Laman

Tuesday, 5 June 2018

Pengalaman Puasa Ramadan Sebagai Ibu Menyusui Dua Anak




Hingga saat ini saya telah dianugerahi empat orang anak. Tetapi pengalaman puasa Ramadan sebagai ibu menyusui baru saya jalani tiga kali. Saat anak pertama masih bayi, Ramadan saya lalui tanpa menyusui. Hal itu dikarenakan saya menyusui si sulung hanya sekitar 2 bulan, dan tidak melewati bulan Ramadan. Untuk anak kedua hingga keempat sekarang ini, alhamdulillah saya bisa menyusui mereka lebih baik. Tapi apakah sama pengalaman puasa Ramadan saat menyusui mereka? 

Tiga anak, tiga cerita. Ya, memang setiap anak berbeda, kan, dan punya ceritanya sendiri-sendiri. Pada saat menyusui anak kedua, puasa Ramadan tidak bisa saya lalui secara full dalam satu bulan. Pasalnya sejak awal Ramadan saya sudah sakit duluan. Lalu saat menyusui anak ketiga, puasa Ramadan dapat saya lalui dengan baik, dengan persiapan yang matang sebelumnya. Saya bahagia, ada peningkatan perjalanan puasa Ramadan dari anak pertama hingga ketiga. Nah, bagaimana dengan puasa Ramadan tahun ini, saat saya menyusui anak keempat?




Oh ya, sebelum lanjut, tulisan ini merupakan collaborative blogging antara saya dengan mbak Julia Amrih (www.sepradik.com) di bulan Ramadan tahun ini. Untuk tema ketiga, kami #NgobrolinRamadan tentang Puasa Bagi Ibu Menyusui. Tulisan mbak Julia bisa dibaca di sini, ya:
Ketika Harus Puasa Sambil Menyusui.


Oke, kembali ke bahasan 😊.
Sebelum bulan Ramadan tahun ini tiba, saya sudah mempersiapkan diri untuk menyambutnya sebaik mungkin. Sama seperti tahun lalu, saya siapkan fisik dan psikis. Jika melihat tahun lalu, senang rasanya bahwa saya telah berhasil melalui puasa Ramadan dengan baik (artinya saya bisa puasa sebulan penuh - dipotong masa haid - sebagai ibu menyusui). Tapi saat ini kondisinya berbeda. Saat Ramadan tiba, si nomer 4 usianya satu setengah bulan. Sedangkan kakaknya berusia 22 bulan. Sayangnya, saya belum berhasil menyapih si kakak. Dia masih suka ng-ASI menjelang tidur, baik saat bobo siang ataupun malam.

Saya menyadari betul sejak awal, bahwa tantangan puasa tahun ini mungkin lebih berat. Namun saya sudah merasa siap, bismillah. Maka sejak hari pertama puasa, saya menjalaninya dengan hepi. Dan alhamdulillah hari pertama lulus! Hari kedua, ketiga, dan beberapa hari setelahnya juga bisa saya jalani dengan baik. Saya dengan gembira memasak dan melakukan pekerjaan-pekerjaan lain, berbuka dan sahur pun dengan bahagia. Menu-menu buka puasa hingga sahur saya siapkan sedemikian rupa, agar saya tetap sehat dan kuat berpuasa dalam kondisi menyusui 2 anak. Kurma, cemilan, tak pernah absen saya santap di samping menu utama dan takjil yang sehat.




Menu berbuka yang tak pernah absen.

Tapi menginjak hari ke-11, saya dan suami melihat kondisi si kecil (yang nomer empat) yang sering rewel. Memang, ASI saya keluar tak sebanyak hari-hari biasa ketika tidak berpuasa. Selama beberapa hari puasa tersebut ASI keluar terbatas. Saya memang masih kuat berpuasa, tapi tampaknya si kecil kurang cukup ASI.

