Thursday, 13 April 2017

[Marriage Chapter] Peran Istri dalam “Meluruskan” Suami



http://www.dekamuslim.com/2017/04/marriage-chapter-peran-istri-dalam.html



Ceritanya tempo hari ada teman blogger yang ngajak tandem nulis plus membuka luka lama, nih :D. Ya, karena kami sama-sama mantan mahasiswa yang (dulu) suka ngobrolin tentang Hukum Perkawinan Islam. Iya, dulu. Karena sekarang saya lebih suka ngobrol atau menulis tentang anak-anak :). Jadi (katanya) agar deretan kata di belakang nama kami lebih bermanfaat, alangkah baiknya jika ilmu yang sedikit itu dituliskan kembali di blog. Okesip! Tapi yang namanya mantan, kadang kenangan bersamanya ingin dilupakan #eh. Tapi semakin ingin melupakan, justru akan semakin teringat segala peristiwa sampai sedetil-detilnya *ini ngomong apah.…*

Nah, akhirnya kami sepakat untuk menulis bab pernikahan tersebut. Dan, pada tulisan perdana ini (semoga nanti bisa berlanjut, ya) kami ingin membahas tentang peran istri dalam sebuah rumah tangga. Hei, sebenarnya dalam bahasa hukum istilahnya bukan “peran”, ya, tapi hak dan kewajiban. Tapi, ya, sudahlah. Untuk sementara saya ngikutin bahasanya teman saya (lebih tepatnya adik kelas) yang rumahnya di www.dekcrayon.blogspot.co.id itu :D. 
Ups, barusan kemarin ternyata blognya Tata udah TLD! Yap, rumahnya udah jadi www.dekcrayon.id ! Keren :)))

Oh iya, karena saat ini saya tidak mengaplikasikan ilmu yang saya pelajari di bangku kuliah tersebut (dalam artian sebagai praktisi hukum Islam), jadi maklum jika pembahasan saya disesuaikan dengan materi kuliah dulu :). Mungkin ada bagian yang kurang update. Tapi yang jelas, saya hanya membahas secara umum saja. 


Hak dan Kewajiban Suami Istri 
Sebelumnya, tetap saya gunakan istilah hak dan kewajiban, ya, karena akan menyangkut beberapa peraturan di sini. Jadi hak dan kewajiban seorang suami dan istri dalam sebuah rumah tangga itu sebenarnya banyak sekali, ya. Seperti suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya, istri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya, suami istri wajib saling mencintai, hormat-menghormati, setia dan memberi bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain, dan sebagainya.

Tapi intinya, haknya suami adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh istrinya (menjadi kewajiban istri kepada suami), begitu pula sebaliknya. Suami dan istri saling melengkapi melalui terpenuhinya hak-hak dan kewajiban-kewajiban tersebut. Kemudian hak dan kewajiban suami istri itu pada akhirnya disesuaikan dengan tujuan pernikahan Islam, seperti yang tercantum baik di dalam Al-Qur’an (QS. Ar-Rum: 21) maupun dalam Undang-undang Perkawinan (Pasal 1 UU No. 1 Tahun 1974) dan Kompilasi Hukum Islam (Pasal 3 KHI). Bahwa hak dan kewajiban itu diciptakan untuk membentuk keluarga yang bahagia, yaitu yang sakinah (tentram), mawaddah (kasih), dan rahmah (sayang) dalam kerangka menaati perintah Allah

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (QS. Ar-Rum: 21) 
"Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami-isteri dengan tujuan membentuk keluarga, rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa." (Pasal 1 UU No. 1 Tahun 1974) 
"Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah." (Pasal 3 KHI (Instruksi Presiden RI No. 1 Tahun 1991)). 



