Thursday, 15 August 2013

Aku Bahagia Bersama Mereka


“Mbak Lila nanti ke sini ya, Mii?” tanya anakku suatu ketika.
“Besok pagi, Nak...”
“Enggak besok, Mii... Nanti...”
“Besok, Faiq... Ditunggu yaa...”
Anakku Faiq yang kangen dengan saudaranya itu mulai merengek, lalu menangis.
“Jawab ‘iya’ gitu aja lho... Biar nggak nangis anaknya!” sahut ibuku dari arah dapur.

Lho, bagaimana aku mau menjawab ‘iya’ kalau memang kenyataannya keponakanku itu berencana akan berkunjung ke rumah kami BESOK? Aku tak mau membohongi anakku hanya agar dia diam dari tangisnya. Aku memilih memberikan penjelasan yang jujur agar dia mengerti keadaannya. Setahuku --yang pernah kubaca dari buku/internet-- orang tua tak boleh membohongi anaknya meskipun itu agar anaknya diam, tidak rewel, atau tidak banyak bertanya. Karena kalau demikian, kita malah dengan sengaja mengajari anak menjadi pembohong, mematikan daya kreativitasnya, dan memupus keberaniannya untuk bertanya banyak hal.

Itulah sepenggal kisah di antara ribuan kisah dalam kehidupan sehari-hariku bersama orang tuaku. Aku memang tinggal serumah dengan mereka, karena orang tuaku hanya memiliki 2 anak. Kalau tidak tinggal denganku ya dengan kakakku. Dan selama ini mereka tinggal denganku, karena memang sejak kecil hingga sekarang akulah yang selalu bersama mereka. Sedangkan kakakku sejak lulus kuliah kerja di luar kota.

Tinggal bersama kedua orangtua sementara aku sudah menikah ternyata mempunyai banyak warna, mempunyai dua sisi yang berbeda. Ada manis ada pahit, suka duka, plus minus. Seperti penggalan percakapan di atas, terkadang aku berbeda pendapat dengan bapak ibuku tentang pola asuh anak. Tak jarang hal itu terjadi, mulai hal-hal sepele hingga, misal, bapakku nanti ingin menyekolahkan anakku di sekolah “A” sementara aku dan suami mempunyai pilihan lain.

Dan masih banyak perbedaan-perbedaan pendapat antara kami (aku dan suami) dan orang tuaku. Terkadang jengkel juga terhadap sikap mereka yang tak mau mengalah (ataukah aku dan suami yang egois?). Kalau kata-kata mereka kurang enak didengar, aku hanya bisa mengadu pada suami, demikian pula sebaliknya.

Dulu, setelah aku menikah memang aku sempat kost bersama suami. Itu memang hal yang aku impikan semenjak belum menikah. Aku ingin merasakan “kebebasan” bersama suamiku. Karena sejak kecil aku selalu hidup bersama orangtuaku. Waktu kuliah aku pun tak pernah diizinkan kost oleh mereka, dengan alasan mereka ingin menjaga anak perempuannya dengan sebaik-baiknya. Padahal aku sangat ingin belajar hidup mandiri. Demikianlah, aku sempat kost hingga beberapa waktu setelah menikah. Sampai akhirnya aku melahirkan putraku, orangtuaku menyuruhku kembali untuk serumah dengan mereka. Katanya, agar mereka bisa membantu merawat cucu pertama mereka.

Ketika banyak terjadi perbedaan pendapat seperti di atas, pernah terpikir olehku untuk pisah rumah kembali dengan mereka, agar aku bisa hidup mandiri. Tetapi aku kembali berpikir, kalau mereka tinggal sendiri, siapa yang merawat mereka kala sakit, siapa yang membantu membelikan keperluan sehari-hari seperti elpiji, air, atau kalau ibu ingin sekali-kali ke pasar yang jauh tempatnya dari rumah, dan hal-hal kecil lainnya? Sementara mereka sudah tua. Aku sungguh tak tega membayangkannya. 

Orang tua, apalagi yang telah memasuki usia 70 atau 80-an tahun seperti orang tuaku, kata sebagian orang mereka kembali ke masa kanak-kanak. Segalanya ingin yang terbaik, ingin dilayani dan dihormati. Pendapatnya ingin didengarkan, nasehatnya ingin diindahkan. Intinya, mereka butuh perhatian lebih, seperti layaknya kanak-kanak. 

