Thursday, 11 January 2018

Mencoba Menemukan Keistimewaan Diri Melalui Analisis SWOT Pribadi



Sebagai seorang introvert, saya cenderung sulit menemukan keistimewaan diri sendiri. Perasaan inferior, pemalu, tidak percaya diri, dan sifat-sifat negatif lainnya seringkali hinggap di hati dan pikiran. Hal ini telah berlangsung sejak saya kecil, hingga dewasa. Terkadang memang bahagia ketika bisa berbuat baik/lebih, tapi setelah itu saya tetap merasa tak ada apa-apanya dibanding dengan orang lain. 

Begitu pula ketika saya menemukan kekurangan-kekurangan pada anak-anak saya. Si sulung sepertinya menuruni beberapa sifat saya, antara lain pemalu dan tidak percaya diri. Melihat kenyataan itu, saya seringkali menyalahkan diri sendiri. "Itu semua karena saya sebagai ibunya telah menurunkan sifat-sifat itu! Kalau ibunya tidak punya rasa percaya diri, bagaimana bisa menjadikan anak-anaknya seorang yang percaya diri?!"

Beberapa kali saya mencoba mencari solusi dengan berbagi masalah ini dengan teman. Mereka memberikan keyakinan bahwa kita bisa mengubah hal itu menjadi sebaliknya. Bahkan ternyata banyak juga, lho, yang ibunya enggak percaya diri, sulit berbicara di depan umum, tapi bisa membuat anak-anaknya jago public speaking. Ah, tapi lagi-lagi, motivasi dari teman-teman itu belum juga mampu mengusir rasa bersalah yang masih sering mampir di diri.

Credit from pexels.com.


Masalah juga tak hanya muncul dari dalam diri sendiri. Jika saya melihat keluar, saya sering membandingkan diri ini dengan orang lain. Saya sering melihat orang-orang di luar sana begitu hebatnya. Saya kagum dengan mereka yang bisa dengan percaya diri ngomong di depan umum, dengan ringan memberikan pendapatnya seperti tanpa beban, tanpa malu, lancar bicara. Bukan seperti saya, begitu banyak kalimat yang ingin keluar, telah tersusun rapi di pikiran, tapi ketika waktu menjadi milik saya, keadaan di sekitar bagaikan berganti menjadi entah. Hingga membuat kalimat-kalimat itu menguap pergi, bersamaan dengan keluarnya kata-kata tak tentu arah dari mulut saya.

Saya juga begitu kagum dengan mereka yang multitalenta. Cantik/ganteng, cerdas, pandai bergaul, bisa bekerja dengan baik tanpa mengabaikan kepentingan keluarga, dan lain-lain. Mereka bisa begini-begitu, punya bakat di bidang tertentu, punya beragam aktivitas baik untuk urusan pekerjaan ataupun sosial, dan sebagainya dan seterusnya. Sedangkan saya? Hanya ibu rumah tangga yang tak punya kesibukan apapun selain menulis di blog ini, tapi masih suka mengeluh, merasa dirinya sok sibuk hanya karena punya 3 anak kecil. Ya, saya merasa menjadi manusia yang buruk sekali, tanpa kelebihan apapun!

Kurang bersyukur? Barangkali, iya. Tapi saya tak merasa seperti itu. Nyatanya, saya tak pernah berontak dengan keadaan. Saya bisa menerima kekurangan-kekurangan itu. Saya selalu bisa untuk berusaha bersyukur atas setiap keadaan dan kondisi hidup saya. Hanya saja, saya merasa tidak lebih baik dari orang-orang di sekitar saya.


Menemukan Keistimewaan Diri dengan Analisis SWOT Pribadi
Qadarullah, beberapa waktu lalu saya mengikuti kelas online belajar Bahasa Inggris. Ya, seperti yang pernah saya singgung pada postingan-postingan sebelumnya, saya ingin lebih menguasai Bahasa Inggris agar bisa membantu anak-anak saya belajar bahasa internasional itu. Nah, pada sebuah pertemuan awal, kami dipersilakan untuk memperkenalkan diri masing-masing. Dalam format perkenalan itu kami juga diberikan kesempatan untuk menggambarkan diri sendiri dalam satu kata. Dan, satu kata (yang menjadi dua kata, hehe..) yang muncul dari saya adalah: SHY PERSON.
(pemalu menurut saya sudah mewakili sifat saya yang lain, seperti tidak percaya diri, pendiam, dan semacamnya).

Mengetahui deskripsi atas diri saya, teacher memberikan motivasi bahwa di kelas itu kami belajar bersama, jadi enggak perlu malu jika ingin mengemukakan pendapat, enggak perlu malu jika salah, karena kami akan saling memberikan masukan demi kebaikan bersama.

