Friday, 15 November 2013

Menguatkan Tangan Anak sebagai Bekal untuk Menulis






Anak saya Faiq sekarang berusia 3,5 tahun. Tahun ini dia sudah ikut bersekolah di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di dekat rumah. Tapi, dia masuknya terlambat sekitar 2 bulan. Seharusnya awal tahun ajaran baru adalah bulan Juli, tapi dia baru mau masuk pada akhir bulan Agustus.

Selain terlambat dalam bergabung di PAUD, Faiq (kami) termasuk warga baru di desa kami. Rumah kami pun terpisah dari lingkungan kampung yang rumahnya saling berdekatan. Rumah kami terletak di pinggir desa yang hanya mempunyai satu tetangga. Akibatnya, Faiq yang pemalu itu belum kenal dengan semua teman-temannya. Dia harus beradaptasi dulu dengan lingkungan barunya sebelum belajar di sana.

Faktor-faktor itu pula yang menyebabkan Faiq sedikit tertinggal dari teman-temannya (ditambah lagi sebagian teman-temannya sudah mengikuti Taman Posyandu sebelum masuk PAUD). Mulai dari masalah adaptasi hingga masalah belajarnya. Sebagian dari teman-teman Faiq sudah hafal angka dan huruf, bahkan sudah ada yang bisa menuliskannya. Sedangkan Faiq, baru hafal angka 1 hingga 10, sedikit huruf kecil, namun belum bisa menuliskannya. Dia baru bisa mewarnai (yang masih sangat belum rapi), membuat garis lurus, lingkaran, dan coret-coret tak beraturan :)

Mengetahui beberapa ketertinggalannya itu, saya kadang berusaha untuk mengejarnya. Saya ajak dia berlatih menulis diantara aktivitas bermainnya. Namun, baru memegang pensil sebentar saja, ternyata Faiq mengatakan bahwa dia sudah capek. Saya pun tak memaksanya untuk melanjutkan. Yang ada, dia melanjutkan bermain rumah-rumahan atau mobil-mobilan :) Dan, hal serupa juga terjadi di sekolah. Ketika dia belajar menulis atau mewarnai, dia tak betah berlama-lama. Dia akan bilang capek dan tak mau lagi meneruskan. 


Saya pernah iseng bertanya kepada salah satu wali murid, dulu waktu pertama-tama masuk, sebelum diajarkan menulis, apakah anak-anak diberikan permainan seperti meremas kertas atau cara memegang pensil yang benar? Beliau mengatakan tidak. Saya sedikit kecewa. Namun saya jadi berpikir, berarti saya harus menstimulasi Faiq sendiri di rumah. 

***

Di rumah, saya semakin rajin mengajak Faiq untuk belajar menulis. Saya buatkan titik-titik yang berbentuk angka atau huruf, lalu dia saya suruh untuk menebali. Tetapi rupanya Faiq susah sekali untuk diajak belajar :( dia bilang nggak mau, capek, dan lain-lain. Pokoknya nggak suka kalau diajak menulis :)
 

Di tengah rasa galau saya :) , beberapa hari yang lalu saya mencoba sharing di facebook. Saya membuat status yang bunyinya: “Temen-temen ada yang tahu nggak, cara yang asyik untuk ngajarin anak balita menulis? Faiq kok susah sekali ya diajak belajar..
Saya ajarin menulis dengan cara menyambung titik-titik berbentuk huruf dan angka, eh sudah dari kemarin-kemarin ga mau.. Pernah sih mau, tapi baru dapat 3-5 huruf sudah bilang capek dan ga mau nerusin.
Terima kasih buat yang kasih masukan :) “

Dan, komentar pun bermunculan. Ternyata, teman-teman saya sesama bunda sangat perhatian pada masalah saya. Hampir semuanya mengatakan bahwa di usia Faiq itu ada sebagian anak yang memang belum masanya dia mau belajar menulis. Ikuti saja, jangan dipaksa untuk mau menulis. Kalau dipaksa, takut ke depannya malah menjadi kurang baik. Belajar di usia ini harus dibuat enjoy. Yang penting anak senang dulu, baru bisa diajak belajar.