Alhasil suami menyarankan agar saya tidak puasa dulu. Kasihan si kecil yang rewel karena kurang ASI. Kalau kakaknya enggak masalah, karena dia hanya ng-ASI sebagai "tombo pengen" (hanya kepingin saja, bukan kebutuhan utama) hehehe. Beda dengan si kecil yang hanya mendapatkan makanan dari ASI. Kami takut jika si kecil sakit gara-gara kurang ASI. Toh, ada keringanan puasa bagi ibu menyusui, bukan?
Sesungguhnya Allah 'azza wa jalla menghilangkan pada musafir separuh shalat. Allah pun menghilangkan puasa pada musafir, wanita hamil dan wanita menyusui. (HR. Ahmad. Syaikh Syu'aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah: 185)
Menurut beberapa ahli fiqih, perempuan yang hamil dan menyusui serupa dengan kondisi orang yang sakit, sehingga ia termasuk dalam golongan yang mendapat rukhshah atau keringanan saat berpuasa wajib seperti dalam QS. Al-Baqarah ayat 185 tersebut.

Akhirnya, ya sudah, saya tidak ikut berpuasa mulai hari ke-12 Ramadan, hingga hari ini. Insya Allah tidak ada niat yang lain selain untuk kebaikan diri dan si kecil. 


Dua anak imut ini yang mewarnai Ramadan saya tahun ini :)


Dari pengalaman berpuasa sebagai ibu menyusui, juga dengan kondisi menyusui dua anak, saya dapat mengambil sedikit hikmah dari apa yang sudah saya jalani tersebut. Diantaranya yaitu:

👉 Enggak perlu sok kuat.
Anak yang masih menyusui apalagi yang usianya di bawah 6 bulan (masih butuh ASI eksklusif) sangat tergantung pada ibunya. Sehingga jika memutuskan akan berpuasa harus memikirkan kebutuhan ASI si kecil disamping kesiapan dirinya sendiri. Enggak perlu sok kuat tapi kenyataannya ASI kurang mencukupi untuk si kecil.

👉 Enggak perlu merendahkan ibu lain
Seandainya kita kuat berpuasa, jangan sekali-kali merendahkan ibu menyusui lain yang enggak berpuasa. Enggak perlu su'udzan bahwa mereka cari enaknya, enggak mau usaha. Karena memang situasi dan kondisi tiap ibu berbeda. Dan, toh, ibu menyusui yang enggak berpuasa punya kewajiban untuk menggantinya di lain waktu.

👉 Lakukan semua pilihan itu hanya karena Allah subhanahu wa ta'ala
Jika sanggup berpuasa, niatkan hanya karena Dia. Dan jika tak berpuasa juga enggak perlu malu pada orang lain. Karena puasa itu urusan kita sendiri dengan Allah subhanahu wa ta'ala. Puasa adalah ibadah yang khusus untuk-Nya.



Nah, itulah pengalaman puasa Ramadan sebagai ibu menyusui dua anak yang saya alami. Kalau mbak Julia masih mulus-mulus saja menjalankan puasa Ramadan sambil menyusui, saya yang ada lika-likunya, tuh. Hehe. Sekadar sharing pengalaman, sih, siapa tahu ada manfaatnya, ya 😊. Buat teman-teman yang punya pengalaman puasa sebagai ibu menyusui juga, boleh sharing pengalamannya bareng saya dan mbak Julia juga. Boleh komentar di bawah, atau mungkin bikin blogpost sendiri? Hehe.




3 comments:

  1. mengapa harus malu untuk mengatakan tidak kuat/sanggup berpuasa?
    masih ada metode lain dengan membayar fidyah, pada kasus tertentu, termasuk menyusui...

    ReplyDelete
  2. Pertama, wahhh hebat makk bisa menyusui tandem.. saluttt... aku juga ngga puasa, tapi hanya menyusui 1 orang anakku yang berusia 2 bulan, cuma dia berperawakan kurus dan BBLR, sebenernya pengen coba-coba puasa (karena masih ngerasa kuat sepertinya), tapi khawatir nanti berimbas ke bayinya... Alhamdulillah memang Islam memberikan keringanan bagi ibu yang hamil dan menyusui ya :)

    ReplyDelete
  3. Hebat, hebat. Anak dua menyusui 😘 aku aja waktu diposisi bunda blm sanggup puasa full saat menyusui.. Tapi baca ini jadi lebih semangat lagi.

    Oia aku jd kepikiran sama kolab bloghinh.. pst seru kali ya, bs tukar pikiran. kolab blogingg aku blm pernah sih 😂 dan gakbtau cara nya hihi..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.