Memilih Makanan Ramah Iklim, Cara Lain Selamatkan Bumi


Ibu saya hobinya memasak. Sejak dulu, beliau suka memasak apa saja. Pernah juga beberapa kali membuka warung makan. Selain itu, beliau suka membagi-bagikan masakannya kepada para tetangga. Itulah mengapa beliau terbiasa memasak dalam jumlah besar, hingga sekarang. Sayangnya, terkadang masakannya tidak habis. Seringkali masakan-masakan itu dihangatkan hingga dua-tiga hari. Tapi, enggak jarang juga dibuang karena memang sudah tak layak dikonsumsi. Sayang sekali.

memilih-makanan-ramah-iklim


Saya paham niat ibu baik. Tapi, belakangan saya tahu, selain boros dari segi keuangan, makanan yang terbuang sia-sia itu juga turut menyumbang emisi gas rumah kaca. Kemudian memberikan sumbangsih dalam krisis perubahan iklim. Waduh. Bukannya gas rumah kaca berasal dari polusi akibat aktivitas industri, otomotif, pembakaran hutan, dan semacamnya?

Lalu, dari mana saya tahu mengenai pola konsumsi makanan yang berhubungan dengan perubahan iklim? Diantaranya, dari mengikuti talkshow tentang makanan ramah iklim..

Talkshow Makanan Ramah Iklim dan Peluncuran E-book


talkshow-omarniode


Ya, pada hari Minggu tanggal 14 Februari 2021 kemarin saya mengikuti online talkshow via Zoom yang berjudul "Talkshow Makanan Ramah Iklim dan Peluncuran E-book "Memilih Makanan Ramah Iklim +39 Resep Gorontalo"". Acara yang diselenggarakan oleh Omar Niode Foundation (sebuah organisasi nirlaba yang bergerak dalam peningkatan kualitas pangan dan seni kuliner) tersebut dihadiri oleh para pembicara yang ahli di bidang kuliner Nusantara, yaitu sebagai berikut:
  • Amanda Katili (Climate Reality Indonesia)
  • William Wongso (Chef, Pakar Kuliner)
  • Nicky Ria (Ketua Sobat Budaya)
  • Zahra Khan (Ahli Teknologi Pangan, Penyusun Resep)

Acara yang berlangsung selama dua jam itu (pukul 14.00 - 16.00) dimoderatori oleh Noni Zara, seorang food traveler dan culinary host. Talkshow tersebut memiliki tujuan sebagai berikut:
  • Untuk memahami krisis iklim global.
  • Mengetahui peran pangan, pertanian, dan kuliner sebagai salah satu solusi krisis global.
  • Bagaimana teknik pemetaan puluhan ribu makanan dan minuman tradisional Nusantara dan kontribusinya untuk data kuliner pada perpustakaan digital budaya Indonesia.   
  • Mengangkat kuliner lokal sebagai pilihan makanan, (contohnya kuliner Gorontalo) semasa dan pasca Covid-19.
  • Membuka diskusi dan mencangkan call to action untuk memilih makanan ramah iklim sebagai salah satu solusi dalam krisis global.

talkshow-makanan-ramah-iklim


Acara diawali dengan sambutan-sambutan. Sambutan pertama adalah dari Rachmat Gobel Wakil Ketua DPR RI yang karena tidak bisa hadir maka sambutan dibacakan oleh moderator. Sambutan selanjutnya oleh Claudia Laricchia dari Future Food Institute yang memberikan sambutannya dari Italia. Selanjutnya sambutan ketiga adalah dari pihak Omar Niode Foundation yang diwakili oleh Terzian Ayuba Niode yang merupakan sekretaris di Omar Niode.

Terzian antara lain mengatakan bahwa talkshow ini diharapkan dapat memperbanyak narasi tentang masa depan yang sehat bagi manusia dan planet bumi. Maka pilihan makanan yang perlu diubah adalah (idealnya) dengan mengurangi konsumsi daging serta makanan yang diproses. Dan selanjutnya lebih banyak mengonsumsi makanan berbasis nabati.

Pola pikir untuk melestarikan lingkungan perlu ditanamkan kepada masyarakat untuk dapat memperbaiki pilihan makanan dalam kehidupan sehari-hari. Karena sebenarnya pilihan pangan lokal selain mendukung ekonomi petani juga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca. Lebih lanjut pola makan ramah iklim dapat membantu menyelamatkan planet bumi dengan mengurangi kandungan gas rumah kaca sebagai pemicu perubahan iklim melalui makanan yang dipilih.


