek, berikut cara membedakan antara alergi atau infeksi:

Alergi atau infeksi?

Kemudian cara menduga penyebab alergi adalah sebagai berikut:  
  • Makanan: diet eliminasi selama 2-3 minggu, diamati, lalu dilanjutkan diet provokasi (misal minum susu sapi seminggu, jika kembali dampaknya, berarti dia alergi).
  • Bulu binatang: eliminasi selama minimal 6 bulan, amati, dan dilanjutkan provokasi.
  • Debu rumah: tidak bisa dielimininasi. Jika bersin dan atau pilek setelah terkena debu, maka itu alergi 
Sedangkan tes untuk mengetahui alergi secara medis yaitu dengan "Scratch Test" (kulit sedikit digores-gores).


Alergi Protein Susu Sapi 
Dari semua alergi, yang paling menggangu pertumbuhan dan perkembangan adalah alergi protein susu sapi. Mengapa? Karena alergi ini menjadi "biang" bagi jenis alergi lain, yang menyebabkan berat badan dan tinggi badan kurang, dan anak akan mengalami gangguan perilaku/emosi. Alergi susu sapi berisiko meyebabkan penyakit/alergi lain yaitu: asma (71% ), pilek, eksim, alergi debu rumah.

Gelaja alergi protein susu sapi yaitu:
  • Gejala pada kulit: bentol merah gatal, gejala Dermatitis Atopic (bentol merah berisi cairan, kulit kering dan gatal).
  • Gejala pada saluran nafas: bersin-bersin disertai gatal di hidung, hidung tersumbat, ingus encer, batuk berulang, gejala asma (sesak nafas dan nafas berbunyi).
  • Saluran cerna:  diare, muntah, nyeri perut, kolik, BAB disertai tinja berdarah. 

Lalu bagaimana cara mendiagnosis alergi protein susu sapi? Caranya adalah dengan: 
  • mengetahui riwayat perjalanan penyakit, 
  • kemudian mengetahui catatan makanan harian, 
  • dilanjutkan dengan uji alergi jika diperlukan, 
  • lalu uji eliminasi dan provokasi. Uji eliminasi dan provokasi ini dilakukan dengan cara: diet minum susu sapi selama 2-3 minggu, diamati, lalu dilanjutkan diet provokasi (minum susu sapi seminggu (7 hari)), jika kembali dampaknya, berarti dia alergi.

Anak-anak dengan alergi protein susu sapi akan memberikan reaksi abnormal terhadap asupan nutrisi yang mengandung protein susu sapi karena interaksi antara satu atau lebih protein susu dengan satu atau lebih mekanisme kekebalan tubuh. Alergi protein susu sapi ini bukan hanya terjadi pada anak yang mengonsumsi susu formula yang merupakan produk utama dari susu sapi, tetapi bisa berasal dari produk olahan susu sapi lainnya. Seperti macam-macam kue, es krim, permen, dan berbagai makanan dengan bahan susu sapi di dalamnya. Padahal, produk olahan seperti itu banyak sekali, bukan? Dan kebanyakan memang disukai anak-anak. Namun, anak-anak yang mempunyai “bakat” alergi (atopi) akan memberikan reaksi yang berlebihan jika mengonsumsinya. 

Jika anak telah mengalami alergi protein susu sapi, maka tata laksana untuk penanganannya adalah dengan:
  1. Mengindarkan protein susu sapi dan produk olahannya.
  2. Pemberian ASI (tapi ibu pantang mengonsumsi susu sapi dan produk olahannya).
  3. Pemberian susu formula terhidrolisis parsial, formula asam amino, atau susu soya.


DR. Dr. Ahmad Suryawan, SpA(K).

Dampak Alergi terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak 
Materi kedua disampaikan oleh bapak DR. Dr. Ahmad Suryawan, SpA(K), beliau adalah Ketua Divisi Tumbuh Kembang Anak dan Remaja Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSU Dr. Soetomo. Tema yang diangkat adalah “Dampak Alergi terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak”. Dr. Ahmad Suryawan menegaskan pentingnya nutrisi dan stimulasi bagi tumbuh kembang anak untuk membentuk kecerdasannya. Kedua faktor ini harus diperhatikan terutama di masa kritis, yaitu sejak dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun (pada masa 1000 HPK). 

