Thursday, 15 March 2018

Menghargai Diri Sebagai Blogger, Tapi Bukan untuk Berbangga Diri



Ketika kita telah menentukan suatu pilihan, biasanya karena kita telah mempertimbangkan seberapa banyak kelebihan dari pilihan kita tersebut, pun demikian dengan kekurangan-kekurangannya. Ada hal tentang kecocokan, nilai lebih, manfaat, kesenangan, dan lain-lain yang kita pikirkan sebelum menjatuhkan hati kita pada sebuah pilihan. Pilihan akan aktivitas-aktivitas pun demikian adanya. Hingga pilihan aktivitas itu bermuara pada suatu hal yang bernama passion.

Sudah sejauh ini saya melangkah dalam dunia blogging. Sebuah aktivitas yang saya cintai, yang saya rasa adalah passion saya. Terhitung sejak akhir tahun 2012 saya menciptakan blog ini. Sudah 5 tahun berlalu, saya menulis, menulis, dan menulis di sini. Dan sejak Desember 2015, saya telah mengubah media ekspresi saya ini dari blog yang gratisan menjadi blog ber-TLD (Top Level Domain). Dua tahun lebih saya telah mencoba lebih serius ngeblog.

Mengapa saya bertahan ngeblog hingga detik ini?
Ya, karena saya telah merasa blogging atau aktivitas ngeblog adalah passion saya. Meski ada yang bilang, kalau tak ada peningkatan dari waktu ke waktu (prestasi) atas aktivitas tersebut, itu mungkin bukan passion, tapi saya just go ahead. Saya suka menulis di blog ini, saya enjoy melakukannya, tanpa paksaan, tanpa mengeluh atau tertuntut harus begini dan begitu, saya merasa senang dan puas jika tulisan sudah dipublish, .... Yes, I think this is my passion! 
(meski mungkin minim prestasi 😉).


Credit from: pexels.com.


Beberapa waktu lalu di sebuah grup WhatsApp (WA) khusus blogger yang saya ikuti, sempat ada sedikit chit-chat tentang blogger versus selebgram. Ada yang bilang,
"Enak, ya, jadi selebgram, cuma upload foto-foto bayarannya udah gedhe."
"Iya, selebgram asal followernya udah banyakkkk, gampang dapet endorse-an."
"Padahal enggak jarang mereka juga beli follower, enggak murni followernya organik."
"Kalau blogger, kan, mesti kerja keras nulis kalau dapet job. Bikin konten tulisan tuh enggak mudah. Habis itu masih harus promoin di medsos. Trus fee-nya kalah gedhe sama selebgram."

Ada yang setuju dengan statement-statement di atas, tapi ada juga yang bersikap obyektif meskipun dia sebagai blogger.

"Tapi jadi selebgram tuh perjuangannya juga enggak mudah, loh. Misal si A itu, dia dari awal emang foto-fotonya bagus, trus followersnya nambah terus. Dan itu butuh waktu yang enggak sebentar. Kita emang taunya sekarang pas dia udah banyak followers, banyak job. Tapi sebelum itu? Perjalanannya enggak mulus juga, kok."

"Bikin foto-foto yang bagus di Instagram tuh mereka juga ada effort yang enggak gampang, loh. Butuh properti, fotografer, MUA, de el el. Ada tenaga, waktu dan biaya juga buat menghasilkan foto-foto yang bagus."

"Ya intinya kita gak perlu ngebandingin antara blogger dan selebgram, lah. Masing-masing punya effort yang berbeda, dan masing-masing punya target viewers sendiri-sendiri."

***

Nah, saya setuju banget dengan statement terakhir di atas. Buat saya, sih, karena ngeblog itu adalah passion saya, jadi saya menulis untuk kepuasan diri sendiri. Jadi bukan soal materi semata, sih. Meskipun dengan menjadikan blog ini berbayar bisa diartikan saya ingin memonetize blog ini, tapi bukan berarti apa-apa harus bernilai materi. Kalau blog ini bisa menghasilkan materi (baca: uang), itu bonus saja. Saya enggak ngoyo mencarinya 😊. Jadi enggak perlu juga, lah, membandingkan fee dengan blogger-blogger lain apalagi dengan para selebgram. Lha, siapa juga saya ini? Hahaha.

