Pages

Seimbangkan Hard Skill dan Soft Skill untuk Jual Kemampuan Diri


Pengalaman saya dalam bekerja di beberapa tempat memberikan pelajaran berharga. Pelajaran itu yang nantinya, insya Allah, akan saya bagikan kepada anak-anak saya jika sudah membutuhkan. Tapi sekarang, bisa juga saya berbagi cerita kepada teman-teman. Bahwa intinya, seimbangkan hard skill dan soft skill untuk menjual kemampuan diri ke dunia kerja atau organisasi, komunitas, dan semisalnya.


Sudah menjadi rahasia umum saat ini, bahwa prestasi akademik tak akan banyak menolong dalam pekerjaan jika kita tak memiliki prestasi di luar itu. Tapi buat saya dulu, apa yang saya tahu? Sejak kecil saya hanya dituntut rajin belajar dan belajar. Bagi orang tua saya, yang terpenting adalah saya menjadi anak yang pintar di sekolah. Anak yang nilai-nilai raportnya selalu bagus, kemudian saat kuliah IPK nya juga oke. Itu yang membuat mereka bangga sebagai orang tua.


Sumber gambar: pexels.com

Tetapi saat berhadapan dengan dunia kerja, ternyata jalan saya tak semulus saat bersekolah. Banyak orang-orang yang punya kemampuan akademis yang baik, tapi hanya sedikit yang cakap bekerja. Ternyata orang-orang yang "luwes" dalam bekerja akan bisa lebih survive dalam pekerjaannya. Sedangkan saya, pasif sekali dalam bekerja. Tak banyak ide, tak pandai berkomunikasi, kaku, dan lain-lain.

Ada beberapa contoh yang saya amati di lingkungan saya mengenai kemampuan diri di dunia kerja. Misalnya, teman dekat saya, nilai-nilai akademisnya jauh lebih rendah dibanding saya. Tapi dia cukup baik dalam hal berkomunikasi dengan atasan maupun dengan orang lain. Dia juga punya kemampuan bagus saat melayani customer. Intinya, dia pandai membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Akhirnya, dia yang lebih sukses dalam pekerjaan dibanding saya.


Tentang Hard Skill dan Soft Skill

Hard skill adalah keahlian utama yang dibutuhkan dalam suatu pekerjaan. Seperti ilmu pengetahuan di bidangnya, keterampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya, dan lain-lain. Sedangkan soft skill merupakan keahlian seseorang dalam mengatur dirinya sendiri dan kemampuan dalam berhubungan dengan orang lain. Soft skill ini contohnya seperti keterampilan sosial, kemampuan berkomunikasi, berbahasa, kebiasaan pribadi, dan lain-lain yang berkaitan dengan kecerdasan emosional seseorang. 

Penguasaan hard skill dan soft skill sebaiknya diseimbangkan, sebagai bekal untuk menjual kemampuan di dunia kerja. Penguasaan hard skill memang sangat penting untuk bekerja. Bagaimana mungkin bisa bekerja dengan baik jika tak menguasai ilmu yang diperlukan dalam pekerjaan itu? Tapi jika hard skill saja tanpa dilengkapi dengan soft skill, kemungkinan kita akan menjadi pekerja yang pasif, kaku, atau sulit berkembang.


Sumber gambar: pexels.com

Maka, jika ingin menjual kemampuan ke perusahaan atau organisasi, sebaiknya kita seimbangkan hard skill dan soft skill. Semuanya bisa dilatih sejak kecil. Melatih anak terbiasa melakukan hal-hal baik seperti ketertiban, tanggung jawab, kedisiplinan, berkomunikasi dengan baik, dan lain-lain termasuk berakhlak mulia sebagai soft skill-nya. Sehingga kelak, kebiasaan-kebiasaan itu akan membentuk karakternya. Menjadi soft skill bekal terjun di dunia kerja.



Diah Kusumastuti

Saya seorang ibu rumah tangga dengan 4 orang anak, Faiq, Fahima, Fauzia, dan Fahri. Asli Solo tapi sekarang berdomisili di Sidoarjo. Suka menulis tentang apa saja selama itu positif dan sebisa mungkin memberi manfaat bagi yang membaca. Menulis bagi saya adalah sarana refreshing dan agar otak terus bekerja :) Email: d3kusumastuti@gmail.com

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.