Tuesday, 14 January 2014

Yuk, Kita Irit Air!



credit


Kali ini saya mau bercerita tentang air. Ya, air yang sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari itu....

Saya ini termasuk kaum urban, berangkat dari sebuah desa di Solo berpindah hidup di Surabaya lalu sekarang berdomisili di Sidoarjo. Kehidupan di desa dan di kota tentunya berbeda, ya. Biasa, kalau di desa segala macam itu masih relatif murah, biaya hidup ringan. Nah, yang termasuk murah adalah air. Mau menggunakan air sebanyak apapun nggak pernah bayar. Tapi ya itu, waktu itu ngambilnya masih manual, pakai tangan (istilahnya: nimba, hehe...).

Akhir tahun 2004, saya mulai hidup di Surabaya dikarenakan kuliah di kota Pahlawan ini. Waktu itu saya masih tinggal di rumah pakdhe saya. Di situ saya kebagian tugas mengisi air untuk kamar mandi dan tampungan air setiap dini hari. Jadi sembari shalat malam dan belajar sedikit-dikit buat kuliah, saya juga jaga air :). Kenapa mesti dini hari? Iya, soalnya di waktu-waktu itulah air dari PDAM mengalir paling lancar. Selain di jam-jam itu, kadang lancar kadang juga seret. Apalagi kalau pagi hari, jangan harap bisa mengisi air di bak mandi sampai penuh, karena dijamin keluar airnya seuprit-seuprit :).

Dari situ saya jadi tahu, betapa berbedanya kondisi di desa saya dengan di kota Surabaya. Air bukan barang yang mudah didapatkan. Tidak bisa didapatkan secara gratis, tetapi harus bayar. Mahal lagi. Soalnya saya tahu tagihan PDAM tiap bulan juga nggak sedikit (hasil nguping obrolan pakdhe dan budhe, hehe...). Maka saya pun tak bisa seenaknya menggunakan air. Secukupnya dan seperlunya saja.

Nah, ketika ibu saya akhirnya menyusul ke Surabaya, beliau belum terbiasa dengan kondisi itu. Apalagi beliau sudah terbiasa hidup di desa selama puluhan tahun. Kebiasaannya dengan air yang melimpah sudah mengakar. Jadi agak susah juga kalau harus mengirit air setiap hari. Mandi sepuasnya dengan air yang melimpah, nyuci baju kalau nggak penuh airnya nggak puas, begitu juga kalau nyuci piring, dan lain-lain. Hehehe.... Saya harus sering cerewet untuk mengingatkan beliau. Ya maaf, bukannya pelit, tapi irit buuukkk.... :D Dan perlahan-lahan meskipun butuh waktu yang lumayan lama, akhirnya ibu saya terbiasa juga untuk mengirit air :)

Sekarang, saya sudah berumah tangga dan hidup mandiri (tidak bersama orang lain) di Sidoarjo. Kota yang bersebelahan dengan Surabaya. Tentu biaya hidup termasuk biaya untuk air bersih juga tak jauh berbeda. Saya pun semakin merasakan betapa mahalnya air. Meski tak menggunakan air PDAM (saya memakai air sumur dengan menggunakan pompa air), tapi biaya listrik untuk menghidupkan pompa air tetap ada juga kan? Jadi kami sekeluarga juga harus tetap irit menggunakan air. 

Caranya, ya gunakan air secukupnya dan seperlunya saja. Kalau mencuci baju tak perlulah airnya harus memenuhi bak. Asal sudah cukup untuk membersihkan ya sudah. Dan meski ada mesin cuci di rumah, saya tak menggunakannya setiap saat, soalnya boros air juga sih kalau menggunakan mesin cuci. Kalau pas capek saja saya menggunakannya. Begitu juga kalau mandi, atau keperluan lain yang menggunakan air, secukupnya saja.

Selanjutnya, untuk menghemat biaya listrik, kami tidak sering-sering menyalakan pompa air. Sehari hanya 2 sampai 4 kali. Sekali pompa air menyala, kami memenuhi semua bak atau penampungan air yang ada. Kalau keseringan pencat-pencet pompa air, boros banget kan ya tagihan listriknya.

Begitulah kebiasaan kami sekeluarga dalam menggunakan air secara irit. Bukannya pelit, sih. Teringat juga kemarin waktu musim panas kami pernah kesulitan air. Airnya keluar kurang lancar selama beberapa hari. Kalau sudah begitu, kami jadi kebingungan juga. Sehingga waktu air keluar dengan lancar, kami tetap irit. Untuk jangka panjang juga, kan? Siapa yang tahu dengan dampak pemanasan global? Itung-itung buat tabungan di masa depan. Sekaligus, irit listrik. Kalau kita irit air, tagihan rekening listrik juga bisa ditekan, kan?