Pangan dan Kuliner Sebagai Salah Satu Solusi atas Krisis Iklim

Perbincangan mengenai pemilihan makanan ramah iklim dimulai bersama ibu Amanda Katili Niode. Bu Amanda yang merupakan pendiri dan ketua Omar Niode Faoundation dan juga Manager Climate Reality Indonesia ini mengatakan bahwa pangan merupakan salah satu penyebab berbagai bencana di bumi. Karena limbahnya bisa menyebabkan efek gas rumah kaca.

Jadi, limbah makanan adalah makanan yang dibuang karena beberapa hal, misalnya membeli terlalu banyak sehingga sudah kadaluarsa, membuang sayur atau buah yang tidak sempurna bentuknya, atau mengambil terlalu banyak makanan di pring dan tidak dihabiskan. Nah, tindakan membuang makanan seperti itu dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca pemicu krisis iklim. Karena pada saat makanan mulai mengurai atau membusuk, gas penyebab krisis iklim akan terlepas. Hemm.. padahal sebenarnya, tindakan membuang makanan seperti itu bisa dihindari, kan..


omar-niode-makanan-adalah

Namun demikian, kata bu Amanda, di sisi lain pangan juga merupakan solusi atas krisis global. Makanan bisa menjadi solusi asalkan kita dapat menerapkan pola makan cerdas iklim, seperti misalnya memperbanyak konsumsi biji-bijian, buah-buahan dan sayuran dan mengurangi daging, sehingga emisi gas rumah kaca yang dikeluarkan lebih sedikit. Cara lain adalah membeli lebih banyak produk lokal dengan transportasi yang tidak terlalu jauh.

Selanjutnya cara untuk mengurangi limbah makanan (sesuai rekomendasi FAO - badan pertanian dan pangan PBB) antara lain sebagai berikut:
  • tidak mengambil porsi makanan terlalu banyak, 
  • memanfaatkan sisa makanan, atau bagian tanaman yang biasa dibuang, 
  • berbelanja yang dibutuhkan saja termasuk sayur atau buah yang tidak sempurna bentuknya.
  • menyimpan makanan dengan baik agar tidak mudah busuk, 
  • berbagi makanan kepada yang membutuhkan, 
  • menerapkan pembuatan kompos.

Kuliner Tradisional Nusantara dan Ragam Kuliner Gorontalo

Indonesia sebagai negara yang besar yang wilayahnya terbentang dari Sabang sampai Merauke mempunyai beragam pangan lokal. Mulai dari bahan-bahan makanan pokok hingga rempah-rempah yang beraneka jenisnya. Keragaman juga muncul dari cara memasaknya, hingga cara memakannya.

Menurut mbak Nicky Ria sebagai ketua Sobat Budaya, ada 30.000 kuliner tradisional Nusantara. Dari jumlah sebanyak itu kita perlu melakukan pemetaan. Maksudnya, beragam kuliner itu sebenarnya punya kekerabatan yang erat antara kuliner dari satu daerah dengan daerah lain di Indonesia. Misalnya, bisa jadi masakannya berbeda, tetapi ternyata bahan-bahan atau bumbu-bumbunya mirip-mirip.

Maka dengan melakukan pemetaan kita enggak perlu beli apalagi impor bahan pangan dari daerah lain. Hal ini tentu saja merupakan salah satu langkah dalam memilih makanan ramah iklim. Mbak Nicky juga memaparkan keragaman cara pengemasan makanan di berbagai daerah di Indonesia.Seperti pengemasan dengan daun pisang, daun pinang, dan lain-lain. Namun sekarang telah banyak yang beralih ke plastik. Dari kenyataan itu, mbak Nicky mengajak peserta untuk sama-sama cari solusi bagaimana mengembangkan kembali cara pengemasan yang ramah iklim. 

Selanjutnya ada mbak Zahra Khan, seorang ahli Teknologi Pangan sekaligus pelaku UMKM dan penyusun resep e-book yang akan di-launching hari itu. Dalam talkshow ini mbak Zahra menjelaskan mengenai ragam kuliner Gorontalo. Provinsi Gorontalo yang terletak di Pulau Sulawesi bagian utara tersebut ternyata juga mempunyai ragam kuliner tradisional yang unik. Misalnya ada Bilenthango, Gohu Putungo, dan Ilepa'o. Dan ternyata, kuliner-kuliner tersebut ramah iklim, lho.

