Monday, 19 March 2018

Upaya Tolak Eksploitasi Hewan di Sekitar Kita



Saya merasa beruntung mempunyai teman-teman yang aware terhadap lingkungan khususnya lingkungan hewan. Di sebuah grup WhatsApp (WA) yang saya ikuti, ada teman yang merupakan penyanyang kucing, ada pula seorang traveler yang cukup memperhatikan kesejahteraan hewan, dan beberapa teman lain yang juga perhatian terhadap masalah eksploitasi hewan di sekitar kita.

Teman-teman saya tersebut pernah bercerita tentang eksploitasi hewan yang pernah dilihatnya baik secara langsung maupun tidak langsung (melalui berita di media massa). Seperti pernah terjadi di Jogjakarta, seekor kuda penarik delman mati karena kelelahan bekerja, karena ternyata kuda ini sedang hamil 😢. Ada pula kuda yang usianya sudah terlalu tua tetapi tetap digunakan untuk menarik delman. Begitu juga dengan monyet-monyet yang diajak bekerja berkeliling kampung untuk atraksi "Topeng Monyet", enggak jarang mereka mendapat perlakuan tidak layak dari si empunya.

Dari teman-teman, saya juga jadi tahu kalau sebagian besar sirkus-sirkus hewan yang biasa menggelar pertunjukan itu mempunyai kisah di balik panggung yang kurang menyenangkan (meski mungkin ada pula sirkus yang bagus). Hewan-hewan itu seringkali dipaksa latihan dalam keadaan lapar atau kurang sehat, kesehatannya tidak diperhatikan, mendapat perlakuan kasar, dan lain-lain. Mereka tahu hal-hal seperti ini karena memang pernah menyaksikannya sendiri. 

Dan masih banyak lagi kisah eksploitasi hewan di sekitar kita.
Hiks. Sedih sekali mendengar cerita-cerita tersebut.

Saya pun pernah merasa bersalah saat memelihara kucing. Sebenarnya tidak sengaja memelihara, sih. Hanya saja beberapa kali ada kucing yang mampir ke rumah, lalu betah tinggal di rumah kami, ya kami rawat. Yang menjadi masalah adalah, anak-anak saya masih kecil-kecil. Mereka belum tahu bagaimana seharusnya memperlakukan hewan. Kadang kucing-kucing itu dikejar-kejar, diganggu saat sedang makan, dibuat mainan seenaknya, hingga pernah dilempar saking gemesnya atau gimana 😢. Sudah berulangkali saya nasehati mereka, saya contohkan bagaimana saya selalu berusaha bersikap baik pada kucing-kucing itu. Tapi mereka belum terbiasa. Mungkin butuh proses yang lebih lama lagi. Begitu pula saat memelihara ayam. Duh...





Dari mendengar cerita-cerita teman saya, juga pengalaman pribadi tersebut, sesungguhnya saya benar-benar enggak setuju dengan eksploitasi hewan. Saya menolak eksploitasi hewan!
Maka saya, tuh, pinginnya seperti ini:
  • Hewan-hewan yang termasuk jenis hewan peliharaan dan hewan ternak (seperti kucing, ikan, ayam, sapi, kambing, dan lain-lain) dipelihara saja di rumah atau di kebun binatang, dengan merawatnya secara baik. Bukan untuk disia-siakan atau dipekerjakan. 
  • Untuk binatang-binatang yang lebih cocok hidup dalam habitat hutan, biarkan saja mereka hidup di hutan lindung. Kalaupun harus dipelihara di kebun binatang, seharusnya dirawat secara baik dengan memperhatikan kesehatannya termasuk urusan makannya.
  • Enggak akan memelihara hewan lagi di rumah jika anak-anak saya belum bisa memperlakukan hewan-hewan itu dengan baik. Memang, sih, tugas saya untuk mendidik mereka menyayangi hewan, tetapi dalam proses belajar itu saya enggak tega jika tanpa sepengetahuan saya anak-anak "menyiksa" hewan-hewan tersebut. Jadi lebih baik nanti saja kalau mereka sudah agak besar, sudah paham jika diberi pengertian, baru deh mau memelihara kucing atau ayam atau apa lah, oke saja.
  • Enggak akan lagi mengajak anak-anak saya menonton "Topeng Monyet". Dulu saat si sulung masih balita dan kami masih tinggal di perumahan, kami sering menontonnya karena memang sering "ditanggap" oleh beberapa tetangga. Dan memang, sebagian monyet-monyet itu kelihatan agak kurang terurus. Makin ke sini saya baru sadar, benar juga apa yang dibilang teman-teman, kemungkinan monyet-monyet itu kurang diperhatikan makan, kesehatan, maupun kasih sayangnya.
  • Nonton sirkus kalau lagi pengen banget saja, dan memilih yang digelar di tempat yang bagus. Maksudnya seperti yang digelar di kebun binatang yang bagus, yang hewan-hewannya dipelihara secara baik (terlihat dari kondisi badan hewan-hewan tersebut). Kalau hewan-hewan di sebuah kebun binatang terlihat terawat, maka kemungkinan besar para petugas di sana juga memperlakukan hewan dengan baik, termasuk yang dijadikan hewan sirkus.
  • Sebaiknya enggak usah mengajak anak-anak naik hewan-hewan di kebun binatang, seperti naik gajah, onta, keledai, dan lain-lain. Apalagi jika hewan-hewan tersebut terlihat kecapekan.
  • Kalau mau naik hewan, sebaiknya naik hewan yang khusus dipelihara untuk itu. Seperti naik kuda di peternakan kuda. Atau kuda yang memang disiapkan untuk olahraga naik kuda.
  • Kalau mau naik delman, misalnya, lihat-lihat dulu kudanya. Kalau terlihat sehat, baru deh naik.
  • Kalau lagi traveling trus ketemu hewan-hewan unik atau lucu, enggak perlu lah memaksakan diri foto sama dia demi keeksisan kita di media sosial. Hehehe.