Yuk, manfaatkan air secara bijak. Seperlunya dan secukupnya saja. Bukannya pelit, tapi irit :). Jangan suka berboros-boros ria, ya. Karena pemboros itu temannya setan. Tuh, ada dalilnya juga dalam kitab suci Al-Qur’an:

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 27). 

Eeehhhh.... jadi ngelantur nggak sih ini? Semoga bermanfaat yaa... :)



http://try2bcoolnsmart.wordpress.com/2014/01/11/giveaway-irit-tapi-bukan-pelit/





16 comments:

  1. Air memang jadi masalah penting banget di jaman sekarang. Yang tinggal di daerah pegunungan sih masih bisa pakai air sepuasnya. Tetapi kalo di perkotaan, mesti berhemat-hemat deh, :D

    Terima kasih sudah ikutan GA Irit tapi Bukan Pelit. Sudah tercatat sebagai peserta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, bumi semakin tua, mesti irit segala sesuatu termasuk air :)
      makasih kembali, Mbak... udah nengokin tulisan saya :)

      Delete
  2. Hihihi kalau Fenny dulu pernah harus stand by maghrib karena biasanya air mengalir lancar jam segitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. ooh... ada yang lancarnya pas maghrib ya, Mbak Fenny.. berarti beda tempat beda kebiasaan :)
      kalo di Surabaya, dini hari jarang yang gunakan air, jadi jam segitu lancarnya :)

      Delete
  3. Jadi ingat waktu saya tinggal di rumah kaka sepupu,,, yang menggunakan air PDAM,,, sama lho mba, Air baru ngalir deres kenceng dijam2 subuh atau dini hari... coba kalau sudah jam 6 ke atasss,,,, waaah dijamin tuh g akan ngalir, kadang ngalir tapi ya gitu keciiiiiiil banget yang keluar hahaha,,, sukses ya mba, untuk GAnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah, yang ini sama kayak di tempat saya dulu, hehe..
      makasih ya mak udah rajin mampir ;)

      Delete
  4. waktu aku kuliah dulu pernah jg ngantri mandi di masjid,,gara2 air di kos2an susah keluarnya,,rata2 pd gt,,pdhl kos2annya di pegunungan lho,,aneh emang,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin tempat kostnya mbak Tita kebetulan tidak dilewati aliran air yang besar, Mbak.. jadi ya nggak bisa lancar. di tempat saudara saya juga gitu kok, padahal rumahnya dekat pegunungan :)

      Delete
  5. Benar mbak ... di sini juga begitu. Kalo boros dan kebetulan air lagi melimpah, bayarnya pasti muahal :D
    Moga sukses yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi.... sudah jamak ya mbak permasalahan air seperti itu... semakin lama apapun semakin mahal :)
      makasih mbak Mugniar, sukses juga buat mbak :)

      Delete
  6. ishh ishh bener banget itu mak, gak ada air gak hidup kita :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener kan bener kan??? hehe... kalau di Dubai gimana ya mak? sama aja kali ya..... *nebak

      Delete
  7. Penting banget memang utk bisa menghemat air ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak Santi, meski sekarang sedang banjir di mana-mana, tapi kalau musim kemarau masih banyak juga yang kesulitan mendapatkan air bersih...
      so harus hemat..hemat... :)

      Delete
  8. Memanfaatkan sumber daya alam sesuai dengan batas kebutuhan. Kata-kata ini sebenarnya sarat arti. namun untuk pengaplikasiannya pun sangat sulit. Karena saya pribadi, terkadang susah untuk memilah mana yang kebutuhan mana yang keinginan.

    Melihat kondisi bumi saat ini, kita memang butuh banyak cara untuk menyiasatinya dengan bijak. Menggunakan air sesuai dengan batas kebutuhan merupakan salah satu caranya.

    “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 27).

    Terima kasih sudah berbagi di giveaway irit tapi bukan pelit :)

    Salam,
    @apikecil

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya benar sekali, kata-kata bijak itu mudah diucapkan, tapi dalam pengaplikasiannya yang sulit. apalagi kalau sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, trus nggak ada yang mengingatkan, wah... :)

      terima kasih kembali sudah bersedia singgah di sini, Apikecil :)

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.

Kumpulan Emak Blogger

HALO BALITA


Ibu-ibu Doyan Nulis


Followers

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Alexa Rank

© 2016 DeKa | Powered by Blogger | Template by Enny Law