Monday, 29 February 2016

Kuliner Khas Solo, Hasil Budaya yang Berkembang Sesuai Sejarahnya


http://www.dekamuslim.com/2016/02/kuliner-khas-solo-hasil-budaya-yang.html
Sumber gambar dari Google, dengan editing.


Saat itu saya sampai di rumah tante di Solo sekitar pukul 20.00. Karena capek, saya selonjoran dulu di ruang tengah sambil ngobrol-ngobrol dengan tante seputar perjalanan Sidoarjo-Solo dengan kereta api. Setelah itu saya membersihkan badan lalu shalat Isya’. Sekitar pukul 21.00, saya bersiap istirahat. Tapi, tapi… ternyata ada sesuatu yang menggoda. 

Adik sepupu saya membawa beberapa bungkus wedang ronde di hadapan saya dan keluarga. Dengan sigap dia tuangkan satu persatu minuman hangat itu dari plastiknya ke dalam mangkuk-mangkuk keramik. Hemm… aroma wedang ronde yang sangat kental dengan wangi jahe itu begitu menggoda. Saya yang ditawari, langsung membatalkan istirahat lebih awal. 

Ya, begitulah cara keluarga tante saya saat menjamu tamu-tamunya. Meski sudah malam, mereka tak segan mencari jamuan makanan atau minuman ke luar rumah. Kadang saya berbasa-basi, “Wah, kok repot-repot, sih.” Tapi mereka selalu bilang, “Halah… Cuma ke depan situ, kok, belinya. Enggak repot. Kamu itu kayak enggak tahu aja.” 

Hehe… Iya, saya cuma basa-basi. Karena saya memang tahu, di Solo ini banyak sekali orang jualan makanan dan minuman dari pagi hingga pagi lagi. Ya, sepanjang hari banyak sekali orang berjualan berbagai kuliner khas Solo. Saya yang lahir dan besar di Solo sudah paham akan tradisi di kota seni dan budaya ini. Kota yang tak pernah mati. Kalau untuk urusan kuliner, kita mau mencarinya di jam 12 malam atau dini hari pun ada. 

Berbagai kuliner khas Solo pun dengan mudah akan kita dapatkan. Seperti wedang ronde yang dihidangkan kepada saya tersebut. Wedang ronde yang hangat, yang berisi ronde (bola-bola tepung ketan yang di dalamnya diisi kacang tanah), kacang bawang, kolang kaling, dan dipadu dengan air hangat campuran jahe dan gula merah, sungguh sangat nikmat dan menghangatkan badan. Cocok sekali dinikmati di malam hari atau saat cuaca dingin. 

Selain itu ada kuliner-kuliner lain seperti nasi liwet, thengkleng, selat, timlo, gudeg, serabi, ampyang, rengginang, onde-onde, dan masih banyak lagi. Semua kuliner/jajanan tersebut tersedia sepanjang hari. Kalau malam hari, kita akan melihat berderet-deret warung di pinggir jalan atau pinggir pedestrian yang buka hingga tengah malam bahkan dini hari. Di antara deretan warung-warung itu, ada juga warung HIK (kependekan dari Hidangan Istimewa Kampung) yang biasanya menjajakan nasi kucing, wedang jahe, dan aneka gorengan. Maka dijamin, kita yang dari luar kota enggak akan kelaparan meski tiba di Solo pada malam hari :). 

Itulah Solo, di mana hasil budayanya juga meliputi kuliner yang beraneka ragam dan selalu siap tersaji untuk para warga maupun tamu dari luar kota. Seperti kita ketahui, Solo merupakan kota seni dan budaya. Di Solo, banyak sekali hasil seni dan budaya yang merupakan warisan para leluhur. Dari batik, wayang, keris, baju beskap, blangkon, topeng, gamelan, ketoprak, acara Sekaten, hingga acara Solo Batik Carnival yang merupakan tontonan seni dan budaya yang lebih modern. 