Dr. Ahmad Suryawan menyebutkan, “Apabila seorang anak sampai terkena alergi, maka hal ini bisa mempengaruhi status kesehatannya sehingga ke depannya bisa mempengaruhi kualitas hidupnya. Seperti gangguan pada perilaku sosial, performa di sekolah dan prestasi akademiknya.” Mengapa demikian? Karena alergi dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Gangguan pertumbuhan pada anak alergi adalah menyangkut: berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala. Sedangkan gangguan pada perkembangannya adalah: penglihatan/pendengaran, motorik, kemampuan bicara, dan personal sosial-emosi

Ternyata alergi bisa menghambat tumbuh kembang anak sedemikian serius, ya? Karena jika anak mengalami alergi akan menyebabkan hal-hal berikut terjadi
  1. Dampak perjalanan alami kondisi alergi. Alergi biasanya kambuhan (hilang/timbul), sehingga sulit diprediksi kapan munculnya. Kemudian orangtua akan sangat berhati-hati dalam hal makanan, sehingga melakukan diet/pantang yang berlebihan. Akibatnya? Nutrisi menjadi berkurang. Kemudian apabila alergi sudah berat, anak akan sering keluar masuk rumah sakit. 
  2. Efek samping obat-obatan. Otomatis dengan seringnya mengonsumsi obat-obatan akan punya efek samping. Pada alergi ringan, efek sampingnya bisa mengantuk, rewel, atau sulit makan. Jika alergi sudah berat, maka akan mengganggu pertumbuhannya. 
  3. Alergi yang kronis/berkepanjangan, yang akan menyebabkan aktivitas-aktivitasnya terganggu, pola tidur terganggu, anak dan orangtua mengalami stress, gangguan pertumbuhan, dan gangguan perkembangan dan perilaku emosi. 
  4. Aspek lingkungan. Anak yang mengalami alergi seringkali menjadi korban bullying di lingkungannya, entah lingkungan rumah atau sekolah. Hal ini bisa menimbulkan stress pada anak juga orangtua. 

Hal-hal seperti di atas tentu akan sangat menguras energi dari si anak penderita alergi maupun orangtuanya. Tak heran jika kemudian pertumbuhan dan perkembangan anak terganggu. Bayangkan jika dalam jangka waktu yang lama anak menderita alergi, nutrisi yang masuk ke dalam tubuhnya menjadi berkurang, dan perkembangan emosinya juga tak bisa optimal. Bahkan anak yang menderita alergi perkembangan perilakunya akan terganggu empat kali lipat dari anak yang tidak alergi.

Sedangkan pertumbuhannya akan terganggu karena ada asupan nutrisi tertentu yang sebenarnya mengandung gizi yang dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembangnya yang optimal, tetapi tidak bisa ditoleransi oleh tubuhnya. Misalnya anak perlu susu untuk menambah asupan nutrisinya, tetapi ternyata dia alergi terhadap protein susu sapi. Sehingga harus diupayakan asupan nutrisi sebagai pengganti protein susu sapi tersebut. 

Salah satu intervensi nutrisi yang dapat dilakukan adalah pemberian nutrisi dengan protein terhidrolisasi parsial. Yaitu sebuah hasil dari teknologi yang memotong panjang rantai protein menjadi lebih pendek dan memperkecil ukuran massa molekul protein, sehingga protein akan lebih mudah dicerna dan diterima oleh anak. Jadi, susu sudah tidak mengandung protein utuh setelah melalui proses enzimatik, sehingga zat yang menjadi pencetus alergi sudah diminimalkan sedemikian rupa. 

Menurut Dr. Anang, pemberian susu hidrolisis parsial ini berdasarkan studi di Filipina, Malaysia dan Singapura terlihat dapat menurunkan risiko secara substansial terjadinya Dermatitis Atopik (eksim) dan berkaitan baik langsung maupun tidak langsung terhadap biaya kesehatan bayi yang beresiko. Ya, susu hidrolisis parsial ini memang harganya lebih mahal dari susu protein biasa/normal. Tetapi, jika dibandingkan dengan biaya pengobatan dalam jangka waktu yang lama dalam penanganan alergi, biaya yang dikeluarkan untuk susu hidrolisis parsial ini menjadi lebih murah. 

Namun jika anak sudah untolerant terhadap protein susu sapi, maka nutrisi dengan protein terhidrolisasi parsial sudah tidak efektif lagi diberikan. Maka alternatif lain adalah dengan pemberian formula dengan isolate protein kedelai (soya). Oh ya, jangan takut jika anak mengonsumsi susu soya maka kelak perilakunya akan "keperempuan-perempuanan" atau dalam bahasa Jawa disebut "lenjeh". Itu hanya mitos belaka. Karena dua narasumber menyebutkan, bahwa perilaku menyimpang seperti itu 90% dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Nah, lho! :).


Sesi tanya-jawab dengan peserta Nutritalk.