Kalau kita tilik lebih kanjut dalam Al-Qur'an ataupun KHI, kedudukan suami istri memang seimbang. Tapi, coba lihat kewajiban suami yang antara lain membimbing istrinya, melindungi istri, memberikan pendidikan agama kepada istrinya. Kemudian kewajiban istri berbakti lahir batin kepada suami dalam batas-batas yang dibenarkan oleh hukum Islam

"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Baqarah: 228) 

Mungkin teman-teman pernah tahu atau menjumpai ataupun mengalami sendiri, bahwa kadangkala suami juga berbuat salah. Ya, suami juga manusia, yang tak luput dari salah atau dosa. Kadang suami "terpeleset". Sehingga justru suami lah yang membutuhkan bimbingan istrinya (ke jalan yang lurus), yang membutuhkan "refresh" ilmu agama agar tidak terjerumus dalam perbuatan dosa. Misalnya saja, suami suka mengakhirkan waktu shalat, lama tidak mengikuti majelis taklim, menghukum anak dengan cara yang salah, dan lain-lain. Atau mungkin ada yang lebih ekstrim lagi (seperti di film-film itu :)), seperti suami yang korupsi, selingkuh, dll... (na'udzubillahi min dzalik).

Atau, suami memerintah istri untuk berbuat hal-hal yang tidak bisa dibenarkan oleh syari'at Islam. Seperti melarang istri menjenguk saudara yang sedang sakit, melarang ikut kajian, menyuruh ikut terlibat dalam konspirasi korupsi, dll.

Jika kejadiannya seperti itu, tentu saja istri wajib "meluruskan" suami. Istri wajib menolak perintah suami untuk berbuat maksiat. Tapi masalahnya, kadang karena egonya, suami ogah diingatkan. Atau barangkali, cara yang kita tempuh kurang bisa diterima suami? Iya, kita sebagai istrinya belum cukup pintar dalam "menaklukkan" suami! Hehehe.


Peran Istri dalam "Meluruskan" Suami

Konon, ego laki-laki memang lebih tinggi daripada perempuan. Ya, sesuai fitrahnya (seperti salah satu firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 228 di atas), laki-laki memang diciptakan punya satu tingkatan kelebihan dari perempuan. Jadi wajar jika suami kadang sulit menerima nasehat dari istrinya. Apalagi, jika nasehat itu terlontar dengan kata-kata kasar atau kemarahan. Hemm, dijamin suami tambah ikut marah, deh :).

Tapi, kalau suami salah, kita sebagai istri wajib meluruskan atau mengingatkan, dong? Kan, kita sayang sama suami kita? Masa iya kita akan membiarkan dia terjerumus dalam lobang dosa? Atau kita malah ikut terjerumus pada kemaksiatan? Bagaimana nasib rumah tangga kita? Bagaimana nasib anak-anak kita?

So, sebagai istri, peran kita untuk meluruskan suami yang sedang berbuat salah sangat besar, agar rumah tangga yang sakinah, mawaddan dan rahmah dalam lindungan Allah subhanahu wa ta'ala juga tercapai.




Jadi, bagaimana ya seharusnya istri meluruskan atau mengingatkan suami yang berbuat salah? Dari hasil membaca beberapa artikel dan pengalaman pribadi, nih, saya menemukan beberapa cara agar peran kita sebagai istri dalam meluruskan suami berhasil dilakukan.
  • Karena kita mencintai suami karena Allah, maka bicaralah padanya dengan cinta pula, demi Allah ta'ala. Bicarakan baik-baik, tanyakan mengapa dia berbuat seperti itu? Bukankah hal itu dibenci Allah? Kita mencintai Allah, maka rumah tangga kita juga harus menuju pada taat kepada-Nya.  
  • Memberikan nasehat melalui teladan dari tingkah laku kita. Bukan anak kecil saja yang suka dinasehati melalui keteladanan, orang dewasa pun demikian. Jika misalnya suami suka mengakhirkan waktu shalat, maka kita harus meneladani shalat di awal waktu jika kita ingin suami melakukan hal yang sama.
  • Sabar dalam melakukan perbaikan, pelan-pelan dan bertahap. Tidak mudah mengubah kebiasaan, karakter, atau tingkah laku seseorang. Tak terkecuali suami, orang yang paling dekat dengan kita.  
  • Lakukan dengan cara-cara yang disukai suami. Siapa, sih, yang enggak suka diperhatikan? Jika suami suka ngobrol dengan kita pada saat menjelang tidur, dengarkanlah curhatnya, dan nasehatilah dia pada momen seperti itu :).
  • Selalu mendoakannya. Ini yang paling penting, tentu saja. Jangan pernah berhenti untuk mendoakannya agar mendapat petunjuk (hidayah), diberikan hati yang lunak untuk dapat menerima masukan atau nasehat dari kita sebagai istrinya.

