Tuesday, 6 June 2017

Agar Ada Kenangan Indah tentang Puasa Bagi Ibu Menyusui


http://www.dekamuslim.com/2017/06/agar-ada-kenangan-indah-tentang-puasa.html



Agar Ada Kenangan Indah tentang Puasa Bagi Ibu Menyusui
Puasa Ramadhan di tahun 1438 H (2017 M) ini merupakan pengalaman kedua saya berpuasa pada saat kondisi menyusui. Pada tahun 2015 lalu saya menyusui anak kedua, sedangkan tahun ini menyusui anak ketiga. Dua kali mengalami puasa saat menyusui, ada pengalaman yang berbeda. Kalau dulu pengalaman pertama masih banyak salahnya, tentu saja sekarang saya berusaha memperbaikinya. 

Saya pikir tidak semua ibu bisa merasakan momen puasa Ramadhan saat menyusui. Seperti contoh ketika saya mempunyai anak pertama. Saat itu, saya tak mampu memberikan ASI eksklusif pada si sulung karena beberapa hal. Saya hanya bisa menyusui sekitar 3 bulan. Selama itu pula, bulan Ramadhan tidak saya lalui. Sehingga saya tak mengalami momen puasa pada saat menyusui. Nah, mungkin banyak pula ibu-ibu lain yang mengalami hal yang sama. Maka dengan kenyataan seperti itu, saya rasa berpuasa Ramadhan bagi ibu menyusui merupakan sesuatu yang spesial :).

Saya pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut ketika saya bisa memberikan ASI eksklusif pada anak kedua dan ketiga, dan berjumpa dengan bulan Ramadhan. Diri ini merasa tertantang untuk mampu menjalani ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh sambil tetap menyusui si kecil. Sehingga sejak sebelum Ramadhan tiba, saya telah mempersiapkan diri untuk menyambutnya dengan suka cita. Ya, saya ingin melaksanakan ibadah itu sebaik-baiknya. Agar kelak, saya mempunyai kenangan indah tentang puasa bagi ibu menyusui.

Sejak awal Ramadhan tahun ini, saya berusaha menciptakan suasana happy. Saya tak ingin kecewa (seperti pengalaman sebelumnya) gara-gara pernah beberapa kali gagal puasa karena kondisi badan melemah di siang hari akibat menyusui. Saya harus lulus puasa sehari penuh, setiap hari, tanpa merasa lemas atau badan drop karena nutrisi yang terbagi dengan si kecil.


Menjaga Fisik 
Dua hal utama yang saya lakukan adalah menjaga fisik dan psikis selama Ramadhan. Untuk fisik, saya menjaga asupan nutrisi agar tercukupi. Karena seperti kita ketahui, ibu menyusui membutuhkan nutrisi dobel untuk dirinya sendiri dan untuk si kecil. Meski Zia (si kecil saya yang berusia hampir 11 bulan) sudah pada masa pemberian MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu), tapi dia juga masih membutuhkan ASI sebagai asupan nutrisi utamanya. 

Untuk menu buka puasa dan sahur, saya mengasup air putih, kurma, nasi, sayur, lauk, dan buah-buahan (kadang-kadang. Tapi kalau kurma rutin saya konsumsi). Harapan saya semua kebutuhan akan mineral, karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan lain-lain tercukupi bagi tubuh saya.


Gambar ilustrasi dari pexels.com.


Kemudian waktu antara berbuka hingga tidur, saya biasanya ngemil dan minum air putih dan atau minuman lain. Tahu, kan, ibu menyusui yang berpuasa itu menu makannya seharusnya tidak berubah dari menu di hari-hari biasanya. Hanya waktunya saja yang dipindah ke malam hari semua. Jadi saya harus ngebut untuk memenuhi kebutuhan itu. Hehe. Misal kebutuhan minum air putih 8 gelas selama berbuka hingga sahur, lalu menambah makan sesaat sebelum tidur (entah makan nasi atau menu lain), dan sebagainya.

Oh ya, saya juga rutin mengonsumsi Habbatussauda untuk menjaga daya tahan tubuh. Biasanya saya minum satu kapsul saat berbuka, satu sebelum tidur, dan satu lagi saat sahur. Kadang juga minum madu (tapi yang ini saya kurang rajin). Alhamdulillah sejauh ini kondisi saya fit sepanjang hari.


Menjaga Psikis
Ibu menyusui harus berbahagia jika ingin ASI yang dikeluarkannya lancar. Rasa tenang, senang, nyaman, rileks, dan semacamnya akan sangat mempengaruhi produksi hormon oksitosin yang mampu menghasilkan ASI dengan lancar. Maka, saya juga harus bahagia, tidak terbebani saat menjalankan puasa. 

Jadi saya berusaha sesantai mungkin mengerjakan pekerjaan rumah sebagai IRT yang seharian penuh di rumah. Memasak, mencuci, bersih-bersih rumah, saya lakukan seperti air mengalir saja :D. Menghadapi tingkah polah si sulung dan adiknya yang acapkali bertengkar, saya juga berusaha tenang. Saya enggak boleh terlalu emosi, lelah jiwa maupun raga. Agar keberadaan hormon kasih sayang itu terjaga dengan baik.

Alhamdulillah, suami juga tidak menuntut harus masak ini-itu untuk berbuka dan sahur. Kalau menunya kurang lengkap, kami bisa membeli di penjual-penjual makanan dekat rumah, yang di bulan Ramadhan ini semakin banyak jumlahnya. Santai, enggak ngoyo :).

Itulah hal-hal yang saya lakukan agar ada kenangan indah tentang puasa bagi ibu menyusui ala saya. Puasa Ramadhan yang membahagiakan bagi ibu menyusui :). Belajar dari pengalaman sebelumnya, insya Allah puasa Ramadhan tahun ini saya lebih hepi, lebih kuat, dan semoga bisa bertahan hingga akhir Ramadhan nanti. Dan tentu saja, semoga ibadah puasa saya diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Aamiin.


5 comments:

  1. Saya selalu mengalami bulan puasa saat menyusui. Soalnya anak-anak memang menyusui sampai 2 tahun. Dan di tahun pertama, saya selalu gak puasa. Soalnya saat menyusui, semua anak saya susah makan. Banyaknya menyusui. Kasian banget kalo saya puasa. Anak jadi diare dan lemes banget.

    ReplyDelete
  2. Semangat Mba'! Aku juga sedang puasa sambil mwnyusui, semoga bisa sampai akhir ya, Aamiin

    ReplyDelete
  3. aku pas menyusui alhamdulilah puasa terus mba meski hasil ASIP agak encer tapi anakku ga masalah :)pas tahun 2015 pas lebaran adalah 2 tahun anakku langsung di sapih :)

    ReplyDelete
  4. Jadi ingat kenangan menyusui tahun 2015 dan 2016 mbak.

    ReplyDelete
  5. Jadi ingat kenangan berpuasa sambil menyusui tahun 2015 dan 2016. Dan alhamdulillah puasa lancar

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.

Kumpulan Emak Blogger

HALO BALITA


Ibu-ibu Doyan Nulis


Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Followers

Alexa Rank

© 2016 DeKa | Powered by Blogger | Template by Enny Law