Pencegahan Alergi 
Dari seluruh pemaparan materi Dr. Anang dan Dr. Ahmad Suryawan (termasuk dalam sesi tanya-jawab dengan peserta Nutritalk), dapat disimpulkan bahwa pencegahan terhadap alergi dapat dilakukan dengan cara: 
  1. Pemberian ASI (Air Susu Ibu) eksklusif selama 6 bulan pertama usia bayi. Karena di dalam ASI terdapat zat probiotik yang membantu usus bayi memiliki ketahanan terhadap zat-zat yang menimbulkan alergi. 
  2. Untuk bayi yang tidak mendapatkan ASI karena berbagai sebab, berikan susu hidrolisat parsial selama kira-kira 4 hingga 6 bulan. Hal ini akan menurunkan resiko Dermatitis Atopik (eksim). 
  3. Untuk ibu hamil, dapat dilakukan upaya pencegahan sebagai berikut: 
  • Usahakan persalinan secara normal nantinya. Karena dalam rahim ibu ternyata kaya akan zat yang membuat bayi lebih imun terhadap alergi daripada bayi yang lahir melalui operasi. 
  • Menjaga perilaku kesehatan selama masa kehamilan. Misalnya menjauhi paparan asap rokok dan polusi udara. 
  • Tak perlu menghindari konsumsi makanan yang sering menjadi pencetus alergi (alergen), seperti susu sapi, telur, ikan, seafood, kacang-kacangan, dan lain-lain. Justru nutrisi tersebut wajib dikonsumsi ibu hamil untuk membangun kekebalan dan untuk tumbuh kembang janin. 

Sedangkan pencegahan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak alergi dapat dilakukan dengan: 
  • Mengenali tanda dan gejala alergi sejak dini. 
  • Deteksi pola pertumbuhan dan perkembangan anak sejak dini. 
  • Kerjasama lintas keahlian dokter (alergi – tumbuh kembang – nutrisi – psikiater anak dan psikologi jika diperlukan ). 

Foto bersama Team Sarihusada dengan para narasumber.


Akhirnya saya puas, kehadiran saya di Nutritalk kemarin membawa manfaat juga bagi diri saya sendiri dan orang lain. Sebagai seorang ibu dari dua anak yang masih kecil-kecil, saya harus mengenali gejala alergi sedini mungkin, agar tumbuh kembang anak-anak saya tidak terhambat jika mereka mengalaminya. Dan sebagai seorang ibu hamil, saya harus mempersiapkan nutrisi yang tepat di awal kehidupan anak saya selama 1000 HPK-nya. Tentunya, saya juga tak ingin anak ketiga saya nanti menderita alergi yang akan menghambat tumbuh kembangnya di kemudian hari. 

Terima kasih Sarihusada-Nutrisi untuk Bangsa. Acaranya sarat ilmu dan dikemas dengan sangat apik, seperti acara-acara Sarihusada sebelumnya. [Nutritalk] Kenali Alergi Sejak Dini, Agar Tumbuh Kembang Anak Tidak Terhambat, itulah pokok ilmu yang saya peroleh kemarin. Semoga Sarihusada selalu bisa menjaga komitmen dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kesehatan, khususnya nutrisi yang tepat bagi ibu dan anak.


Ibu hamil senang bisa hadir di acara Nutritalk kali ini :)


Sumber foto:
  • Dokumen pribadi
  • Sarihusada-Nutrisi untuk Bangsa

12 comments:

  1. Alhamdulillah mbak diah hamil lagiiiii....ikut senang...semoga sehat2 selalu ya mbaak...

    ReplyDelete
  2. Lengkap banget Mba'.. :)
    Sukses ya.. ;)

    ReplyDelete
  3. aku kecil gak alergi.. pas udah gedhe alergi debu :(

    ReplyDelete
  4. dampaknya sangat buruk sekali ya mba
    semoga kita semua diberi kesehatan terus

    ReplyDelete
  5. selamat yah Mbak Diah atas kehamilannya, semoga sehat terus hingga lahiran nanti, amin..

    ReplyDelete
  6. Dampaknya sangat luar biasa, ya? Padahal kelihatannya sepele, apalagi jika di desa, pada gak perhatian. Cuma bilang, ohhh alergi. :(

    Semoga bumil sehat, ya? ^^

    ReplyDelete
  7. dampaknya seriusnya menyepelekan alergi...anak saya dua2nya alergi, satu alergi debu, tungou satunya lagi susu sapi

    ReplyDelete
  8. Mba, selamat ya kehamilannya, jadi mau 3 yaa. Alhamdulillah..
    Eh tapi emangnya klo ngga ada turunan alergi bisa ada alergi yah si anak? Aku baru tauu

    ReplyDelete
  9. barokallahu....selamat atas kehamilan ketiganya mbak Diah, semoga sehat senantiasa ibu dan bayinya :)

    ReplyDelete
  10. Selamat atas kehamilannya mbak. Semoga sang ibu dan bayi selalu sehat. Aamiin. Ulasannya sangat menarik. Senang sekali dapat berkunjung ke laman web yang satu ini. Ayo kita upgrade ilmu internet marketing, SEO dan berbagai macam optimasi sosial media pelejit omset. Langsung saja kunjungi laman web kami ya. Ada kelas online nya juga lho. Terimakasih ^_^

    ReplyDelete
  11. Selamat atas kehamilannya kak, semoga adik bayi dan sang bunda senantiasa diberi kesehatan

    ReplyDelete
  12. congratulations mbaaaa, udah menang kerenn kereeen :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.

Kumpulan Emak Blogger

HALO BALITA


Ibu-ibu Doyan Nulis


Followers

Priceza


Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Alexa Rank

© 2016 DeKa | Powered by Blogger | Template by Enny Law