Friday, 28 April 2017

Stalking You


http://www.dekamuslim.com/2017/04/stalking-you.html


Stalking? Jujur saya baru mendengar istilah itu kira-kira dua tahun lalu, ketika kata itu menjadi sedemikian ngetrend di media sosial (medsos). Tapi, setelah saya buka-buka kamus dan juga buka Google translate :D ooh… ternyata…. saya sudah akrab, dong, dengan stalking ;). 

Jadi, ternyata stalking itu artinya mengikuti atau lebih tepatnya menguntit. Ehm, jadi sebenarnya ini bukan kata baru dan perilaku baru, dong, ya. Ya iyalah.. dari dulu pasti juga sudah banyak orang yang suka stalking orang lain, cuma kata-kata itu belum familiar saja di Indonesia. Hehehe. Dan yang pasti, saya aja yang kurang ilmu dan juga kudet. Padahal, saya sendiri juga pernah, lho, terlibat dalam urusan ngestalk-ngestalk orang macam gini, hihihi… 

Jadi… ini ceritanya saya mau cerita tentang hal yang konyol dan memalukan yang pernah saya lakukan. Lho, enggak apa-apa, nih?! Cerita memalukan, kok, dishare? Ehm, sejak menikah, saya orangnya enggak jaim jaim banget, sih. So, terserah apa kata dunia, deh :D 

Jadi gini, dulu waktu kuliah saya kesengsem sama seseorang (sebut saja A) *ehm*. Saya penasaran banget, seperti apa dia sebenarnya? Gimana kebiasaan-kebiasaannya, karakternya, hal-hal yang disukainya, de el el. Tapi karena saya orangnya pendiam, saya enggak berani pedekate sama temen cowok itu secara langsung. Kalaupun mau pedekate, saya ragu, apakah dia benar-benar anak baik? Atau, dia terlampau baik hingga saya enggak pantas mendekatinya? Untuk mengatasi rasa penasaran itu, jadilah saya pakai cara “backstreet”. Yup, stalking

***


Waktu itu lagi musimnya warnet (warung internet) menjamur. Saya dan seorang teman pun suka ke warnet, dua atau tiga hari sekali. Entah itu untuk browsing materi kuliah, mengerjakan tugas, chatting, hingga mengecek email. Maklum, hape kami masih jadul, belum ada aplikasi browser-nya. Sehingga warnet jadi solusi.

Teman saya yang tahu kalau saya ada "sesuatu" dengan si A, tiba-tiba ngomongin soal email pada saya. Ternyata, dia tahu alamat email si A, dan ngasih tahu alamat tersebut pada saya. Lalu, entah siapa yang punya ide, saya lupa, akhirnya saya berencana melakukan sesuatu dengan alamat email tersebut. Saya akan bikin email kaleng! Hihi.. maksudnya serupa surat kaleng, gitu :). Saya akan stalking si A lewat email!

(Oh ya, saat itu belum ramai medsos, ya. Ada Friendster yang lumayan rame, tapi saya jarang update. Jadi kurang sreg kalau stalking di Friendster).

Maka, saya buat alamat email baru. Tentu saja dengan data-data palsu. Nama dan alamat email saya buat jauh berbeda dengan nama asli saya. Terus… mulailah saya berpikir untuk menulis tentang apa saja di email. Sesungguhnya, saya ingin tahu karakter asli dia seperti apa. Apakah sama dengan yang saya lihat sehari-hari? Maklum, meski teman, saya kurang dekat dan enggak berani dekat dengannya. Selain saya sangat menjaga pergaulan dengan lawan jenis, sekali lagi saya orangnya pendiam.

Biar tambah enggak tertebak siapa jatidiri saya yang sebenarnya sebagai pengirim email, saya menulis dalam bahasa Inggris. Meski agak kesulitan (haha...), saya terus saja menulis dengan bahasa Inggris, agar gaya bahasa saya sehari-hari enggak terdeteksi olehnya. Itu juga saya lakukan karena tahu kalau dia cakap berbahasa Inggris. 

Beberapa kali kami saling berbalas email. Saya korek, deh, kepribadian dia seperti apa, aktivitasnya gimana, kesukaannya apa, de el el. Macam kerja spionase atau detektif pokoknya. Hahaha. Selama itu pula, posisi saya aman. Setiap ketemu di kampus, saya biasa saja. Sepertinya dia juga enggak curiga pada saya :D.

Gambar dari pixabay.com.


Tapii... lama-kelamaan saya kehabisan ide. Beberapa kali dia tanya siapa sebenarnya saya, saya enggak menjawabnya. Dan akhirnya... pertahanan saya pun mulai keropos. Saya kasih sebuah clue untuknya. Tapi.. sepertinya dia juga belum paham. Atau, dia memang cuek menanggapi keusilan saya? Ya, sudah. Akhirnya saya mengerem diri. Cukup sudah saya berbuat iseng. Dan, surat-menyurat lewat internet itu pun berhenti. 