Faiq sedang naik kuda berkeliling tempat wisata (ditemani bapak pemandunya), di Pacet.


Intinya, meskipun sebagian hewan-hewan itu memang sengaja dipelihara untuk bekerja (dengan diberi makan dan dirawat dengan baik), tapi untuk kehati-hatian saya akan memperhatikan kondisi hewan-hewan tersebut terlebih dahulu jika ingin menggunakan atau menikmati jasanya. Lagi pula, kalau untuk keperluan transportasi, masih ada banyak pilihan lain selain dengan tenaga hewan. Naik ke punggung hewan atau naik delman kuda biasanya hanya untuk menyenangkan anak-anak.



Faiq dan Fahima saat naik ke punggung kuda (untuk saya foto) di Alun-alun Kidul Keraton Surakarta.


Hewan-hewan itu juga punya hak hidup sama seperti kita, manusia. Maka selayaknya kita juga harus menyayangi mereka. Rasulullah Muhammad shalallahu 'alaihi wassalam sebagai panutan umat Islam pun juga sangat menyayangi binatang. Jadi kita yang mengaku sebagai umat Islam, sudah seharusnya juga menyayangi hewan.

Oiya, pandangan dan upaya-upaya yang coba saya lakukan seperti poin-poin di atas itu saya tulis sebagai orang awam, ya. Maksudnya saya bukan pegiat komunitas cinta hewan atau sejenisnya. So, kalau ada masukan untuk upaya menolak eksploitasi hewan dari teman-teman (khususnya pecinta hewan), silakan sharing di kolom komentar, ya. Mari kita sama-sama mengurangi eksploitasi hewan di sekitar kita :).


5 comments:

  1. Cara tahu hewannya lelah bagaimana, Mbak? Saya juga mau diberitahu supaya saya bisa pastikan.
    Karena saya bisa aja ngomong ke pawangnya kalau hewannya dibawa masuk kandang saja. Sudah capek.

    ReplyDelete
  2. Di tempat saya juga sekarang lagi ada atraksi lumba-lumba. Sedih banget kalau mikirin lumba-lumbanya harus diangkut ke darat buat atraksi

    ReplyDelete
  3. Pas kita lihat pertunjukan binatang seru2 aja ya, tapi di balik itu ada binatang yg tereksploitasi, dipaksa sesuatu yg bukan habits bawaannya. Sedih.

    ReplyDelete
  4. Aku pun kadang kalau dipertunjukan hewan gitu suka sedihhhhh.

    ReplyDelete
  5. Binatang juga perlu kebebasan dan hidup di alam bebas. Manusia oh manusia, mengekploitasi hewan untuk keuntungannya sendiri... :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.

Kumpulan Emak Blogger

WARUNG BLOGGER


Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Ibu-ibu Doyan Nulis


Mom Blogger Community


Followers

© 2016 DeKa | Powered by Blogger | Template by Enny Law