Pages

Setiap Anak Kita Itu Unik, Jadi Mari Bersyukur


"Mi, besok mbak A dan mbak B yang jadi pembawa acara di acara wisuda kakak-kakak (maksudnya kakak kelas)," kata si nomor dua kala itu.
"Lho, mbak A dan mbak B sudah lancar baca, ya?" tanya saya.
"He em."
Masya Allah... Padahal Fahima belum bisa baca per kata pun, batin saya.

Seketika ada rasa enggak tenang. Kalau orang Jawa bilang, kemrungsung. Ingin segera berlari, menyusul ketertinggalan anak saya tersebut. Ingin agar Fahima segera bisa lancar membaca juga, bagaimanapun caranya. 

Perkembangan belajar Fahima dalam hal membaca memang kurang cepat. Sekadar membandingkan, bukan untuk melemahkan tapi untuk evaluasi, dulu kakaknya sudah lancar membaca saat di kelas TK A. Sekarang, di kelas yang sama, Fahima masih tertatih membaca per kata.

Si nomor dua, Fahima.

Lalu saya pun menjadi lebih rajin menemani si nomor dua itu belajar membaca. Kadang menguras emosi, karena rasanya dia susah sekali mengerti. (Saya jadi paham, betapa gurunya di sekolah juga susah payah mengajari anak-anak dalam membaca (juga menguasai materi lain)). Hari ke hari ada peningkatan. Hingga suatu ketika, akhirnya Fahima lumayan lancar membaca sebuah kalimat, hingga sebuah cerita. Alhamdulillah.

Kemudian, suatu hari saat ada pertemuan wali murid, ada seorang ibu yang bertanya,
"Mbak Fahima ikut les membaca ndak, Bu?"
"Les di mana, Bu? Les membaca gimana?" tanya saya balik, merasa bingung.
"Oh, berarti ndak ikut, ya. Itu, lho, Bu. Anak-anak yang belum lancar membaca suruh ikut les sepulang sekolah. Seminggu tiga kali, di sekolah juga."
"Ooh...," saya hanya bisa melongo.

Saya bagai dipukul oleh kenyataan itu. "Lihat! Banyak anak lain yang belum lancar membaca. Anakmu masih lumayan!"
Kata-kata itu seperti diucapkan Tuhan pada saya. Ya Allah, saya memang kurang bersyukur... Terlalu sering melihat ke atas lalu ingin seperti itu seperti ini. Lupa bahwa di bawah masih ada kondisi orang-orang lain yang lebih buruk.


Setiap Anak Kita Itu Unik

Saya ingat ketika emosi naik gara-gara si nomor dua susah sekali diajari membaca. Dada ini rasanya sesak. Kepala rasanya penuh. Tapi si anak hanya diam, kalem saja jika volume suara saya naik. Hanya bilang, "Belum bisa, Mii..." kemudian menutup bukunya lalu pergi dan berganti aktivitas lain. Saya pun tak memaksanya belajar lagi. Karena saya tahu itu tidak akan efektif.

Lalu saat emosi saya naik kembali ketika mengajari si sulung belajar Matematika, si adik itu ikut belajar di dekat kami. Dia membawa buku dan pensil. Ketika saya mulai marah pada kakaknya, mengapa malas sekali menghafal perkalian, saya lihat si nomor dua itu diam saja sambil menulis angka-angka di bukunya. Ketika saya lihat, ternyata dia membuat soal-soal penjumlahan sendiri dan menjawabnya sendiri. Masya Allah.. kok, saya jadi terharu?

Ya, menurut gurunya, dalam pengenalan materi berhitung si nomor dua itu lumayan bagus perkembangannya. Dia sudah bisa berhitung dalam jumlah kecil. Hal ini berbanding terbalik dengan kakaknya. Si adik susah belajar membaca tapi lumayan cepat menguasai materi berhitung. Sedangkan kakaknya cepat belajar membaca (materi bahasa) tapi lemah dalam materi Matematika. Dengan melihat hal itu, saya semakin paham, bahwa anak-anak punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Ya, setiap anak kita itu unik. Bila kita mau membuat daftar kelebihan dan kekurangan mereka, pastilah ada banyak sekali hal yang berbeda. Mereka memang berbeda satu sama lain. Mereka unik. Kasus yang saya tulis di atas baru bagian kecil dalam hal belajar saja. Belum lagi soal fisik, emosi, dan lain-lainnya. Semuanya pasti tak sama satu dengan yang lainnya.

Kemarin, kakak sepupu saya bersilaturahim ke rumah. Si kakak ini punya tiga orang anak, yang dua diantaranya merupakan anak-anak yang spesial. Anak kedua berusia 6 tahun, anak ketiga berusia 5 tahun. Spesialnya, kedua anak ini belum bisa bicara. Saat anak-anak lain sudah bermain sambil belajar di TK, kedua anak ini hanya asyik bermain di rumah saja dan sesekali terapi. Dan kemarin ibunya bilang, "Aku masih bersyukur, masih banyak anak-anak lain yang kondisinya lebih parah dari anak-anakku."
Masya Allah... Saya bagai dipukul lebih keras oleh Allah kali ini 😭.


Setiap anak itu unik 😍.


Semua yang saya alami, saya rasakan dan saya dengar dari sekeliling itu membuat saya lebih banyak bersyukur. Bahwa, Dia selalu memberikan kelebihan dan kekurangan pada tiap manusia. Memang, kadang rumput tetangga terlihat lebih hijau. Anak-anak lain terlihat seperti banyak sekali kelebihannya. Tapi kita tidak tahu, hal-hal lain di balik itu semua. Dan kita tak perlu tahu kekurangan orang lain. Jadikan kelebihan anak-anak lain sebagai motivasi saja.

Sekarang, bagi saya bersyukur setiap saat itu wajib hukumnya. Apapun yang saya alami dan yang saya terima harus disyukuri. Termasuk anak-anak dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bagi saya, tips bersyukur dan tak tergoda dengan rumput hijau tetangga antara lain sebagai berikut:
  • Fokus pada kelebihan yang kita miliki. 
  • Lebih sering melihat kondisi di bawah kita.
  • Memahami bahwa semua sudah diatur oleh Allah SWT.
Cukup 3 hal tersebut saya aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Agar saya bisa bersyukur setiap saat. Nah, bagaimana dengan teman-teman? Ada tips lain? Share, dong! 😊


Diah Kusumastuti

Saya seorang ibu rumah tangga dengan 4 orang anak, Faiq, Fahima, Fauzia, dan Fahri. Asli Solo tapi sekarang berdomisili di Sidoarjo. Suka menulis tentang apa saja selama itu positif dan sebisa mungkin memberi manfaat bagi yang membaca. Menulis bagi saya adalah sarana refreshing dan agar otak terus bekerja :) Email: d3kusumastuti@gmail.com

1 comment:

  1. 3 tips bersyukur dari mba diah emang harus dilakukan mbak, biar kita terhindar juga dari rasa iri dengan rumput tetangga ;)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.