Setelah berhenti, saya yang bingung sendiri. Ada rasa bersalah karena sudah ngerjain si A. Dia, yang notabene adalah teman saya sendiri. Rasa penasaran akan kepribadiannya membuat saya nekat melakukan hal yang aneh. Melalui tulisan-tulisannya di email, saya sudah tau kalau dia memang baik, malah terlampau baik. Meski di sisi lain juga ada kekurangan-kekurangannya. Itu manusiawi sekali. Saya sudah memutuskan mundur, saya merasa enggak pantas mendekatinya lebih dekat lagi. 

Ada rasa sesal. Ahh, kenapa saya melakukan itu semua?? 

Beberapa bulan berlalu. Dan rahasia itu belum juga terbongkar. Lalu suatu saat ada sesuatu hal yang membuat saya butuh bantuannya. Saya harus mengirim email kepadanya. Dan, tau nggak?? Saya keceplosan, temans! Hahaha. Saya sebut alamat emailnya lebih dulu. Dia tanya, dong, tau dari mana alamat email itu??

Hemm... rasanya beban yang beberapa bulan saya tanggung, menemukan jalan keluarnya. Saya pikir, justru inilah saatnya!
Ya, dengan berat hati dan siap menanggung segala resiko, saya mengakui tentang email kaleng itu ^_^

Setelah itu, saya benar-benar tutup mata dan telinga saat bertemu dia. Malu. Malu sekali rasanya. Saya baru menyadari betapa konyol dan memalukannya saya! Ingin menghilang saja diri ini :D.

Tapi tampaknya kami sudah sama-sama dewasa. Kami biasa saja saat bertemu, seolah tak terjadi apa-apa selama ini. Hingga beberapa waktu selepas pengakuan saya itu, hingga kini. Semua tampak biasa-biasa saja. Ah, mungkin dia saja yang bersikap dewasa. Kalau saya, namanya muka tembok! Hahaha.

Sampai saat ini, saya selalu tutup muka kalau ingat kekonyolan saya itu. Rasanya pengin menghapus kenangan itu dari ingatan saya dan ingatan si A. Tapi, siapa bisa? (Lah, ini malah ditulis). Hihihi. Benar-benar memalukan, ya :D.

***


So, apa yang bisa diambil dari kisah stalking saya itu?

Dear, adik-adik yang saya cintai :) *yang enggak merasa adik abaikan wejangan ini :D*
Kalau penasaran sama seseorang, enggak perlu stalking-stalking segala, deh. Karena kadang, stalking itu menyiksa diri kita sendiri *ups*.
Mendingan tanya ke orang-orang terdekatnya. Atau kalau malu, sibukkan saja dirimu dengan hal-hal lain yang lebih bermanfaat. Skip saja rasa penasaranmu itu. Kalau urusan jodoh, Allah yang Maha Mengatur.
Tahu, nggak? Saya pun akhirnya enggak berjodoh dengan orang yang saya stalking-in itu! Hahaha. Buang-buang energi saja, kan?  

PS: bagi yang tau siapa si A, enggak perlu komen, ya :D



10 comments:

  1. ihiir uhuuk 😉😉😉 iyaa kakak siap melaksanakan wejangan 😋

    ReplyDelete
  2. istilah stalking memang muncul saat medsos booming ya... semua org pasti punya pengalaman yg memalukan, termasuk saya :) tapi memang jadi pelajaran buat kita ya... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak. Soalnya ngestalk lewat medsos lebih gampang :D

      Delete
  3. Hahaha.. Kayanya stalking itu memang kdg naluri ya, ingin tau, yg penting bs mengendalikan rasa ingin taunya ya mba.. Tetep positif atau hanya buang2 energi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. kepooo banget... Iya harus tetep positif, tapi susah yaa :)

      Delete
  4. Saya juga pernah punya pengalaman buruk saat stalking. Memalukan, rasanya.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, masa sih Mbak? Mbak Haeriah gitu lhoo... Hihihi..

      Delete
  5. hahahaha mba kebayang tengsin abisss 🤣😂 duh kok aku lgsg bayangin klo aku diposisi mba keknya aku lsg pura2 amnesia dg kejedot tembok :D
    klo aku kejadiannya bkn aku yg stalking tp istrinya mantan knp tau krn tiba2 dy nge-add tp beberapa detik kemudian ilang requestnya hahaha aku geli pdhl uda masa lalu n uda masing2 tp ttp aja y masi pinisirin 🤣😂😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. iya juga sih pengen amnesia.. tapi kalo ngilang kan kita bisa liat mereka tapi mereka enggak bisa liat kita :D

      Hahaha.. itu kepencet kali ya nge-add nya :D

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.

Kumpulan Emak Blogger

HALO BALITA


Ibu-ibu Doyan Nulis


Herbadrink Blog Competition

Herbadrink Blog Compeition: Life Style Story with Sari Temulawak

Priceza


Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Followers

Alexa Rank

© 2016 DeKa | Powered by Blogger | Template by Enny Law