Lalu teacher memberikan tugas kepada kami untuk membuat Personal SWOT Analysis atau analisis SWOT pribadi. Sebelumnya saya sudah pernah tahu tentang SWOT ini saat duduk di bangku kuliah, sih. Jadi saya masih ingat sedikit-sedikit, lah. 



Credit from pexels.com.


Well, mungkin sudah banyak yang tahu juga, ya, apa itu SWOT. SWOT adalah kependekan dari STRENGTH, WEAKNESS, OPPORTUNITY, and THREAT. Ya, analisis SWOT akan menganalisa tentang kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan terhadap suatu hal. Strength dan Weakness adalah kekuatan dan kelemahan dari sisi internal. Sedangkan Opportunity dan Threat adalah peluang dan tantangan secara eksternal.

Biasanya analisis SWOT digunakan dalam suatu perusahaan atau organisasi untuk menganalisa kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan di dalamnya.  Nah, kalau analisis SWOT pribadi, tentu saja untuk menganalisa diri sendiri. mencari dan menemukan kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan yang harus dihadapi. Saya begitu tertarik dengan tugas ini, karena saya ingin mengetahui sisi baik dan buruk dari diri saya, kemudian mengolahnya untuk menemukan sesuatu yang baru pada diri saya sendiri. Ya, saya ingin menemukan keistimewaan diri yang selama ini sangat sulit saya cari.

Hal yang kemudian saya lakukan adalah merenung. Mencoba fokus untuk menemukan kekuatan atau kelebihan-kelebihan yang ada di diri. Apa iya saya punya keistimewaan yang lain daripada yang lain, yang berbeda dari orang lain? Ah, ternyata memang sulit menemukannya. Tapi baiklah, saya tak perlu mencari keistimewaan yang benar-benar istimewa. Tapi saya cukup tahu beberapa kekuatan saya. Untuk tujuan mensyukuri karunia Allah yang Maha Menciptakan 💚  

Dan, inilah beberapa STRENGTHS yang saya miliki:
  • Dapat menulis secara rapi dan lebih teliti.
  • Seringkali dengan mudah menemukan tulisan yang typo (salah ketik) baik pada tulisan saya sendiri maupun tulisan orang lain.
  • Dapat menjadi pendengar yang baik, tanpa menginterupsi cerita-cerita yang saya dengarkan.
  • Dapat menjadi seorang yang qona'ah (mampu menerima keadaan dalam kondisi sulit maupun senang) dengan mudah.
  • Tidak mudah silau dengan gemerlapnya dunia (kekayaan, kesuksesan) dari orang lain.

Dari beberapa kelebihan atau kekuatan itu saya sudah bisa mensyukuri keberadaan diri saya sendiri. Ya, meskipun saya tahu kelebihan-kelebihan itu juga dipunyai banyak orang, tapi saya mencoba membangun kekuatan itu untuk menciptakan peluang. Misalnya, saya sudah merasa benar menggeluti dunia blogging, karena kelebihan saya dalam hal menulis. Di sisi lain saya menyadari betul bahwa saya enggak pandai bicara. Jadi, pas banget kalau passion saya adalah menulis (blogging).

Itulah salah satu cara menemukan keistimewaan diri yang saya lakukan: melalui analisis SWOT pribadi. Tentu saja saya juga menemukan kelemahan-kelemahan, peluang-peluang, dan tantangan-tantangan bagi diri saya. Tapi, untuk tulisan kali ini cukup saya tuliskan sisi Strenghts-nya saja, ya 😊.

Yang pasti, melalui analisis SWOT pribadi saya bisa menemukan lebih banyak kekuatan saya, karena saya benar-benar fokus mencarinya di dalam diri. Saya menemukan potensi diri yang selama ini kurang saya sadari. Mata dan pikiran saya juga terbuka dalam menemukan peluang-peluang dari kekuatan saya, dan berusaha mengoptimalkan peluang-peluang itu ke depannya (termasuk bersiap menghadapi berbagai tantangan yang mungkin hadir). Insya Allah.


Ya Allah, terima kasih telah menciptakan aku yang spesial. Aku percaya diriku istimewa 💚



2 comments:

  1. Metode SWOT bagus ya mba untuk evaluasi diri aku juga pengen deh ni cobain breakdown pribadi aku hehehe

    ReplyDelete
  2. wah menurut saya, saya juga termasuk orang yang tertutup, salah satu resolusi saya di tahun 2018 ini adalah saya harus mengasah juga kemampuan bahasa inggris yang sudah lama tidak diasah. semoga terus semangat. saya follow blognya yah

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.

Kumpulan Emak Blogger

HALO BALITA


Ibu-ibu Doyan Nulis


Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Followers

Alexa Rank

© 2016 DeKa | Powered by Blogger | Template by Enny Law