Sunday, 20 January 2013

PRASANGKA


(ini tulisan yang pernah saya posting di wall IIDN-Interaktif) 

“Lho, mereka ada di rumah kok Bu.”
“Lho, emang iya? Oh saya kira mereka sudah mudik, kok pintu rumahnya tertutup rapat.”
“Sudah dua tahun ini mereka selalu begitu. Tiap hari raya Idul Fitri malah pintu rumahnya ditutup. Gak tau tuh, Bu. Orang aneh!”
Itulah percakapan saya dengan bu Erwin, tetangga saya yang sedang silaturahim ke rumah saya, setelah kami melaksanakan sholat Idul Fitri. Tetangga saya itu membicarakan tetangga kami yang lain, sebut saja namanya bu Anwar, yang menurut beliau agak berbeda dengan tetangga-tetangga yang lain. Saya yang orang baru di lingkungan itu hanya manggut-manggut saja mendengarkan kalimat-kalimatnya yang meluncur deras memenuhi telinga saya dengan info-info tentang tetangga-tetangga kami.

Saya kaget, bu Anwar yang selama ini saya kenal baik ternyata kok ‘seperti itu’. Rasanya aneh memang, biasanya, setahu saya, setelah sholat Idul Fitri orang-orang selalu berkeliling, saling bersalaman, saling mengucapkan selamat hari raya, atau bermaaf-maafan. Tentu saja pintu rumah juga terbuka lebar untuk menerima para tamu.
“Eh...., mbok ya ke luar sebentar, ketemu tetangga-tetangga dekat, salam-salaman, gitu kan bagus to, Bu,” tambahnya lagi.
Njenengan tau Bu, kadang anak-anaknya itu main ke rumah, ada makanan apa ya saya kasih. Sepeda motor saya itu Bu, selalu tersedia buat mereka. Wong sepeda motor mereka cuma satu, lha bu Anwar itu kalo jemput anak kan bolak-balik, ya pinjem sepeda motor saya. Sepeda motor mereka ya kadang lagi dipakai sama pak Anwar. Gitu kok hari raya aja gak mau keluar. Bukannya saya mau dimintai maaf, eh..., saling mengucapkan minal aizin wal faizin lah...” curhat bu Erwin.
Saya hanya senyum-senyum mendengar cerita panjang lebarnya, sambil terus berpikir kalau bu Anwar itu ternyata kok ‘seperti itu’. Tapi diam-diam saya mulai merasa tidak enak. Bukankah hari ini hari yang suci? Kenapa malah dinodai dengan menggunjing orang lain? Mau menegur saya tidak berani, saya alihkan pembicaraan, beliau balik lagi ke topik itu. Akhirnya saya hanya bisa berdoa semoga beliau kehabisan kata-kata dan setelah itu pulang... Hehehe... (dan semoga segera disadarkan kalau menggunjing orang lain itu dosa).
Setelah bu Erwin pulang, saya menemui suami saya yang sedari tadi ada di dalam kamar, tidak ikut ngobrol bersama kami.
“Bi, ternyata kok gitu ya bu Anwar.”
“Gitu gimana?”
“Lho abi tadi gak denger to brolan kami?”
“Ngapain didengerin. Wong nggosip kok didengerin. Yang nggosip dan yang dengerin sama-sama dosa lho. Lagi Idul Fitri pula.”
Astaghfirullah..., saya dosa ya bi? Lha mau gimana lagi, bu Erwin yang ngajak ngobrol seperti itu.”
“Kita harus bisa berpikir jernih, jangan berprasangka buruk dulu sama orang lain. Mungkin tentangga-tetangga berpikiran negatif tentang bu Anwar. Tapi coba kita berada di posisi bu Anwar dan keluarganya, apa kita bisa survive dengan keadaan mereka? Lagi pula, mungkin mereka sedang ada permasalahan yang kita tidak tahu, hingga mereka mengambil sikap seperti itu?” jelas suami saya, mengagetkan saya untuk yang kedua kalinya, setelah tadi saya kaget dengan cerita bu Erwin.