Selain itu, mungkin Faiq kurang bekal yang cukup untuk belajar menulis. Tangannya belum cukup kuat untuk memegang pensil. Dari situ teman-teman menyarankan agar Faiq diajak bermain yang bertujuan menguatkan tangannya. Seperti bermain remas kertas, menggunting, bermain plastisin atau playdough, dan lain-lain. Kemudian untuk belajar menulis, bisa dengan cara menulis di atas pasir, di atas kertas amplas, atau dengan cara menghubungkan titik-titik yang berbentuk gambar lucu menjadi sebuah angka/huruf. Intinya dengan cara yang menyenangkan.

Saya pun menyetujui masukan dari teman-teman. Namun sebenarnya, saya sudah mempraktekkan hampir semua yang disarankan teman-teman. Seperti meremas kertas, menggunting, bermain plastisin, dan sebagainya itu. Namun saya menyadari, saya kurang rajin bermain bersama Faiq. Hanya sesekali saya mengajaknya bermain seperti itu. Kalau Faiq sudah bosan, saya pun malah mengikuti permainan Faiq, hehehe.... Yang bermain pasir lah, bermain mobil, bersepeda, dan sebagainya. Setelah mendapat masukan yang banyak dari teman-teman itu, saya pun kembali bersemangat mengajak Faiq bermain dengan tujuan menguatkan tangannya.

Dan..... beginilah sebagian aktivitas Faiq yang sempat terekam dalam gambar :D



Belajar menggunting

Belajar memberi lem

Belajar menempel









Belajar mewarnai


Alhamdulillah, Faiq senang kalau diajak belajar menulis dengan cara seperti itu. Meski waktunya masih belum mau lama-lama. Paling satu jam-an. Yah... saya harus sabar, dong... Mau gimana lagi, karakter anak memang beda-beda, ya :)
Dan dari aktivitas ini, saya diajak berpikir, bahwa saya sebagai orang tua memang harus benar-benar pro-aktif memberikan pendidikan di rumah dengan sebaik-baiknya. Saya tak boleh hanya menggantungkan harapan pada guru di sekolah. Toh semuanya juga demi kebaikan anak saya sendiri.
Maka, jadilah saya tulis serangkaian aktivitas bersama Faiq itu ke rubrik "Gagasan" Jawa Pos. Dan alhamdulillah dimuat (bisa dilihat di sini). 

Semoga, para orang tua yang lain yang menghadapi masalah yang sama seperti saya, juga bisa memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anaknya, baik di sekolah maupun di rumah.

So, jadi orang tua terutama ibu memang harus kreatif, ya. Dan nggak males :)


Ini hasil karyaku.... ;)



10 comments:

  1. wahh mas faiq pinter gitu kok.maunya belajar santai ya mas. 1 jam an sudah lama itu ah mb. semoga mas faiq makin pinter ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bune, maunya belajarnya nyantai, banyak mainnya :)
      iya udah lumayan daripada biasanya, kurang dari setengah jam :D
      aamiin... salam buat Azzam yaa....

      Delete
  2. semoga tangan FAIQ semakin kuat untuk menulis apa saja ya.....
    btw- maaf, numpang promo , aku lagi buat GA loh.... siapa tahu berkenan untuk ikutan...
    http://hariyantowijoyo.blogspot.com/2013/10/masuk-neraka-siapa-takut.html
    salam :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin... untuk menulis dalam hal kebenaran dan kebaikan nantinya :)
      makasih doanya.. insya Allah ikutan Pak :)

      salam kembali..

      Delete
  3. wah Faiq ini seumuran sama anakku mbak. boleh dicontek nih metode belajarnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. oya mbak? wah ayo main bareng, hehe.... iya silakan kalau emang bisa diambil sebagai contoh :)

      Delete
  4. Replies
    1. alhamdulillah... makasih tante Shinta Rini :)

      Delete
  5. Wah boleh di ikutin nih mba cara belajarnya,,, Anak saya sebentar lagi 4 tahun, tapi memang masih belum mau tuh kalau diajak mewarnai, apalagi menulis.. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh... boleh... silakan mbak, saya senang bisa membantu :)
      sama mbak, anak saya juga masih susah diajak belajar menulis. Enjoy aja mbak, jangan terlalu dipaksakan.

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.

Kumpulan Emak Blogger

HALO BALITA


Ibu-ibu Doyan Nulis


Followers

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Alexa Rank

© 2016 DeKa | Powered by Blogger | Template by Enny Law