Sekilas Sejarah Kuliner Solo
Seperti halnya hasil budaya yang lain, kuliner Solo juga tercipta melalui latar belakang sejarah yang menjiwai perkembangannya hingga kini. Mengutip apa yang pernah ditulis oleh penulis Salim A. Fillah (saya tidak tahu sumbernya dari buku atau dari mana, saya dapat dari grup WA), bahwa sejak masa pemerintahan Ingkang Sinuhun Susuhunan Pakubuwana II, Surakarta (Solo) mengembangkan hubungan "saling menjaga eksistensi" dengan VOC. Hal ini antara lain ditandai dengan perjanjian perwalian 1749. Nah, berkaitan dengan itu pula berkembang budaya "Keplek Ilat" yang secara harfiah lebih kurang berarti "memanjakan lidah." Maknanya, seluruh keluarga dapat saja pergi keluar untuk menikmati sajian yang diinginkan dari restoran dan warung makan yang mereka sukai. 

Ini yang barangkali menjelaskan mengapa tradisi kuliner Solo sejak dulu berkembang pesat dan adaptif terhadap gaya masakan dari luar. Seperti Selat Solo yang menggabungkan Salad ala Barat dengan teknik dan bumbu Jawa, lalu ada Sate Buntel yang dibungkus lemak halus, Bestik yang empuk, Sosis Solo yang gurih, Timlo yang segar, Nasi Liwet, Thengkleng dan berbagai sajian lain setidaknya menunjukkan betapa kayanya kreativitas untuk mendukung kebersamaan ala Solo yang dibangun dengan cara menikmati kudapan di luar rumah ini. Jajan yang berbalut keakraban. 

Maka tak heran jika banyak sekali kuliner/jajanan yang tersaji di seluruh kota Solo. Banyak juga penikmat kuliner yang “nongkrong” hingga dini hari, menikmati kuliner malam sembari ngobrol untuk menjalin keakraban dengan teman atau saudara. Melalui kuliner, hubungan kekeluargaan dapat terjalin, saling menjaga eksistensi antar penjual, dan kreativitas pun terus berkembang maju. 

Ya, kuliner khas Solo, hasil budaya yang berkembang sesuai sejarahnya, yaitu menciptakan masyarakat Solo yang penuh keakraban dan saling menjaga eksistensi. Bagaimana dengan budaya daerahmu, temans?



Untuk:
@gramediabooks

#46thMenginspirasi
#GBCFebruari



10 comments:

  1. yang saya lebih suka lagi, harganya bu. cocok dikantong

    ReplyDelete
  2. yang saya lebih suka lagi, harganya bu. cocok dikantong

    ReplyDelete
  3. walah.... lagi lagi Solo *takjub
    barusan ane blog walking dari sebelah ngebahas Solo juga.
    ckckckck.... berarti Sola dari semua aspek keren banget nih
    hebatt...

    pokoknya tahun ini ane harus mampir ke Solo :D
    good artikel

    salam hoki dan salam blogger ya

    ReplyDelete
  4. Saya belum pernah ke Solo, tapi suami yg kpn hari ke Solo sukses ngiming2in kuliner Solo. Moga bisa kesana suatu saat nanti. Saya penasaran ma Selat Solo hehe.

    ReplyDelete
  5. Udah pernah ke Solo tapi lewat aja

    ReplyDelete
  6. Beberapa kali ke Solo, tapi belum sempat kulineran khas Solo :D

    ReplyDelete
  7. Udh bebrrapa kali coba ini saat ke solo enaaaak banget di jkt juga ada yg jual tapi kurang enak hehehe

    ReplyDelete
  8. “Wah, kok repot-repot, sih.” haha dasar orang jawa mba ya, sering banget mengucapkan basa basi ini padahal mah di suguhin apa aja sebenernya mau banget. Saya juga sih *malu malu*

    Tengkleng itu juga dari solo ya mba ? aku kira dari jogja

    ReplyDelete
  9. Bberuntung aku nikah ama org solo ;).. jd kalo mudik kita k solo, dan aku lgs puassss kuineran di sana ^o^... asiknya lagi, harga2 solo itu jauuuuh lbh murah , bhkan dibandingin ama jogja.. murahan solo loh ;)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.

Kumpulan Emak Blogger

HALO BALITA


Ibu-ibu Doyan Nulis


Followers

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Alexa Rank

© 2016 DeKa | Powered by Blogger | Template by Enny Law