Kali ini saya kaget, sekaligus perlahan-lahan mulai sadar, tak seharusnya saya suudzon (berprasangka buruk) kepada orang lain hanya karena mendengar cerita-cerita dari orang lain. Ternyata sedari tadi saya bagai terbius dengan cerita bu Erwin, hingga tak bisa berpikir melawan arus. Apapun permasalahan bu Anwar dan keluarga, biar mereka yang simpan. Saya tak perlu tahu, karena itu urusan pribadi mereka. Apapun sikap mereka, saya tak perlu berburuk sangka, karena saya tak tahu apa alasan mereka menampilkan sikap seperti itu. Lebih baik positif thinking, mencari prasangka yang baik yang bisa menenangkan pikiran.
Bu Anwar itu punya anak lima, yang sulung bersekolah di SMA, yang tiga masih SD, sedang yang paling kecil masih berusia dua tahun. Dulu, suaminya sukses dalam usahanya, beliau juga sukses dalam karirnya sebagai wanita karir. Beliau tetap bekerja meski telah memiliki beberapa anak. Pembantu yang ikut membereskan pekerjaan rumah tangganya. Tetapi belakangan ini usaha suaminya bangkrut, hingga suaminya itu kini menjadi pekerja freelance, tak menentu penghasilannya. Sedang beliau sendiri beberapa bulan yang lalu telah berhenti bekerja karena sudah tidak mempunyai pembantu lagi. Tapi di rumah beliau tidak tinggal diam, beliau cukup kreatif membuat bermacam-macam kerajinan tangan untuk menambah penghasilan keluarganya.
Astaghfirullah, kenapa saya tadi tak bisa berpikir seperti suami saya? Toh tidak semua yang dikatakan orang lain tentang bu Anwar itu benar. Hidup manusia itu ada pasang surutnya, kadang manis kadang pahit. Kadang kita harus berjuang mati-matian agar anak-anak tetap bisa tersenyum bersama teman-teman mereka, tak ada rasa rendah diri dalam pergaulannya.
Menjadi orang yang terdiskriminasi itu sulit. Pernahkah kita membayangkan jika kita berada di posisi mereka? Saya menelan ludah, dan air mata ini mengalir sendiri, membayangkan betapa berat rasanya jika orang-orang di sekitar memandang sinis kepada kita, atas keadaan kita. Mungkin ada yang tersenyum sinis di kala kita terjatuh, berprasangka buruk atas sikap-sikap kita yang tidak wajar. Mereka tidak tahu betapa ada permasalahan besar dalam diri kita, rumah tangga kita, dan kita berusaha tetap tersenyum di depan mereka.
Semoga kita tidak mudah berprasangka buruk kepada orang lain, karena hanya akan menambah dosa. Dan negatif thinking itu tidak sehat kan? Akan merusak pikiran dan hati. Toh setiap orang pasti mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing, jadi tak perlu meneliti kekurangan orang lain, lihat saja dirimu! Hehe... Di sisi lain, semoga Allah SWT selalu menjaga lisan kita agar tidak tergelincir dalam nikmatnya ghibah/menggunjing/bergosip ria. Sebab kalau sudah menggunjing orang lain, biasanya, akan lupa waktu dan lupa iman. So, hati-hati jika mulut kita ini mulai bergosip ria. Stop, sudahi pembicaraan, ingat Allah SWT :)

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung :)
Saya akan senang jika teman-teman meninggalkan komentar yang baik dan sopan.
Mohon maaf komentar dengan link hidup akan saya hapus ^^.

Kumpulan Emak Blogger

HALO BALITA


Ibu-ibu Doyan Nulis


Followers

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Alexa Rank

© 2016 DeKa | Powered by Blogger | Template by Enny Law