Aku sebagai orang yang masih muda, yang insya Allah masih memiliki kekuatan dan dapat berpikir dengan jernih, memang sebaiknya dapat mengalah terhadap sikap-sikap mereka. Aku sebagai anak, disamping wajib menghormati mereka, juga wajib memelihara mereka hingga akhir hayat. Allah SWT dengan jelas telah memerintahkan kepada kita untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, seperti firman-Nya dalam Al-Qur’an:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Israa’: 23)
Mengucapkan kata “ah” kepada orang tua saja tidak dibolehkan oleh agama, apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.

Selanjutnya dalam ayat 24 di surat yang sama, firman-Nya: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.””

Maka bagaimanapun perangai mereka di usia senja, aku berusaha tetap sabar menghadapinya, dan tetap taat kepada mereka (selama mereka menyuruh dalam hal kebaikan, bukan kemungkaran/kemaksiatan). Aku pun harus dapat mengambil hikmah dari sikap sabar itu, bahwa di dalam kesabaran itu aku dan suami juga dapat beramal shalih lebih banyak lagi. Kami jadikan semua hambatan dalam menghadapi sikap-sikap orang tua yang kurang berkenan bagi kami tersebut, sebagai ladang amal. Dari peristiwa-peristiwa dalam keseharian tersebut, kami dapat terus melatih kesabaran, berbuat kebaikan-kebaikan kepada mereka, pun senantiasa mendoakan mereka, yang kesemuanya merupakan amal shalih yang mendekatkan kami kepada Allah SWT.

Alhamdulillah, sampai detik ini, dengan usahaku untuk terus belajar dan memahami mereka, hatiku kian tenteram menjalani kehidupan bersama mereka. Aku bahagia bersama mereka. Mungkin ini merupakan berkah dari usahaku untuk senantiasa ikhlas menjaga mereka hingga akhir hayat. Semoga beroleh ridha-Nya. Aamiin. 





NB: Tulisan ini pernah dipublish sebelumnya (namun tidak menjadi pemenang kontes blog). Dan sekarang telah dilakukan sedikit perubahan.


15 comments:

  1. Semangat kebersamaan tentunya akan lebih menn=jadikan tenggang rasa n saling pengertian .Sukses untuk GAnya ya mbaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul sekali mbak Christanty.. saya selalu berusaha mewujudkan itu. makasih ya mbak supportnya :)

      Delete
  2. Di saat orang tua masih ada, berikanlah yg terbaik utk mereka, jangan sampai nanti kita menyesal ya mba..

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang ini juga betul sekali mbak :) seperti pesan kakak saya.. iya, jangan sampai kita menyesal....

      Delete
  3. insyaAllah bakti mba pada orangtua itulah yang membuat hidup mba jadi berkah,Amieen..
    ohya,terima kasih banyak ya mba atas motivasinya,sekarang saya sudah mulai suka menulis lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin... begitulah yang saya harapkan mbak Alika..
      sama-sama mbak... mari kita belajar bersama, bersama-sama semangat menulis dalam kebaikan :)

      Delete
  4. Mbk Diah saya jago tulisan ini jadi kandidat pemenangnya.

    Salam untuk keponakan saya ya...

    Maaf lahir batin dari Jember.

    Terus berikan pelajaran yang bermanfaat untuk sang buah hati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah.. terima kasih mas Imam atas apresiasinya.. (aamiin).
      insya Allah saya sampaikan pada si kecil (hehe.. makasih dianggap keponakan :)). maaf lahir bathin juga dari Sidoarjo..
      insya Allah sebagai orang tua saya akan memberikan yang terbaik buat anak, yang bisa mencerdaskannya dan menjadikannya orang shalih. Aamiin..

      salam buat keluarga :)

      Delete
  5. Berbeda jalan pikir dengan orang tua itu wajar, tapi tetap saja banyak pelajaran yang bisa kita petik dari perbedaan itu. Kelak... akan disadarai bahwa banyak dari yang mereka lakukan dan kita protes sekarang... adalah benar. Saya sudah merasakan selama perjalanan pernikahan yang hampir 19 tahun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mbak Niken atas pencerahannya.. semoga saya selalu dapat berpikir positif akan perbedaan-perbedaan itu. Salam buat keluarga ya mbak :)

      Delete
  6. sukses ya mbak GA nya
    kisah perjalanannya sangat menarik dan membahagiakan

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih, Mbak Lisa..
      alhamdulillah.. saya insya Allah semua yang diberikan oleh Allah akan syukuri, Mbak..

      sukses juga buat mbak Lisa :)

      Delete
  7. kunjungan perdana :) happy blogging

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih ya atas kunjungannya :) salam kenal :)

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.

Kumpulan Emak Blogger

HALO BALITA


Ibu-ibu Doyan Nulis


Followers

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Alexa Rank

© 2016 DeKa | Powered by Blogger | Template by Enny Law