Monday, 30 December 2013

[REVIEW] Tentang Hati yang Sedingin Mint Ice Cream (The Mint Heart)






"Dia memang selalu begitu, dingin. Tapi begitulah dia, dan aku menyukainya tanpa banyak protes, seperti aku menyukai mint ice cream yang membekukan lidahku."

Sejak awal membaca novel ini, langsung tertangkap cara penyampaian cerita yang mengalir begitu saja. Bahasanya bahasa anak muda, gaul, dan mudah dicerna. Dengan menggunakan kata ganti orang pertama-kedua gue-lu, mencerminkan kehidupan anak muda di kota metropolitan, Jakarta. Gaya penceritaannya menggunakan PoV (Point of View) dari dua tokoh utamanya, yaitu Lula dan Leon. Gaya bahasanya yang lugas, tak bertele-tele, membuat novel ini terasa asyik dibaca dan membuat pembaca (saya) ingin terus membaca novel ini sampai habis.

The Mint Heart menceritakan tentang kebekuan hati seorang Leon di mata Lula dan perempuan-perempuan di sekitarnya. Leon seorang cowok cakep dan cerdas namun sangat dingin terhadap cewek-cewek. Namun sifatnya ini justru membuat Lula jatuh hati padanya. Bagi Lula, Leon yang dingin ibarat mint ice cream kesukaannya, yang ingin ia nikmati sesendok demi sesendok, meski butir pahit terasa di lidahnya. Namun justru itu yang membuatnya ingin menyendok lagi, dan lagi....

Novel ini dimulai dengan penugasan yang diterima oleh Lula dan Leon dari kantornya. Kantor mereka adalah sebuah redaksi majalah travel remaja. Lula sebagai reporter dan Leon sebagai fotografer terfavorit mempunyai tugas untuk meliput tempat wisata yang paling diinginkan oleh pembaca. Proyek yang bertajuk “Wherever You Want” itu mengirim mereka berdua ke sebuah tempat wisata yang paling diinginkan pembaca untuk diliput. Tentu saja hal ini sangat menggembirakan hati Lula. Dia sudah membayangkan perjalanan itu akan sangat menyenangkan dan membuatnya semakin dekat dengan Leon. Tidak demikian dengan Leon, perjalanan itu seperti tugas biasa dari kantornya.

Sifat Leon yang cuek tak membuat Lula putus asa untuk menikmati perjalanan itu. Dengan keusilan dan keagresifannya, Lula berupaya melakukan pendekatan dengan cara apapun terhadap Leon. Leon pun kadang terpaksa mengikuti aturan main Lula karena keadaan membuatnya tak punya pilihan lain. Seperti ketika dia harus rela dimintai tolong oleh Lula untuk membelikan pembalut.

Tak dapat dihindari, perjalanan itu memberikan dampak bagi hubungan mereka berdua. Hati Leon akhirnya melembut ketika Lula mengalami sebuah kecelakaan dalam tugas liputan mereka. Kerapuhan seorang Lula membuat Leon ingin selalu menjaganya. Meski Leon tetap bersikap dingin, tapi sedikit perhatiannya sudah cukup membuat hati Lula sangat bahagia. Sebaliknya, ternyata Leon juga memiliki rahasia tentang kelemahannya. Lula pun berjanji akan menjaga Leon dan rahasianya selama proyek itu berlangsung.

Namun keadaan selanjutnya tak seindah yang dibayangkan Lula. Permasalahan muncul ketika tiba-tiba ada perempuan lain yang hadir di antara Lula dan Leon. Namanya Anika. Ternyata dia adalah tunangan Leon. Anika pun kemudian ikut dalam berbagai liputan yang ditugaskan kepada Lula dan Leon. Keadaan pun menjadi terasa canggung bagi ketiganya.

Anika seorang perempuan yang cantik dan lembut tutur kata dan perilakunya. Ia tak menampakkan kecemburuannya ketika Lula dekat dengan Leon. Lula jadi berpikir, mungkin memang sebaiknya ia menjauhi Leon. Anika sangat pantas untuk mendapatkan Leon.

Bagaimanakah kelanjutan cerita ini? Apakah Lula benar-benar akan mundur setelah “tertampar” kenyataan yang ada di hadapannya itu? Bukan hanya itu, Leon yang diam-diam mulai jatuh hati pada Lula pun mendapat “batu sandungan” dari mantan cinta pertama Lula yang tiba-tiba hadir di antara mereka. Konflik hati antara Lula dan Leon, kesalahpahaman demi kesalahpahaman, menjadi bumbu yang sangat manis diracik oleh penulisnya.

Kepandaian Ayuwidya sebagai penulis dalam mengolah konflik kadang membuat gemas pembacanya. Pembaca bisa ikut terbawa arus kebingungan, memahami hati yang berbolak-balik dari Lula dan Leon. Seperti kebimbangan yang terungkapkan di hati Lula, “Jika ada satu hal yang boleh aku tanyakan, aku ingin bertanya, apakah dia pernah mencintaiku walau sedetik.”
 

Memang, hati manusia siapa yang tahu. Sulit bagi orang lain untuk memahami kedalaman hati seseorang. Apalagi memahami hati seseorang yang tampilan luarnya dingin, terlihat cuek, tak bisa ditebak. Seringkali orang lain salah menafsirkan kata-kata dan tingkah lakunya. Novel ini mempresentasikan salah satu kedalaman hati yang semacam itu. Bagaimana sebenarnya perasaan cowok yang terlihat dingin dan tak mudah disentuh.

Novel ini terasa semakin segar dengan dihadirkannya tokoh-tokoh figuran yang berkarakter kuat. Seperti sosok Juno sebagai fashion stylist, atau bu Patricia sebagai pimpinan redaksi majalah travel remaja tempat Lula dan Leon bekerja.

Dengan pemilihan diksi yang lugas, tidak begitu “nyastra”, namun tetap berkualitas dan enak dibaca, novel ini memang “renyah” layaknya cemilan yang cepat ludes dilahap. So, sangat cocok untuk dibaca sembari menikmati teh dan cemilan ringan di sore hari :)

Tentang Buku The Mint Heart  

Judul : The Mint Heart
Penulis : Ayuwidya
Penerbit : PT. Bentang Pustaka
Format : Softcover
Jumlah Halaman : 323 halaman
ISBN : 978-602-7888-21-0
Cetakan : Pertama, 2013
Harga : 45.900






#diikutkan dalam Lomba Review Novel Love Flavour Series, Bentang Pustaka

4 comments:

  1. selamat ya mbak, jadi slah satu pemenang lomba review novel Love flavour ^_^

    ReplyDelete
  2. wow, menang ya?

    emang keren reviewnya :D

    Selamet ya Mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe... iya mbak Rini, alhamdulillah jadi pemenang pilihan.
      makasih ya, Mbak :)

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.

Kumpulan Emak Blogger

HALO BALITA


Ibu-ibu Doyan Nulis


Followers

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Alexa Rank

© 2016 DeKa | Powered by Blogger | Template by Enny Law