Pages

Perhatikan Etika di Grup WhatsApp Keluarga, Agar Silaturahim Tetap Terjaga


Suatu ketika ada anggota grup WhatsApp keluarga kami yang "salah" menulis. Bahasa yang dia gunakan dianggap terlalu kasar oleh anggota yang lain. Akibatnya, grup jadi sepi, layaknya perang dingin. Kasak-kusuk pun terjadi di belakang grup. Kami saling wapri. Dan akhirnya, sesepuh grup yang turun tangan. Memberi nasihat pada kedua belah pihak yang "perang dingin". Hehe.

Saat ini, hampir semua orang yang punya smartphone Android juga punya aplikasi chat yang bernama WhatsApp atau jika disingkat: WA. Apps yang warnanya dominan warna hijau ini memang user friendly banget. Hampir semua penggunanya bisa memanfaatkan fitur-fitur yang ada di dalamnya. Tak terkecuali para orangtua. Asal mereka mau bertanya, semua fitur dengan gampang bisa digunakan. 

Itulah mengapa banyak terbentuk grup WA keluarga. Isinya bisa mulai dari kakek-nenek, para keponakan, sepupu, hingga bahkan ada cucu juga di dalamnya. Nah, kalau sudah begini, unggah-ungguh atau sopan-santun dalam ber-WA sangat diperlukan. Terutama, yang muda menghormati yang tua.

Sumber gambar: pixabay.com


Nah, kasus yang saya cuplikkan di awal tulisan ini terjadi di grup WA keluarga. Sebenarnya, hal itu enggak murni karena kesalahan menulis (atau yang disengaja). Si A bertanya pada si B yang notabene adalah kakak iparnya dengan bahasa daerah yang dirasa B kasar (enggak sopan). Padahal, bahasa tersebut sudah biasa digunakan di daerah A dan bukan merupakan bahasa kasar. Masalahnya selain memakai bahasa daerah, si A juga singkat sekali nulisnya. Ketika ditanya balik, enggak dijawab. Intinya kurang sopan.

Akhir kasus, yang muda (si A) meminta maaf atas kekhilafannya, dan yang tua juga maklum dan memaafkan. Ada unggah-ungguh yang dinasihatkan oleh yang lebih tua. Dan, unggah-ungguh dalam grup WA semacam ini ternyata bisa jadi solusi agar WA grup tetap damai.

Baca juga: [Muhasabah Diri] Perbaiki Etikamu di Dunia Maya!

Etika dalam Grup WhatsApp Keluarga

Kasus di atas hanya satu contoh diantara sekian banyak kasus yang pernah terjadi pada grup WA keluarga. Kalau di grup keluarga saya, sih, kasus yang paling sering adalah salah sebut identitas silsilah. Misalnya harusnya menyebut pakdhe, disebutnya om. Hehehe.

Nah, dari kasus-kasus yang pernah saya saksikan di beberapa grup WA keluarga, berikut ini beberapa etika dalam grup WA keluarga yang menurut saya perlu diperhatikan:

  • Pihak yang muda menghormati yang tua, sedangkan yang tua mau memberi nasihat atau masukan pada yang muda jika melakukan kesalahan. Tapi yang muda juga boleh memberi masukan ke yang tua namun dengan bahasa yang baik tentu saja.
  • Hanya membagikan berita atau kabar yang benar dan bukan hoax (berita bohong/palsu). Hati-hati jika ingin share info, jika infonya salah, bisa membuat sekeluarga menanggung kesalahan bahkan dosa, lho.
  • Tidak membagikan gambar-gambar, foto-foto, video, atau stiker dan emoji yang tidak perlu atau tidak relevan untuk kepentingan keluarga. Apalagi yang berisi konten tidak sopan atau yang bertentangan dengan agama, dan sejenisnya.
  • Hanya berkomentar yang baik-baik dan perlu saja. Agar tidak mengganggu anggota grup yang lain. Kasihan yang tua-tua juga seandainya kebanyakan notif, ternyata isinya hanya obrolan tak penting dari kita. Hanya bikin capek mata saja, kan? Hehe.
  • Pelajari silsilah keluarga, agar kita enggak salah sebut/salah panggil. Atau kalau benar-benar belum tahu, bisa minta maaf di akhir komentar. Minta maaf jika salah sebut tentunya.


Baca juga: Ingin Tetap Gaul Bersama Wali Murid Tapi Terhindar dari Gosip? Ini Cara Saya.

Itulah beberapa etika dalam grup WhatsApp menurut saya. Etika tersebut perlu diperhatikan agar silaturahim dalam keluarga tetap terjaga. Jangan sampai hanya karena salah dalam menulis, salah berkomentar, akan menjadikan renggang hubungan persaudaraan. Na'udzubillahi min dzalik.




Diah Kusumastuti

Saya seorang ibu rumah tangga dengan 4 orang anak, Faiq, Fahima, Fauzia, dan Fahri. Asli Solo tapi sekarang berdomisili di Sidoarjo. Suka menulis tentang apa saja selama itu positif dan sebisa mungkin memberi manfaat bagi yang membaca. Menulis bagi saya adalah sarana refreshing dan agar otak terus bekerja :) Email: d3kusumastuti@gmail.com

1 comment:

  1. Beberapa bulan lalu di grup keluarga saya saling emosi hanya gara2 pilpres. Sampe pada left wkkwkwkw

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.