Ramah iklim bagaimana? Kata mbak Zahra, banyak masakan di Gorontalo yang jarang digoreng, melainkan dengan direbus atau dibakar lalu digoreng di atas daun pisang yang diolesi sedikit minyak goreng. Minyak goreng yang digunakan pun biasanya minyak kelapa, bukan minyak sawit. Selain itu masyarakat Gorontalo lebih suka makan ikan daripada daging, karena memang daerah ini dekat dengan perairan (laut). Sedangkan untuk pangan nabati, penduduk banyak menanam sayur dan buah di halaman mereka, sehingga jika ingin memasak tidak perlu membeli atau pergi jauh dari rumah.

Kemudian mengenai e-book yang ditulisnya bersama bu Amanda, yaitu e-book yang berjudul "Memilih Makanan Ramah Iklim +39 Resep Gorontalo" mbak Zahra bercerita bahwa awalnya beliau suka menulis resep-resep masakan Gorontalo di akun Facebook-nya. Kemudian mbak Zahra diajak oleh bu Amanda untuk menerbitkan resep-resep itu dalam sebuah buku. Karena bu Amanda melihat bahwa resep-resep masakan Gorontalo ternyata banyak yang ramah iklim.

Ragam kuliner Gorontalo selain telah diperlihatkan oleh mbak Zahra, juga ditunjukkan oleh mas Ihsan Averroes Wumu, yaitu pemilik Olamita Resto, sebuah restoran yang menyajikan aneka masakan Gorontalo. Mas Ihsan mengatakan bahwa ikan-ikan yang disajikan di Olamita Resto yang berada di Tebet, Jakarta itu didatangkan langsung dari laut Gorontalo. Sehingga cita rasa khas Gorontalo sangat terasa. Ternyata, ikan dari satu perairan dengan perairan yang lain itu berbeda-beda rasanya, ya. Saya baru tahu, lho. Hehe.


Mengangkat Citra Kuliner Nusantara ala William Wongso

Dalam talkshow ini, mungkin sesi yang paling ditunggu-tunggu oleh para peserta adalah sesi ini, yaitu saat Chef William Wongso memberikan "wejangannya". Hehe. Mungkin semua orang Indonesia sudah tahu, ya, siapa pak William Wongso? Pak Will merupakan chef tersohor di negeri ini, juga adalah pakar kuliner dan penulis buku "Flavors of Indonesia".

Di acara ini pak Will memberikan gambaran bagaimana seharusnya menampilkan kuliner Nusantara di mata dunia. Kita tak perlu malu menampilkan kuliner tradisional, karena bahan-bahan pangan lokal Indonesia itu sangat beragam. Asal kita kreatif, maka bahan-bahan itu bisa diolah menjadi sesuatu yang istimewa tanpa meninggalkan cita rasa aslinya. Misalnya, pak Will pernah menyajikan "Rawon Ekspresso" karena kuahnya yang kental yang berasal dari bumbu "kluwak" warnanya seperti kopi espresso. Hehe. Beliau mencoba memasak kluwak itu tanpa daging. Dan ternyata, banyak juga yang penasaran dan suka dengan rasanya.

Oh ya, jika menampilkan kuliner Nusantara di mata dunia, jangan lupa disajikan dengan plating yang cantik, sehingga membuat orang penasaran. Nama yang dimunculkan pun nama aslinya dulu baru nama internasionalnya (dalam Bahasa Inggris), ya. Misalnya "Bilenthango" ya tulis yang besar nama itu, baru di bawahnya nama dalam Bahasa Inggris. Hal ini agar terkesan unik sehingga akan diingat oleh orang yang masih asing.

Di sisi lain, pak Will mendukung upaya-upaya pelestarian budaya kuliner Nusantara seperti yang dilakukan Omar Niode Foundation. 
"Di era sosial media dan internet seperti saat ini, satu hal yang tidak dapat kita lakukan adalah meng googling rasa, experience itu harus dicoba langsung. Tapi kita dapat menginformasikan budaya kuliner bangsa Indonesia yang beragam ini lewat internet, dan menarik orang untuk mencoba.” - William Wongso. 

Peluncuran E-book Memilih Makanan Ramah Iklim + 39 Resep Gorontalo


ebook-memilih-makanan-ramah-iklim


Dalam talkshow virtual oleh Omar Niode Foundation tersebut juga di-launching e-book berjudul "Memilih Makanan Ramah Iklim +39 Resep Gorontalo" karya ibu Amanda Katili Niode bersama mbak Zahra Khan.

Omar Niode Foundation sebagai sebuah organisasi nirlaba yang bergerak dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, citra budaya, dan kuliner nusantara, khususnya Gorontalo, meluncurkan e-book ini dengan tujuan untuk mengajak masyarakat luas memahami dan selanjutnya memilih makanan yang ramah iklim dalam kehidupan sehari-hari. E-book ini mencoba mengenalkan konsep makanan ramah bumi dari berbagai aspek terkait dan peranannya dalam menyikapi krisis lingkungan.