Buat saya, menghargai tulisan-tulisan saya sendiri enggak semata-mata dinilai dari segi materi. Apakah tulisan-tulisan berbayar di blog ini kualitasnya lebih bagus daripada tulisan-tulisan organik? Belum tentu. Toh, tulisan-tulisan populer di blog ini juga (justru) kebanyakan adalah tulisan organik, bukan sponsored post atau job review. Saya menghargai tulisan-tulisan saya sendiri, tak peduli apa kata orang-orang di luar sana. Kalau bukan kita yang menghargainya sendiri, lalu siapa lagi? Hehe.

Sebagai blogger, kita tahu sendiri bagaimana effort dalam menyusun sebuah konten. Kita tentu tidak asal menulis, karena mengingat tulisan kita akan dibaca oleh orang lain. Ada semacam pertanggungjawaban dari apa yang kita tulis, kita publish di blog. Ketika kita bertemu dengan pembaca baik di dunia maya ataupun di dunia nyata, kita harus siap jika ada pertanyaan-pertanyaan tentang apa-apa yang telah kita tulis.

So, saya rasa, value seorang blogger terletak pada konten blog yang ia kelola secara keseluruhan beserta attitude yang menyertainya. Karya-karya pada blognya merupakan bentuk value atau nilai diri yang ia punya. Selanjutnya ada pertanggungjawaban dari konten-konten yang ia buat.

Credit from: pexels.com.


Begitupun saya, ketika predikat sebagai seorang blogger itu "saya lekatkan sendiri" pada diri saya (hehe...), saya merasa mempunyai value itu. Minimal, orang-orang terdekat seperti teman dan saudara tahu kalau saya suka menulis di blog, saya bisa merangkai kata menjadi tulisan utuh (yang tidak semua orang bisa melakukannya). Saya berusaha menulis secara jujur di blog ini, tentang pengalaman sehari-hari, pengalaman menggunakan produk, beropini, dan sebagainya. Ya, pemikiran-pemikiran saya eksis di blog ini dan ada orang-orang yang mau membacanya. Saya merasa mempunyai value itu.

Jadi, buat saya menghargai (karya) diri sendiri tanpa harus membandingkannya dengan orang lain jauh lebih baik daripada mencari-cari kejelekan pihak lain. Kalau aktivitas itu sudah menjadi passion kita, tentu kita akan tetap bertahan meski badai menghalang *lah, lebayyyy 😄    
Kita akan tetap enjoy melakukannya meski mungkin tak ada imbalan (materi) atas karya kita.

Tapi satu hal yang selalu saya ingat, saya enggak boleh berbangga diri atas karya-karya saya, hingga jatuh dalam kesombongan. Na'udzubillahi min dzalik. Meskipun sebagian tulisan-tulisan saya (mungkin) bermanfaat bagi orang lain (pembaca), tapi itu hanya bagaikan butiran debu yang jika tanpa kehendak-Nya maka tak akan terjadi. Banyak tulisan-tulisan lain yang jauh memberikan dampak positif bagi pembacanya 😊
 

4 comments:

  1. I was suggested this blog by my cousin. I am not
    sure whether this post is written by him as no one else know such detailed about my difficulty.

    You're wonderful! Thanks!

    ReplyDelete
  2. Sebagai blogger bunda menulis apa yang ingin bunda tulis lho, tak pernah terpikir sedikitpun apa pendapat readers setelah membacanya. Yang penting isinya adalah sedikit berisi wejangan yang bisa manfaat buat para pengunjung blog bunda. Sebagai blogger bunda jadi bisa lho menerbitkan sebuah buku untuk dijadikan kenang-kenangan buat anak-cucu-menantu. Keluarga dan handai taulan yang malah bangga lho memiliki seorang nenek/tante/kakak atau apalah yang jadi blogger.

    ReplyDelete
  3. Betul mbak.
    Terserah orang lain mau komen atau beropini apa. Yang penting tetap nulis tetap ngeblog dengan values yg kita anut.


    Semangat!

    ReplyDelete
  4. Itu kutipan2-nya kok kayak pernah baca di grup blogger kekinian yak? Wakakakkaka
    Semangaaaat sharing konten positif ya mba saaayyy
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.

Kumpulan Emak Blogger

Ibu-ibu Doyan Nulis


Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

WARUNG BLOGGER


Mom Blogger Community


Followers

© 2016 DeKa | Powered by Blogger | Template by Enny Law