Hak dan kewajiban suami istri memang benar-benar diatur untuk menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Jadi jika ada salah satu dari suami/istri ada yang berbuat salah, maka salah satunya berhak dan wajib mengingatkan. Sebagaimana pula kewajiban terhadap sesama muslim agar saling menasehati dalam kebenaran dan menetapi kesabaran (QS. Al-Ashr: 3). Yang paling penting, peran kita sebagai istri dalam meluruskan suami adalah dengan sepenuh cinta :). Karena kita pasti cinta suami, dan ingin menyelamatkan rumah tangga dari api neraka, ingin bersama-sama hingga ke jannah-Nya.


Ehmm… Diah, memangnya kamu sudah bisa melaksanakan seperti apa yang kamu tulis di atas? 
Yaa… tentu saja belummmm…. Hehehe. Seperti biasa, yang saya tulis di blog ini kebanyakan adalah sebagai pengingat buat diri sendiri. Karena kadang dari tulisan sendiri, saya bisa introspeksi. Bisa memperbaiki diri. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi saya pribadi, dan alhamdulillah juga jika bisa bermanfaat bagi pembaca blog ini :). 

Oh ya, jika teman-teman mau membaca tulisan tentang peran istri dari sudut yang berbeda yang sudah lebih dulu ditulis oleh teman saya Tata, bisa langsung meluncur ke blognya, ya (alamat blog sudah saya tulis di atas) baca tulisan dengan judul "Peran Istri Setelah Menikah yang Terlupakan" :).

Happy blogging!



14 comments:

  1. wah tengkyu mbk diah,,,, akhirnya...
    eh serasa lgi ada di kelas "Hukum perkawinan " komplit ala dosen. 😜

    ReplyDelete
  2. Sebagai pasangan yang terbilang masih baru banget, aku pun masih mencari selah kalau ingin tidak ada kesalah pahaman dengan suami mbak. Ego laki-laki dan sikap ngeyel perempuan yang suka bikin bentrok ya. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo pas ego suami muncul trus barengan sama istri yg gak mau ngalah, yah.. tengkar deh :)
      Iya, mesti hati2 banget ya Mbak kalo pas beda pendapat, diskusi, kasih nasehat, dan semacamnya itu :)

      Delete
  3. pasangan yg sudah lumayan lama seperti saya pun masih banyak harus belajar ttg hal2 diatas mba Diah... terkadang ego masing2 masih mendominasi :) makasih sharingnya ya... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, betul.. yg udah lama nikah pun harus mau terus belajar. Karena akan selalu ada masalah dlm sebuah rumah tangga kan yaa :)

      Delete
  4. Saat berbincang untuk bisa menegur itu adalah saat keadaan keduanya tidak dilanda emosi, ketika keduanya emosi masing2 punya ego untuk merasa benar :) begitulah klo cara saya dan suami.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah setuju dengan mbak Herva . Kalo lagi sama2 emosi bakal saling menasehati dengan suara keras alias ribut hahaha

      Delete
    2. Seruju banget, mbak Herva juga mama Keizha..
      Jadi tambahan poin2 di atas ya. Saya kurang tuh nulisnya, kelupaan :)

      Delete
  5. Wahh makasih mba,,,jadi pengen punya suami lagi #ehh πŸ˜‚πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Mau tambah bikin ribut ya, Mbak :D

      Delete
  6. makasih sharingnya, eh kadang sikap istri juag bisa menentukan sikap suami loh, spt sikap istri bisa mendorong suami korupsi krn istri konsumtif misalnya, makanya istri hrs bisa menjaga dirinya yg bisa mengademkan suami

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, betul. Tapi utk bahasan saya kali ini ttg seandainya suami yg berbuat salah dan istri ingin meluruskannya :)
      Tapi kalo pas suami istri sama2 "terpeleset" ya harus ada pihak luar (orang tua atau saudara misalnya) yg mengingatkan, ya :)

      Delete
  7. Omg, poin mendoakan nih yang justru kadang kelewat, fokus ikhtiar sampe lupa dido'ain, astagfirullah

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.

Kumpulan Emak Blogger

HALO BALITA


Ibu-ibu Doyan Nulis


Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Followers

Alexa Rank

© 2016 DeKa | Powered by Blogger | Template by Enny Law