Selain berisi konsep-konsep makanan ramah iklim, di dalamnya juga dimuat resep-resep makanan ramah bumi yang dapat dicoba, khususnya makanan tradisional Gorontalo. Resep-resepnya dikelompokkan berdasarkan bahan utamanya, seperti berbahan jagung, ikan, jantung pisang, dan lain-lain. Seperti resep pada umumnya, di e-book ini juga ditulis lengkap bahan-bahannya dan cara memasaknya. Tak lupa ada foto pendukungnya.

Sebagai orang Jawa yang belum pernah ke Gorontalo, saya sangat asing dan merasa sangat terkesima, dong, dengan berbagai resep yang tersaji. Hampir semuanya unik dan sepertinya enak semua. Hehehe. Mulai dari nama masakannya, nama bahan-bahan beserta bumbu-bumbunya, hingga cara memasaknya. Wah, ternyata Gorontalo punya aneka resep tradisional yang menggugah selera :)
“Saya menyambut baik diterbitkannya e-book “Memilih Makanan Ramah Iklim + 39 Resep Gorontalo” dengan harapan agar lebih banyak lagi upaya serupa untuk melestarikan resep dan tradisi kuliner Nusantara guna melindungi warisan budaya dan alam Indonesia,” demikian disampaikan oleh Rachmat Gobel. 

FYI, Omar Niode Foundation yang berdiri di akhir tahun 2009 ini berkiprah baik di Indonesia maupun mancanegara. Yayasan ini sebelumnya telah menerbitkan 15 buku, di antaranya Trailing the Taste of Gorontalo yang meraih Gourmand World Cookbook Award, Best of the Best 1995-2020 kategori Food Heritage dan menjadi kontributor Bab Indonesia pada buku At the Table. Food and Family Around the World, yang juga memperoleh Gourmand Award. Buku Memilih Makanan Ramah Iklim ini merupakan buku ke-16 yang diluncurkan oleh Omar Niode Foundation.

E-book Memilih Makanan Ramah Iklim dapat diunduh di sini: http://bit.ly/e-bookmakananramahiklim 

Masakan Lokal yang Ramah Iklim

Setelah menyimak talkshow mengenai makanan ramah iklim dan membaca e-book yang dibagikan, saya mencoba membagikan usulan jenis masakan lokal yang ramah iklim. Masakan ini simpel sekali dan sudah sering saya konsumsi. Ya, masakan tersebut adalah jenis sambal. Ada sambal pete dan sambal terong semangit yang saya bagikan fotonya di sini :)

sambal-pete
Sambal pete.

sambal-terong-semangit
Sambal terong semangit.

Seperti kebanyakan orang Jawa, kami sekeluarga penyuka sambal. Berbagai jenis olahan sambal pernah kami coba. Nah, dua diantaranya adalah sambal pete dan sambal terong semangit. Seperti sambal-sambal lainnya, bahan utamanya tentu saja cabe, ya. Hehe. Lalu ada bawang merah dan bawang putih, juga tomat. Untuk sambal pete, tinggal tambahkan pete yang telah ditumis sebentar. Lalu untuk sambal terong semangit, bahannya ada terong dan tempe semangit (tempe yang sudah hampir busuk tapi masih baik dan enak jika dijadikan bumbu masakan).

Menilik bahan-bahannya, semuanya adalah berbasis nabati dan merupakan pangan lokal. Semua bahan mudah didapat di dekat rumah saya. Untuk menumis bahan-bahannya pun hanya perlu minyak goreng yang sedikit. Oh ya, jika saya membuat sambalnya yang tidak untuk diawetkan, saya bikinnya secukupnya saja. Kecuali jika ingin diawetkan dengan cara ditumis kembali setelah semua bahan dihaluskan, maka bisa membuat agak banyak kemudian disimpan dalam wadah tertutup. Jangan sampai membuang-buang masakan, deh :).


Ya, demikianlah temans cerita saya dari hasil mengikuti talkshow online mengenai Memilih Makanan Ramah Iklim dan peluncuran e-book-nya. Wah, saya punya PR besar, nih, untuk memberikan pemahaman kepada ibu saya agar mengurangi kebiasaannya memasak dalam jumlah besar. Hehe. Dan bagi saya sendiri, juga perlu belajar terus agar dapat dengan benar memilih makanan-makanan yang ramah iklim. So, kesimpulannya, dari kuliner, kita bisa memberikan solusi untuk perubahan iklim di dunia. Memilih makanan ramah iklim, adalah cara lain selamatkan bumi kita. Semoga, ya :)



No comments

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.